Kenapa Kita Harus Bersimpati pada Nikita Mirzani?

Buat saya, sosok Nikita Mirzani bisa menjadi ikon “pemberontakan” sekaligus kepedulian pada kemanusiaan. Bukan ingin mengglorifikasi Nikita, tapi yang dilakukan Nikita adalah sesuatu yang penting. Nikita sadar betul punya modal sosial dan jaringan, sehingga bisa dengan lantang menyuarakan keresahannya, keberatannya, bahkan pendapat pribadi atas ketidakberesan di sekitarnya termasuk ketika ia menjadi korban kekerasan.

Beberapa hari lalu, sumpah serapah terlontar dari mulut Soni Eranata alias Maaher At-Thuwailibi pada artis Nikita Mirzani. Tak cukup memaki, penceramah asal Medan itu juga mengancam akan mendatangkan 800 orang untuk menggeruduk Nikita di kediamannya jika ia menolak minta maaf pada publik karena mengeluhkan beberapa ruas Jakarta yang lumpuh, karena rombongan Rizieq Shihab memadati jalan raya dari Subuh hingga tengah hari demi menjemput Imam Front Pembela Islam/ FPI tersebut.

Di Instagram pribadinya, Nikita berujar, “Gara-gara Habib Rizieq pulang sekarang ke Jakarta, penjemputannya gila-gilaan, nama habib itu adalah tukang obat, screenshot!”

Massa terbelah, ada yang mengecam pernyataan Nikita, tapi sebagian yang lain justru membelanya.

Maraknya dukungan publik atas yang dilakukan Nikita punya dua makna yang saling berkelindan. Pertama kita mungkin merasakan kemarahan serupa seperti yang dialami Nikita karena aktivitasnya terganggu. 

Seorang kawan saya bercerita, ia yang mestinya bekerja dari rumah terpaksa masuk kantor di Bandara Soekarno Hatta, terpaksa menjalani tes usap corona karena harus berjibaku menghadapi die hard Rizieq yang berjubel tanpa masker, dan terjebak macet hingga berjam-jam. 

Kawan yang lain mengeluarkan serapah serupa karena klien bisnisnya membatalkan pertemuan di Jakarta lantaran ogah berurusan dengan massa Front Pembela Islam/ FPI. Bayangkan juga para ojek daring yang tak bisa mengambil order karena lalu lintas yang macet total. 

Kemarahan Nikita dalam hal ini sebenarnya mewakili keresahan sebagain besar orang Jakarta yang turut terdampak aksi heroik penjemputan  Rizieq Shihab dari Saudi ini. Hanya saja, seperti yang ditulis di media sosial lewat tagar #kitanikita, tak banyak yang mau vokal mengeluarkan uneg-uneg di kepalanya. Sebagian lebih memilih bisik-bisik, sebagian sisanya menyindir tipis-tipis di akun media sosial mereka. Nikita lah yang memuntahkan kemarahan berjamaah kita secara terang-terangan.

Sebab kedua, kemarahan yang belum tuntas terbayar itu diperparah dengan makian beruntun dari Maaher kepada Nikita sebagai: penjual selangkangan. 

Tak harus jadi fans Nikita untuk marah ketika perempuan lain dirisak dengan makian ngawur semacam itu. Saya saja bisa ngamuk-ngamuk ketika ada orang lain memaki saya secara membabi buta: kenapa sebutan perempuan buruk dan amoral harus selalu dilekatkan dengan profesi PSK atau pekerja seks? Padahal banyak dari PSK bekerja karena tuntutan ekonomi, demi menyekolahkan anak, demi mengobati orang tua yang sakit, demi bertahan hidup. 

Jadi buat saya dan mungkin buat massa yang membela Nikita, makian Maaher jelas tak pada tempatnya.

Terlepas dari dua sebab itu, sosok Nikita sendiri memang lebih mudah menjadi ikon “pemberontakan” sekaligus kepedulian pada kemanusiaan. Bukan ingin mengglorifikasi dirinya, tapi kita tentu masih ingat, Nikita bukan perempuan yang sekali ini saja jadi perbincangan karena bersinggungan dengan orang lain karena hal-hal semacam itu. Ia sadar betul punya modal sosial dan modal jaringan, sehingga bisa dengan lantang menyuarakan keresahannya, keberatannya, bahkan pendapat pribadi atas ketidakberesan di sekitarnya termasuk ketika ia menjadi korban kekerasan. 

Kendati tak semua saya dukung, tapi saya selalu mengagumi keberaniannya mengungkap pengalaman sebagai penyintas kekerasan dari mantan kekasihnya, vokalis salah satu band di Indonesia. Ia pernah disiram air panas dan dipukul di bagian paha serta payudara. Kekerasan serupa juga ia alami ketika ia berelasi dengan mantan suaminya dan ia membaginya pada publik.

