Pekerja Rumah Tangga Yang Single Parent: Aku Sekolahkan Anakku Sampai Lulus Kuliah

Sebagai seorang single parent yang bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT), saya harus bekerja keras agar anak saya bisa kuliah. Saya ingin, anak saya bisa meraih cita-cita yang ia inginkan. Tak hanya bekerja sebagai PRT, saya kemudian juga membuat masakan dan kue-kue pesanan, semua ketrampilan ini saya pelajari di serikat pekerja dimana saya aktif disana.

Namaku Ponitiara. Aku seorang  single parent yang ditinggal oleh lelaki yang tidak bertangung jawab. Waktu itu tahun 1998 di bulan Juli, aku diantar pulang kampung karena kehamilanku sudah menginjak 7 bulan.

Aku diantar hanya sampai stasiun di kampungku saja dan tidak diantar sampai ke rumah. Waktu itu laki-laki itu bilang, karena dia harus cepat kembali lagi ke Jakarta untuk bekerja.

Sesampai di Jakarta, laki-laki itu berkirim surat, dalam suratnya ia mengatakan bahwa hubungan kami cukup sampai di sini saja!.

Bagaikan disamber petir di siang bolong, dalam kondisi hamil, aku dicampakkan, ditinggalkan begitu saja. Ini adalah cerita paling pahit di hidupku. Aku membayangkan, bayiku akan lahir tanpa ayah, hal-hal yang pasti akan banyak ditanyakan orang-orang di sekitarku:

”Bapaknya mana?.”

“Siapa bapaknya?.”

Bulan September bayi mungilku lahir. Kunamai ia Siska Dewi. Umur 1 tahun 8 bulan, Siska kemudian kutinggalkan di kampung dan diasuh orangtuaku karena aku harus bekerja kembali di Jakarta untuk mencari uang untuk kebutuhannya. Siska aku titipkan orang tua karena uang dan perhiasan simpananku sudah habis kujual untuk hidup kami selama ini di kampung.

Setelah itu, kembali kujalani hidupku merantau ke Jakarta. Bekerja lagi sebagai PRT agar setiap bulan bisa kirim uang untuk membeli susu dan makan bagi Siska. Kehidupan ini kujalani bertahun-tahun. Jika ada waktu libur, aku baru bisa pulang kampung untuk menengok Siska

Siska Wisuda: Babak Baru Hidupku

Waktu berjalan, tidak terasa Siska sudah tidak bayi lagi. Ia sudah masuk Sekolah Dasar/ SD karena waktu itu belum ada Taman Kanak-Kanak/ TK di kampungku. Saat aku sekolahkan di SD usianya baru 5 tahun, karena dari umur 4 tahun Siska sudah minta sekolah. Anak kecilku sudah minta dibelikan perlengkapan sekolah, lengkap dari baju, sepatu, tas dan buku semua bisa aku belikan.

Ternyata, dari sekecil itu anakku bisa mengikuti semua pelajaran di sekolahnya dan tidak pernah tinggal kelas. Kegembiraannya belajar tak pernah pupus. Semangat Siska kecil menjadi penghibur dan kekuatanku setiap saat dari hari-hari perantauanku di Jakarta

Ketika umur 10 tahun itulah, Siska mulai bertanya siapa dan di mana bapaknya, karena ia melihat banyak anak-anak di sekitarnya yang diantar bapak dan ibunya, sedangkan dia hanya punya aku, ibunya. Ini menimbulkan pertanyaan besar bagi Siska, wajar jika dia menanyakannya, walaupun ini sering membuatku sedih.

Aku jawab, nanti saat kamu dewasa mama akan ceritakan semuanya.

“Nanti kalau kamu dewasa, mama akan ceritakan apa saja yang telah terjadi pada mama dan kita,” kataku.

Tidak terasa Siska sudah masuk SMP, SMK dan kemudian ia masuk ke perguruan tinggi. Siska sudah kuliah, ia jadi mahasiswa, hal-hal yang tak pernah ada dalam pikiranku dulu, tapi ini terjadi. Dan aku sebagai ibunya bisa membiayai kuliahnya, betapa bahagianya perasaanku.

Siska kemudian memilih untuk kost di Yogyakarta. Awalnya memang waktu Siska minta kuliah, aku rasanya tidak sanggup. Tapi melihat Siska bersemangat menceritakan keinginannya untuk kuliah yang sangat menggebu, aku langsung mengiyakan karena tak mau membuatnya kecewa. Padahal sepeserpun aku tidak menyimpan uang saat itu.

Aku menemaninya  mendatangi kampus yang direkomendasikan oleh sekolahnya dan bertanya bagaimana cara bayar dan segala kebutuhannya. Dan, syukurlah, semua bisa dicicil. Uang pendaftarannya juga free karena dapat rekomendasi dari sekolahnya.

Namun ketika kembali ke Jakarta lagi. aku berpikir keras bagaimana harus membiayai kuliah anakku? dengan gaji yang dibawah Upah Minimum Regional/ UMR Jakarta,  anakku harus kuliah. Bagaimana caranya?

Kebetulah ketika itu aku sudah bergabung di organisasi Serikat Pekerja Rumah Tangga/ SPRT Sapulidi, jadi banyak teman yang kuajak untuk curhat dan berkeluh kesah tentang kesulitan yang kuhadapi. Aku cerita ke teman-teman persoalan yang aku hadapi ini

Walaupun aku banyak berlatih teater dan mendapat pendidikan disana, namun keberadaan koperasi di SPRT Sapulidi inilah yang sangat membantu kebutuhanku. Disana aku diajari memasak sekaligus membuat kue. Sejak itulah aku berani menerima pesanan masakan dan kue-kue. Hasilnya kutabung untuk biaya sekolah Siska

Seringkali ada pesanan untuk membuat nasi kotak dan kue. Biasanya kue yang sering dipesan itu seperti pastel, lemper, wajik. Dan kalau untuk sesama kawan PRT, mereka biasanya lebih banyak memesan nastar, kastengels dan putri salju. Memasak dan bikin kue inilah yang kemudian sangat membantu ekonomiku yang gajinya dibawah UMR, termasuk mendukung biaya sekolah anakku.

Dengan lika-liku hidupku, syukurlah anakku sekarang sudah lulus di perguruan tinggi. Anakku lulus D-3 atau program Diploma dan ini membuatku bangga. Seorang diri atau single parents mencari nafkah di Jakarta dan bisa menyekolahkan anak sampai tamat kuliah.

Anakku, Siska sekarang juga sudah bersamaku di Jakarta dan kami hidup berdua. Sekarang Siska juga sudah bekerja di Rumah Sakit di Jakarta Barat bagian administrasi. Walaupun Siska sudah bekerja, aku masih terus menerima pesanan untuk membuat kue-kue dan masakan lain.

Aku selalu bersyukur dengan kondisiku sekarang bersama anakku. Semoga tulisan pendek ini menjadi inspirasi dan semangat bagi yang lain.

(Selengkapnya bisa lihat di: tungkumenyala/blog)

Poni Tiara

Poni Tiara

Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang single parent, aktif di Sekolah Pekerja Rumah Tangga (SPRT) Sapulidi di Jakarta

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email