Yuk, Lindungi Kita Dari Pasangan Toxic: Cinta Cuma Sekedar Simbol

Sejumlah orang bisa saja terjebak dalam cinta. Tunggu dulu, kita bisa keluar dari sana. Apalagi jika ada pasangan yang mengatasnamakan cinta namun melakukan kekerasan, tentu kita tak mau terjebak disana

Honing Alvianto Bana- Konde.co

Banyak orang mengatakan kita jangan terjebak pada cinta yang toxic. Toxic relationship adalah situasi dimana hubungan personal yang dimulai dengan berlandaskan cinta, namun malah membawa energi negatif dalam kehidupan kedua pihak yang terlibat

Dan ini mungkin adalah tentang perlindungan diri saya dari toxic relationship. Karena yang penting bagi saya, sesungguhnya, ketika jatuh cinta, saya percaya kita sedang jatuh cinta pada simbol yang melekat pada seseorang. Bukan pada “diri” orang tersebut. 

Dibalik simbol-simbol itulah, kita mendapatkan sensasi. Mungkin ini yang membuat saya selalu sadar, berusaha untuk rasional dan tak mau terjebak dalam relasi toxic 

Apakah sensasi dibalik simbol yang melekat pada seseorang itu benar-benar nyata?  Menurut saya tidak ya! 

Saat jatuh cinta,  kita sesungguhnya jatuh cinta pada sebuah gambaran,  pada konsep tentang seseorang. Kita menciptakan “orang” itu di dalam kepala kita. Lalu, kita merasa bahwa “ia”benar-benar nyata. Padahal, “ia” yang nyata pasti berbeda dengan “ia” yang kita bayangkan. 

Banyak orang berpikir bahwa apa yang mereka bayangkan  adalah sesuatu yang nyata dan abadi. Padahal setiap orang punya  potensi untuk melakukan sesuatu, mengubah cinta dengan kekerasan, mengubah cinta dengan penaklukan. Ini yang banyak membuat orang lain jadi depresi, kecewa, putus asa dan lain sebagainya. 

Sebab cinta lahir dari sensasi dibalik simbol-simbol yang diakui, maka kita perlu memahaminya dengan baik.  Buat saya, cinta adalah konsep yang ada di dalam kepala kita.  Ia datang dari gambaran  kita akan seseorang. Gambaran yang ada dan kita  bayangkan itu pun tak nyata. Ia bisa berbeda dan berubah-ubah.

Cinta tak tumbuh dari ruang kosong. Buat saya, ia hadir karena ada sesuatu. Oleh karena itu, menurut saya, cinta adalah sensasi yang kita dapatkan dibalik simbol-simbol yang mengitari seseorang. 

Dibalik simbol-simbol itulah, sensasi selalu hadir untuk menopang hasrat untuk mencintai. Contoh, Marten jatuh cinta kepada Maria karena pekerjaanya sebagai artis. Pekerjaan sebagai artis adalah simbol. Dibaliknya, ada sensasi yang membuat Marten jatuh cinta. Sensasi itu bisa pengakuan dari orang-orang terdekatnya. Atau, bisa juga, sensasi bahwa dengan hidup bersama Maria, maka kebutuhan dia kedepan bisa terpenuhi. 

Lalu, adakah simbol yang membuat Marten mencintai Maria? Tentu ada. Orang tak bisa jatuh cinta tanpa simbol. Maria tentu mempunyai simbol yang diakui oleh Marten. Begitu juga Maria pada Marten.

Lantas, adakah syarat seseorang jatuh cinta? Tentu ada. Syaratnya adalah simbol-simbol yang ada pada seseorang harus diakui oleh orang lain yang mencintai. 

Cinta selalu lahir dari sensasi yang kita dapat dibalik simbol-simbol yang melekat pada seseorang. 

Di saat inilah kita bisa bergerak atas nama cinta, cinta pada dirinya, cinta pada rasa ketidakadilan, cinta untuk menolak kekerasan.

Cinta hanya sekedar simbol, ia bisa dilawan dan ditolak jika itu merupakan bagian dari hal yang melecehkan dan melakukan kekerasan. Yuk, lindungi kita dari pasangan toxic!

(Ilustrasi: Pixabay)

Honing Alvianto Bana, Lahir di Kota Soe, Nusa Tenggara Timur. Suka membaca dan menulis. Tulisannya terdapat di beberapa media. Bisa disapa lewat akun facebook: Honing Avianto Bana

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email