Pengalaman Perempuan Dosen: Di PHK Karena Kritis Dan Siasat Paska Dipecat


Tahun 2019 merupakan tahun yang tidak menguntungkan bagi saya. Saya dipecat sebagai dosen di tempat saya mengajar karena dinilai kritis. Protes dan pembelaan yang dilakukan para mahasiswa terhadap saya, ternyata tak membuahkan hasil. Saya tetap dipecat. Situasi pemecatan ini semakin sulit saya jalani di masa pandemi. Karena itu saya harus selalu kreatif di masa sulit

Khara- Konde.co

Pemecatan, bagi banyak orang tentu adalah  ‘musibah’ yang tentunya merupakan situasi menyesakkan. 

Saya adalah seorang seniman yang pernah bekerja sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta ternama di wilayah Selatan Kota Kembang. Saya harus kehilangan pekerjaan sebagai dosen bukan karena dampak Covid-19, namun karena diberhentikan secara sengaja. 

Kisah ini pernah dituliskan dan dimuat di konde.co dengan tajuk: Catatan Perempuan Dosen Melawan Kesewenangan di Kampus https://www.konde.co/2020/06/catatan-perempuan-dosen-melawan.html

Pemecatan itu dilakukan karena saya dianggap berani mengutarakan ketidaksetujuan terhadap kebijakan kerja atasan laki-laki yang menjabat sebagai Kepala Program Studi (Kaprodi) saat itu. 

Saya memang satu-satunya dosen perempuan di antara enam dosen laki-laki termasuk Kaprodi, yang berada dalam satu tim prodi. Apakah karena saya perempuan yang berani mengungkapan pendapatnya, sehingga posisi saya lebih rentan? Apakah ini karena Kaprodi yang laki-laki merasa terintimidasi oleh perempuan yang berani mengutarakan pendapatnya? Sehingga sayapun tidak dibela oleh dekan yang saat itupun seorang laki-laki. 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memenuhi pikiran saya, namun saya enggan menemukan jawabannya. 

Sebagai perempuan, saya berhak mengutarakan pendapat dan ketidaksetujuan, sekalipun posisi saya adalah bawahan. 

Namun sejak pemecatan saya, saya juga dengar pada akhirnya, Kaprodi tersebut diturunkan dari jabatannya melalui tuntutan petisi mahasiswa, karena mahasiswa selama ini telah sangat kecewa terhadap kinerja Kaprodi. Drama selengkapnya bisa dibaca di artikel yang disebutkan di atas. 

Lantas, bagaimana menghadapi ‘petaka’ hidup yang tak terduga yang bisa terjadi kepada siapapun?. Bagaimana mengendalikan emosi psikologis demi menjaga kesadaran. Kehilangan pekerjaan karena dipecat, atau karena akibat apapun, berarti tidak ada lagi pemasukan ekonomi secara reguler?. Selain itu, bencana global covid tentunya berdampak juga kepada para pekerja seni, karena banyak kegiatan seni yang dibatalkan. 

Mengubah ‘Kesulitan’ (Keterbatasan) Menjadi ‘Peluang Baru’

Sejak Januari 2020, secara resmi saya sudah tidak lagi menerima gaji bulanan yang biasa saya terima dari kampus tempat saya mengajar selama 3.5 tahun. 

Apakah saya panik? Reaksi saya biasa saja. Sebagai seniman lepas (independen), saya sudah terbiasa hidup tanpa gaji bulanan. Justru menjadi ‘buruh akademik’ adalah kebiasaan ‘normal baru’ bagi saya. 

Konsekuensi sebagai ‘buruh akademik’, karena digaji bulanan adalah harus menyesuaikan diri dengan ritme kerja rutin kantoran, yaitu setiap hari harus berangkat ke kantor, dalam hal ini ke kampus. Penghasilan tetap yang saya dapatkan tiap bulan, tentunya lebih menenangkan hidup, tidak ketar-ketir seperti saat saya murni sebagai seniman. 

Semasa tidak mempunyai pendapatan  rutin, yaitu sebelum menjadi dosen, saya akui saya memang lebih kreatif dan produktif menciptakan peluang yang mampu memenuhi kebutuhan ekonomi. 

Takdir adalah sesuatu yang tidak dapat kita hindari, dan sebaiknya diterima dengan ikhlas. Akibat dari kehilangan pekerjaan ini, saya berusaha menyesuaikan diri dari ‘zona nyaman’ karena mendapat pendapatan finansial secara rutin, untuk kembali menjadi ‘liar’ dalam mengupayakan rejeki. 

Selama tidak lagi mengajar, dengan kondisi bekerja dari rumah, saya berusaha untuk tetap produktif menggali kreativitas dengan fokus berkarya. Hal ini adalah demi menjaga kestabilan emosi dan kesadaran. 

Saya beruntung mempunyai teman yang bekerja sebagai ilustrator, mempercayakan kepada saya untuk mencoba menulis cerita anak. Juga seorang teman dosen yang mengajar di tempat yang sama saya mengajar, mempercayakan kepada saya untuk membantu proyek penelitiannya. 

