Aliansi Laki-Laki Baru, Pentingnya Keterlibatan Laki-Laki Melawan Patriarki

Apa pentingnya melibatkan laki-laki untuk melakukan stop kekerasan terhadap perempuan? Apakah memungkinkan mengajak laki-laki dimana mereka sudah terbiasa menjadikan budaya patriarki sebagai budaya mereka? Disinilah pentingnya kelahiran Aliansi Laki-Laki Baru/ ALB. Organisasi ALB lahir sebagai tanda bahwa di Indonesia, ada laki-laki yang serius melawan patriarki

Lahir di tahun 2009, Aliansi Laki-Laki Baru (ALB) hadir karena keprihatinan para laki-laki terhadap banyaknya kekerasan yang dialami perempuan.

ALB didirikan oleh para aktivis yang kala itu bekerja di LSM perempuan seperti Rifka Annisa dan Jurnal Perempuan, 2 organisasi yang beberapa staf nya merupakan laki-laki yang peduli para perempuan.

Kala itu ada Nur Hasyim, Aditya, Eko Bambang Subiantoro, Syaldi Sahude. Yang lainnya ada  Mariana Amiruddin, Siera Rindra dan Syafirah Hardani yang kemudian mendirikan ALB

ALB kemudian hadir sebagai gerakan baru dan menjadi simbol yang menyatakan bahwa: Hei, di dunia ini ada laki-laki yang serius untuk melawan patriarki yang selama ini banyak dilakukan kaumnya!

Ini merupakan catatan penting dari diskusi Gerakan Laki-Laki Pro-Feminis yang diadakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, UNFPA, Aliansi Laki-Laki Baru bersama sejumlah lembaga seperti CIS Timor, PKBI, Cahaya Perempuan, Rifka Annisa dan Pulih melalui daring pada 3 November 2020

Dalam perjalanannya, ALB menjadi organisasi yang sifatnya sangat cair, tak mau menerima dana dari donor dan mulai membentuk platform untuk mengajak laki-laki agar mau melakukan gerakan kolektif untuk stop kekerasan perempuan

Dalam konten-kontennya di website dan sosial media, ALB kemudian juga menghimpun informasi dan memberikan ruang bagi laki-laki untuk membuat tulisan tentang stop kekerasan perempuan

Dalam gerakan kolektifnya, ALB juga menginisiasi gerakan-laki-laki baru di beberapa daerah di Indonesia. Sebut saja di Papua, Riau dan NTT.

Ada sebuah organisasi, CIS Timor di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kemudian bersama ALB menginisiasi pendirian organisasi laki-laki baru disana.  Disinilah CIS Timor kemudian mulai melakukan kampanye: We Can. Kampanye ini merupakan ajakan sekaligus penegasan bahwa laki-laki bisa menghormati perempuan dan menghargai pasangannya.

Dari sinilah mereka kemudian mengajak teman sesama laki-laki untuk berkampanye soal menghargai perempuan dan tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan melalui janji perkawinan.

Misalnya inilah janji laki-laki baru dalam sebuah upacara perkawinan di Kupang, NTT:

“Saya berjanji untuk bertanggungjawab terhadap diri sendiri, istri dan anak. Janji tidak melakukan  kekerasan seksual dan peduli terhadap kesehatan reproduksi, Janji akan melakukan pekerjaan domestik seperti memasak, cuci piring, cuci pakaian. Dan menjadi laki-laki baru, laki-laki sejati.”

Janji ini harus diungkapkan di depan tamu undangan dan masyarakat umum dalam upacara perkawinan mereka. Jika sudah diucapkan, tak selesai sampai disana, CIS Timor akan mengawasi apakah ada kekerasan dalam rumah tangga setelah pernikahan tersebut?

Memang tak mudah menjadi laki-laki baru, di Timor dalam wawancara Konde.co dengan organisasi CIS Timor yang dilakukan di tahun 2017, secara konstruksi budaya, mereka biasa memerintah perempuan dan ibu di rumah. Mereka tak mau membantu pekerjaan rumah tangga, tak serius sekolah, hanya bermain-main saja hidupnya dan juga sangat senang memainkan perasaan perempuan. Maka gerakan ALB menjadi efektif untuk tumbuh dalam konstruksi budaya seperti ini

Feby R. Ramadhan adalah salah satu mahasiswa yang kemudian tertarik untuk melakukan penelitian tentang Aliansi Laki-Laki Baru (ALB). Ia melakukan penelitian tentang resistensi terhadap kekerasan perempuan dan praktik gerakan sosial ALB.

Dalam penelitiannya, Feby dalam diskusi tersebut memaparkan bahwa ia menemukan bahwa ALB memang berkomitmen dalam mengubah konstruksi sosial yang patriarki

“Jika maskulinitas dan patriarki adalah konsntruksi sosial, maka ALB dalam pendiriannya selalu yakin bahwa ini semua bisa diubah.”

Maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana ALB memaknai kekerasan terhadap perempuan dan apa yang dilakukan ALB untuk mendekonstruksi wacana laki-laki adalah pelaku kekerasan terhadap perempuan?

