Mimpi Buruk Itu Bernama Rapat: Hanya Laki-Laki Yang Boleh Bicara

Mengapa perempuan lebih banyak diam dalam sebuah rapat atau meeting? sedangkan laki-laki lebih banyak bicara secara gegap gempita. Dari perspektif komunikasi, fenomena yang terjadi pada perempuan ini disebut pembungkaman (muting), yaitu perempuan hanya akan dihargai jika bergaya bicara dominan seperti laki-laki

Dalam sebuah rapat mingguan di suatu perusahaan, Pak Bos mendadak bertanya.

“Ini yang cewek-cewek mana suaranya ya? Kok pada diem aja?.” 

Para perempuan yang menjadi peserta rapat pun tersentak, ada yang membalas pertanyaan Pak Bos dengan senyuman, ada pula yang menyibukkan diri dengan menatap layar laptop.

Suasana rapat pun berubah hening hingga kemudian salah seorang staf perempuan memberanikan diri mengutarakan pendapatnya. Setelah panjang lebar menjelaskan pandangannya tentang rencana peluncuran produk baru perusahaan, Pak Bos kemudian menimpali.

“Oke, kita masuk ke agenda rapat berikutnya…”

Entah pendengaran saya yang terganggu atau memang hanya “bla bla bla” yang diucapkan Pak Bos selanjutnya. Mungkin begitu pula suara yang didengar oleh Pak Bos ketika staf perempuan tadi menjawab pertanyaannya.

Ini contoh lainnya. Satu kali, ada seorang karyawan baru yang diutus oleh atasannya untuk mengikuti meeting dengan tim teknis. Menyadari bahwa ia adalah satu-satunya peserta perempuan, menjelang rapat usai, salah satu anggota tim bertanya dengan nada menggoda.

“Gimana rasanya rapat sama lanang-lanang (laki-laki -red), mbak?”

Si anak baru pun menjawab “Ya gitu Mas, ada yang banyak baca, ada juga yang banyak bicara gak serius, ada yang berapi-api.”

Suasana pun hening seketika. Sayup-sayup terdengar suara “uhuk” tapi entah siapa yang lagi batuk.

Baru-baru ini, sebuah studi yang dilakukan oleh Brigham Young University dan Princeton University menunjukkan bahwa perempuan berbicara 75 persen lebih sedikit saat berada dalam kelompok yang mayoritas anggotanya adalah laki-laki. Ini bukan perkara kalah jumlah semata. Dalam forum yang jumlah anggota laki-lakinya lebih sedikit atau berimbang tapi suara mereka lebih dominan, perempuan juga cenderung tidak banyak bersuara.

Kata sumber gosip teranyar dan terpercaya di kantor, para karyawati lebih suka berkumpul di pantry. Banyak orang mengamini bahwa perempuan lebih doyan ngobrol dibanding laki-laki. Istilah “cerewet” juga lebih sering ditigmakan atau disematkan pada perempuan, kalau ada laki-laki yang cerewet seringkali dianggap anomali.

Lantas, mengapa para perempuan vokal tersebut mendadak bisu saat berhadapan dengan para laki-laki di ruang meeting atau forum-forum diskusi? Apa yang sebenarnya terjadi?

Banyak artikel yang mencoba menjelaskan mengapa perempuan lebih banyak diam dalam sebuah meeting. 

Beberapa data menunjukkan: perasaan grogi dan tidak percaya diri kerap menjadi alasan utama hingga kemudian si penulis memberikan tips agar perempuan lebih berani mengungkapkan pendapatnya di dalam forum.

Tapi, masalah sebenarnya bukan menyangkut pede gak pedenya cewek ngomong di ruang publik. Lebih dari itu, yang perlu dipertanyakan adalah apa yang membuat perempuan menjadi tidak percaya diri atau mudah panik saat harus berbicara di hadapan audiens laki-laki dalam situasi formal? Kurangnya rasa percaya diri pasti khan tidak ujug-ujug muncul begitu saja.

Beberapa bahasan mengaitkan masalah ini dengan karakter perempuan yang pasif, pemalu, mudah ragu saat dikonfirmasi, dan cenderung mengalah ketika dikonfrontasi. Rapat biasanya bisa dipandang sebagai arena kontestasi ide, para pesertanya berlomba-lomba unjuk kekuatan untuk sebuah gagasan. Kalau perempuan terus-terusan dipandang sebagai makhluk yang pasif atau sederhananya dibilang “dari sananya sudah begitu”, maka jangankan menang kontes, partisipasi perempuan untuk ikut dalam kontes itu saja sudah suatu keajaiban.

Bagaimana bisa leluasa menyampaikan pendapat, kalau sebelum masuk ruang meeting saja para perempuan sudah diberi label pasif dan pemalu?

Dari perspektif komunikasi, fenomena yang dimiliki perempuan ini disebut dengan pembungkaman (muting). 

Profesor di bidang komunikasi dan kajian gender, Cheris Kramarae mengungkapkan bahwa pembungkaman bukan berarti membuat perempuan benar-benar diam, tetapi membuat mereka tidak dapat mengemukakan apa yang ingin mereka katakan di mana pun dan kapan pun mereka ingin mengatakannya. Perempuan harus mengubah bahasa dan gaya bicaranya ketika mereka berkomunikasi di ruang publik sehingga pemikiran dan ungkapan yang sesungguhnya dari perempuan tidak dapat ditunjukkan secara orisinal dan utuh. Jadi mereka harus mengubah gaya dan ungkapannya seperti laki-laki

Kondisi ini senada dengan hasil survei Partners in Leadership yang menunjukkan bahwa perempuan masih berjuang untuk bersuara di dalam forum yang didominasi laki-laki.