Kedua pekerjaan ini, tentunya memberikan tambahan penghasilan, walau hanya cukup untuk bertahan hidup sesederhana mungkin. Selain itu, saya pun berupaya untuk aktif berpartisipasi dalam program solidaritas seniman, yang diinisiasi oleh para pemerhati seni, yang bertujuan untuk membantu seniman di masa resesi pandemi. 

Belajar ikhlas menerima kenyataan, adalah salah satu cara untuk mengendalikan diri.  Berpasrah kepada Sang Illahi memohon petunjuk agar dibukakan jalan untuk menjemput rejeki, adalah cara yang bijak demi ketenangan bathin. 

Alih-alih mengeluh, maka sebaiknya mengubah keterbatasan (kesulitan) menjadi peluang baru. Kebetulan saya suka membaca dan terpikir untuk memulai usaha penjualan buku secara daring (online). 

Saya memulainya dari nol, yaitu dengan berat hati menjual koleksi majalah seni  kesayangan milik pribadi. 

Awalnya melalui akun instagram, lalu mempelajari sistem penjualan di marketplace. Perlahan saya mencari penerbit yang menerbitkan buku-buku yang masih dekat dengan profesi dan pekerjaan saya, yaitu buku-buku referensi pendidikan, seni, budaya, sastra, arsitektur, desain. 

Setelah menjalani ini sejak Juni 2020, ternyata saya mendapati bahwa penerbit buku independen dan toko buku daring menjamur, terutama di Jogjakarta. Saya mulai menikmati pekerjaan ini, yang ternyata bisa mencukupi kebutuhan harian. 

“……..- a woman must have money and a room of her own if she is to write fiction;…..” – Virginia Woolf, A Room of One’s Own.

Mengutip pernyataan dari Virginia Wolf – seorang penulis perempuan asal Inggris, dan merupakan tokoh terbesar sastra modern dari abad 20 – bahwa seorang perempuan harus mandiri secara finansial dan mempunyai ruangnya sendiri untuk bisa terus berkarya. 

Saya sangat mendukung pernyataannya bahwa perempuan harus berani mengupayakan sendiri kemandirian ekonomi dan sosialnya, baik ia masih melajang ataupun sudah berkeluarga. Selain itu perempuan harus mempunyai kemandirian (kebebasan) berbicara atau mengutarakan pendapat. Dengan demikian perempuan bisa bertahan hidup dalam setiap kondisi.  Walaupun mengutarakan pendapat tentunya harus siap menerima segala resiko yang akan terjadi, namun itu lebih baik daripada tidak memberi perubahan samasekali.   

Kutipan tegas dari budayawan Emha Ainun Najib:”Hanya ikan mati dan sampah yang terbawa arus”. Saya bukan ikan mati dan menolak untuk menjadi sampah, maka saya berani untuk mengutarakan pendapat. 

Pekerjaan sebagai dosen  dan seniman tentunya membanggakan, keduanya menuntut intelektualitas dan kreativitas. Lalu saat kondisi mengharuskan saya menjadi penjual buku, apakah lalu saya merasa rendah diri atau malu? Saya bangga dan menikmati profesi baru ini. Menjual buku berarti juga membantu menyebarkan ilmu dengan cara yang berbeda. 

Pekerjaan yang lebih halal daripada menjadi pengajar yang kurang amanah.  Namun apabila ada kesempatan untuk mengajar kembali di lingkungan yang lebih baik dan amanah, tentunya saya siap mengajar kembali.  

Sharing, Ruang dan Waktu yang Tepat

Sehari-hari selama bekerja dari rumah dan tidak (belum) lagi mengajar, memberi saya banyak waktu untuk merenung dan memawas diri dan menyadari bahwa manusia tidaklah sempurna.  

Secara pribadi sayapun mengakui masih  banyak kekurangan yang harus saya perbaiki. Salah satunya adalah cara berkomunikasi dan menyampaikan pendapat agar maksud dan tujuan tersampaikan bahkan terlaksana secara baik dan benar. 

Awal September 2020, Bapak Jacob Oetama, Pemimpin Umum Harian Kompas, meninggal dunia. Beliau adalah seorang besar yang sangat dihormati, tentunya banyak sekali yang menulis kisah tentang beliau. Saya ‘terbangun’ dengan pesan (kutipan) dari almarhum,  yang saya dapatkan dari  tulisan singkat seorang wartawan senior Kompas di media sosialnya :  “Fortiter in re, suaviter in modo:”  yang artinya “Teguh dalam prinsip, lentur dalam cara.”

Pesan ini begitu mengena mengingat pengalaman yang saya alami. Setiap orang boleh saja berpegang teguh pada prinsipnya namun selayaknya disampaikan dengan cara yang rendah hati dan tidak kaku. 

Semoga dari pengalaman ini, semua bisa memperbaiki diri demi masa depan yang lebih cerah.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Khara, adalah nama pena. Seniman lepas penikmat kopi, suka menulis, mantan dosen yang menjadi penjaja buku. 

 

 

 

 

 

 

 

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email