Sebagai seorang artis, ia juga tak ambil pusing ketika harus gagal di pernikahannya, menghidupi anak-anaknya seorang diri, atau dijadikan objek julid sana-sini. Ia tak ragu menunjukkan kecintaan pada tubuh sendiri dengan bertato dan berpakaian semaunya, tanpa memusingkan nilai-nilai sosial bahwa perempuan baik adalah semua kebalikan dari yang ditunjukkan Nikita: menikah, punya anak, berpakaian tertutup, tak bertato, atau memendam kekerasan dari orang terdekat demi alasan menjaga kehormatan. Nikita lagi-lagi tak sungkan membicarakannya.

Namun bukan itu saja yang ia punya. Dengan modal sosial dan jaringannya pula, ia cenderung mudah berempati pada orang lain. Diam-diam ia membangun masjid di Bandung dan Jogja, menggaji guru honorer di tingkat SD hingga SMA di Makassar dari kantongnya sendiri, menyantuni para pengemudi daring, membantu korban banjir bandang di Tangerang, hingga ikut membantu pembangunan kembali rumah korban gempa dan tsunami Sukabumi. 

Well-Behaved Women Seldom Make History

Sosok Nikita mengingatkan saya pada perempuan-perempuan yang mengilhami buku “Well-Behaved Women Seldom Make History” (2007) karangan Laurel Thatcher Ulrich, penulis peraih Pulitzer di bidang sejarah di 1991. 

Dalam bukunya, Ulrich menggunakan tiga karya klasik dalam feminisme Barat untuk mendukung tesisnya ini. Mereka adalah “Book of the City of Ladies” dari Christine de Pizan (1405); “Eighty Years and More” karya Elizabeth Cady Stanton (1898); dan “A Room of One’s Own”, berdasarkan dua ceramah yang diberikan Virginia Woolf pada 1928.

Tiga sosok perempuan itu sendiri dipilih karena dalam hemat Ulrich, mereka sama-sama membuktikan, kehidupan yang sulit dan hati yang sekeras baja lah yang membuat suara perempuan terdengar. Pizan, Stanton, Woolf sama-sama perempuan yang lahir dari sosok ayah intelektual dan ibu rumah tangga. 

Sayang, keperempuanannya membuat mereka tak bisa bersuara sekeras saudara-saudara lelakinya yang lain. Namun, bara pemberontakan itu tak pernah padam di diri mereka meskipun mereka telah menikah, menghadapi kehilangan, atau diremehkan orang lain. 

Pizan mulai memberontak terang-terangan setelah menemukan satire abad ke-15 yang berisi “cacian” terhadap perempuan seperti dirinya; Stanton marah karena buku-buku hukum yang ia baca hanya menetapkan hak-hak suami dan ayah atas istri dan anak perempuan mereka, boro-boro hak pilih perempuan; sedang Woolf marah setelah melihat “The Mental, Moral and Physical Inferiority of the Female Sex”, sebuah imajinasi sejarah yang mewakili apa yang dia temukan di ruang baca British Museum.

Seperti yang Ulrich tulis, ketiga perempuan dan beberapa perempuan lain di bukunya adalah pendobrak atas stereotipe bahwa mereka yang membuat sejarah adalah yang lekat dengan stereotipe perempuan baik-baik. Faktanya, sejarah baru justru lahir dari para perempuan ini. Ketiganya berhasil mendefinisikan ulang batas-batas keperempuanan melalui tinjauan yang sangat selektif di masa lalu.

Setidaknya setelah membaca buku Ulrich, alarm kesadaran saya berdengung kencang. Mana mungkin orang seperti Marjane Satrapi bisa menulis kritik yang sangat jujur di “Embroideries” dan “Persepolis” jika dia tak hidup sulit di tengah rezim Iran yang sangat male chauvinist. 

Bagaimana mungkin Kartini bisa menulis surat-surat yang begitu jernih soal di mana harusnya perempuan diletakkan sejajar kepada Abendanon jika ia tak merasai sendiri keterbatasan hidup sebagai perempuan Jawa dengan budaya feodal. 

Bagaimana pula aktivis lingkungan, Greta Thunberg tak diperhitungkan sebagai perempuan pendobrak di bidang iklim jika ia tak melewati hari-hari panjang membolos sekolah demi menyerukan pesan secara konsisten bahwa Bumi kita sedang sekarat. 

Melihat semua cerita perempuan itu, mendadak semua celotehan Nikita Mirzani jadi terasa masuk akal hari-hari ini.

Purnama Ayu Rizky

Purnama Ayu Rizky

Penulis, editor dan periset yang tengah merampungkan studi masternya di bidang gender dan politik Universitas Indonesia.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email