Perempuan acapkali ragu untuk bersuara di dalam rapat karena merasa ide mereka tidak cukup baik, tidak ingin tampil terlalu mencolok dan terkesan agresif, merasa berada dalam posisi yang ‘tidak pantas’ berpendapat, serta takut melakukan kesalahan.

Perempuan yang berbicara di lingkungan kerja ibarat mereka sedang berjalan di atas seutas tali: jika tidak hati-hati, mereka akan jatuh. Oleh karena itu, perempuan menyesuaikan aspirasi mereka dengan percakapan yang ada, biasanya dengan strategi “tidak terlalu lembut tapi juga tidak kasar.”

Contohnya seperti mengakhiri pendapat yang tegas dengan pertanyaan yang bersifat afirmasi “… Bukan begitu?” atau menyelipkan candaan untuk menghindari ketegangan.

Kondisi ini juga lama-lama membuat banyak perempuan memilih untuk bungkam daripada merisikokan diri mengucapkan sesuatu yang salah di hadapan orang banyak.

Lalu, bagaimana jika perempuan yang jadi pemimpin di kantor tersebut? Studi yang dilakukan oleh psikolog Universitas Yale Victoria Brescool menunjukkan bahwa ketika eksekutif laki-laki lebih banyak bicara, mereka dipandang memiliki kompetensi lebih. Sedangkan saat eksekutif perempuan yang lebih banyak bicara, mereka dinilai memiliki kompetensi yang lebih rendah.

Survei yang dilakukan Harvard Business Review pada 7.000 karyawan dan 1.100 eksekutif perempuan juga menunjukkan hal serupa. Saat perempuan bersemangat menyampaikan opini atau gagasannya dalam rapat, rekan kerja laki-laki menganggapnya sebagai tindakan yang terlalu emosional.

Alhasil, ucapan perempuan seringkali diinterupsi dalam rapat, dengan pemotongan atau bahkan pengalihan topik pembicaraan. Seperti hasil riset McKinsey dan LeanIn.org pada tahun 2019, mayoritas perempuan di 329 perusahaan pernah diinterupsi saat berbicara dalam forum formal, 38 persennya juga merasa orang lain mengambil ide mereka karena orang tersebut lebih pandai bicara di ruang publik.

Mungkin beberapa dari kita pernah mengalami kondisi di mana ada rekan lain yang menimpali pendapat kita, seringnya diawali dengan nada persetujuan yang dilanjut dengan opini pribadi. Tapi, kemudian atasan kita justru mengapresiasi pendapat si dia. Kita yang lebih dulu berpendapat sepertinya tak kasat mata di ruang rapat.

Antropolog Shirley Ardener yang juga meneliti tentang gaya komunikasi laki-laki dan perempuan secara tegas menyatakan bahwa kebisuan perempuan merupakan pasangan dari ketulian laki-laki. Perempuan memang berbicara, tetapi kata-kata mereka jatuh pada telinga yang tuli.

Dalam benak kelompok dominan, ada plester yang melekat di mulut perempuan sehingga ketika mereka berbicara suara yang keluar terdengar seperti gumaman angin lalu.

Seiring berjalannya waktu, perempuan cenderung berhenti untuk mengemukakan pendapat dan bahkan mulai berhenti untuk memikirkannya. Contoh nyatanya adalah ungkapan seperti:

“Gw diem aja ah di meeting nanti” atau “Eh, di meeting nanti kita perlu ngomong gak sih?.”

Percayalah, ungkapan tersebut tidak bersifat alamiah apalagi naluriah. Ungkapan tersebut lahir dari pemikiran bawah sadar yang dikonstruksi oleh pihak dominan sejak sekian lama. Konstruksi tersebut juga mengandalkan sifat dasar manusia yaitu ketakutan (fear), lebih tepatnya ketakutan tidak diterima atau ditolak (fear of rejection) di lingkungan sosial.

Perempuan ‘dibiasakan’ untuk meragukan pemikirannya sendiri bahkan sebelum pemikiran tersebut diutarakan. Ditambah lagi adanya ketakutan yang membayangi bahwa jika mereka bersuara, maka hanya aka nada pengabaian dan penolakan yang akan diterima.

Maka banyak perempuan yang menganggap bahwa ruang rapat, ruang pertemuan adalah mimpi buruk bagi perempuan

Untuk para perempuan yang menganggap rapat sebagai mimpi buruk, jika kamu berada dalam sebuah forum yang didominasi oleh laki-laki, bicaralah. Pandanganmu sama pentingnya dengan para laki-laki yang suka mendengar suaranya sendiri.

Jangan ragukan dirimu sebelum bersuara. Utarakan isi pikiran dan perasaanmu di tempat dan waktu yang menurutmu perlu. Sejatinya, respon mereka terhadap pendapatmu bukan urusanmu dan juga bukan persoalan yang perlu dipikirkan melulu.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Nicky Stephani

Nicky Stephani

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Jaya, Jakarta. Suka mencermati dan mengkaji tema gender dan seksualitas

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email