Metode penelitian ini dilakukan Feby selama 13 bulan  yaitu Mei 2016-Mei 2017 dengan melihat kegiatan ALB, melakukan wawancara, studi dokumen dan studi media.

Feby melihat ada ragam pemaknaan atas kekerasan terhadap perempuan oleh ALB, maka penting bagi ALB untuk memikirkan pelibatan laki-laki.

“Yang saya temukan dalam penelitian ini, ALB yakin bahwa pemaknaan terhadap kekerasan perempuan itu sangat heterogen, namun ALB percaya bahwa proses Ini harus terus dilakukan karena gerakan ini penting dan harus ajeg atau rutin dilakukan.”

Peneliti lain yang melakukan penelitian terhadap ALB dan memaparkan hasilnya dalam diskusi tersebut adalah Elisabeth Windy. Elisabeth meneliti representasi male feminist melalui media sosial twitter @laki-lakibaru yang merupakan studi etnografi virtual.

Representasi male feminis di media sosial dalam akun twitter aliansi laki-laki baru ini juga sangat penting untuk melihat bagaimana dalam twitter, ALB menghapus stereotype laki-laki.

Stereotype yang mencoba dihapus itu antaralain: laki-laki tak boleh menangis, laki-laki tak boleh berdandan, laki-laki tak harus peduli dengan urusan rumah, laki-laki boleh melakukan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan

“Selain itu di twitter, ALB juga memberikan konsep setara dalam kehidupan perempuan seperti laki-laki tak boleh bercanda secara seksis, harus peduli pekerjaan rumah, dll. “

ALB juga memberikan solusi, mempunyai argumen dan berbasiskan data dalam twitter tersebut

Maka Elisabeth Windy memberikan rekomendasi tentang pentingnya makin banyak laki-laki feminis di media sosial, karena nilai-nilai ini penting untuk menjangkau banyak orang

Ira Larasati, peneliti dari Universitas Diponegoro Semarang juga tertarik untuk melakukan penelitian soal ALB dalam membongkar konstruksi maskulinitas. Penelitian ini dilakukannya di tahun 2019.

Penelitian menemukan sejumlah rekomendasi seperti jaringan aksi kolektif penting untuk dibentuk banyak laki-laki untuk menyebarkan ide dan gagasan untuk memperluas jaringan kesetaraan agar lebih populer di  mata laki-laki.

Aktivis perempuan dan peneliti sejarah, Ita Nadia dalam diskusi tersebut menyatakan, dari sejumlah penelitian ini penting melihat seperti apa maskulinitas laki-laki dalam konteks kekinian? Maka penelitian-penelitian ini harusnya bisa menjadi peta bagi ALB untuk membaca gerakan selanjutnya yang harus dilakukan

Penelitian Ira Larasati menurut Ita Nadia seharusnya bisa dibaca untuk memetakan konteks maskulinitas dalam kesejarahan Indonesia, karena memetakan problem maskulinitas dan bentuk-bentuknya ini penting untuk diketahui.

“Bagaimana maskulinitas sekarang dilhat dari adat, budaya, tradisi dan respon pemerintah?,” kata Ita Nadia.

Ita Nadia memberikan masukan agar Ira Larasati mencoba memetakan konsep maskulinitas ini dalam kelokalan Indonesia

“Dalam membongkar maskulinitas ini sudah sampai mana? Karena penting untuk mengetahui sejauh mana ALB sudah melakukan gerakannya dalam konteksi kekinian diantara paham maskulinitas di Indonesia?.”

Ita Nadia juga melihat bahwa penelitian yang dilakukan Elisabeth  penting untuk membangun strategi baru di media sosial bagi ALB.

“Ini penting untuk ALB agar selalu menjadi gerakan solidaritas dan empati dan melakukan konektivitas melalui sosial media. Ini merupakan petunjuk dan strategi untuk ALB dalam masuk di dalam gerakan ke depannya.”

Penelitian Febi merupakan otokritik untuk merefleksikan ALB ini mau kemana? ALB sudah saatnya memikirkan politic of location.

“Bagaimana kita membaca tentang simbol-simbol persoalan di sekitar kita melalui kacamata dari mereka yang terpinggirkan dan saling berkaitan dengan negara, lokal, budaya dan agama yang selama ini menjadi bagian dari hidup perempuan.”

Walaupun ada yang meragukan: benarkah laki-laki bisa benar-benar meninggalkan dunianya yang membentuknya menjadi patriarki? namun gerakan laki-laki baru dalam kelahirannya menjadi sesuatu yang sangat penting untuk lebih meluaskan gerakannya dan mengajak keterlibatan laki-laki dalam melawan dunia yang patriarki, karena tak hanya perempuan yang bisa melawan kekerasan, laki-lakipun harus bisa melawan konstruksi maskulinitas yang membangun mereka selama ini

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Luviana Ariyanti

Luviana Ariyanti

Setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar ilmu komunikasi di sejumlah universitas di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email