Stop Body Shaming: Jika Saya Gemuk, Lalu Kenapa?

Saya dikenal sebagai orang yang bertubuh gemuk. Berat badan saya 80 kilogram. Banyak orang berkomentar tentang tubuh saya. Terkadang saya sering bersikap tenang saat mendengar celotehan itu, tetapi saya kemudian sering ovethinking saat malam hari dan kepikiran: kenapa tubuh saya seperti ini ya? 

Putih, langsing, tinggi, rambut lurus, putih mulus. Itukah tipe ideal perempuan yang dianggap cantik?

Bagaimana jika itu semua bukan sekedar perempuan yang dikonstruksikan cantik, tetapi cantik yang diinginkan oleh industri? Putih dengan pelembab pemutih, badan yang harus kurus dengan diet obat dan operasi sana-sini yang merusak badan?

Saya dikenal sebagai orang yang berkulit sawo matang, tinggi, dan gendut. Berat badan saya sekitar 80 kilogram. Apakah saya bisa menjalani hidup tenang tanpa adanya celoteh orang-orang? Tentu bisa, bahkan celotehan orang di sekolah maupun di tempat umum sudah saya anggap sebagai angin saja.

Namun, ternyata keyakinan ini bisa goyah seiring banyaknya cercaan setiap harinya:

“Gemuk banget ya.”

“Kenapa gemuk banget?.”

“Kenapa bukan kurus seperti yang lainnya?.”

Saya jadi sering berpikir: Tuhan, apakah badan saya seburuk itu di mata orang?

Lama-lama karena sering dipikirin, saya jadi kepikiran terus, setiap saat saya selalu bertanya, minta pendapat terus, dan ini justru  yang selalu ada dalam pikiran saya. Alhasil, inilah yang membuat hidup saya menjadi terpuruk

Seiring berjalannya waktu, saya mulai bangkit dari keterpurukan itu. Suatu hari sempat terlintas dipikiran saya, apakah saya harus menjalankan program diet untuk mengurangi berat badan dan agar terlihat kurus? Melihat teman-teman saya yang glow up dan menjadi lebih baik, saya pun tertantang ingin seperti itu.

Sampai akhirnya saya menjalankan diet dengan menghitung kalori makan setiap harinya menggunakan aplikasi dan mencoba untuk berolahraga pagi dan sore mengikuti instruksi video workout disalah satu platform.

Satu bulan lamanya saya merasa badan menjadi ringan, tetapi saya belum merasakan kalau badan saya mengecil. Sempat putus asa sampai akhirnya saya berhentikan itu semua dan mencoba untuk makan sehari hanya sekali saja. Namun lagi-lagi saya belum mendapatkan efeknya dari itu semua.

Bulan lalu tepatnya bulan september 2020 teman saya memberitahu kalau ada  teh hijau yang bagus untuk orang yang sedang menjalankan program diet. Selang dua hari saya langsung mencari teh hijau di salah satu supermarket terdekat dari rumah dan berhasil mendapatkan teh hijau.

Keadaan saya saat itu sedang datang bulan atau menstruasi sudah di hari akhir, lalu saya minum teh hijau itu, memang efek teh hijau itu tidak langsung saya rasakan semuanya terasa baik-baik saja. Keesokan paginya saya ketika berjalan ke arah kamar mandi terasa sekali darah menstruasi ini mengalir begitu banyak seperti pendarahan. Saya mencoba untuk berpikir positif apa ini teh hijau berefek mendetox darah menstruasi saya yang terhambat bulan lalu ya?

Pendarahan itu berangsur selama dua minggu lamanya, perasaan saya cemas sekali saat itu dan saya mencoba untuk mencari informasi bagaimana cara memberhentikan darah menstruasi yang berlangsung cukup lama. Lalu saya mengecek di website verified bahayanya mengkonsumsi teh hijau saat menstruasi dalam website itu menjelaskan secara rinci bahayanya konsumsi teh hijau saat menstruasi bisa mengakibatkan pendarahan yang parah dan disitulah kesalahan saya tidak mencari informasi terlebih dahulu sebelum mengkonsumsi teh hijau itu yang berdampak yang sangat fatal.

Selama saya mengalami pendarahan menstruasi itu saya tidak beribadah sholat selama dua minggu lamanya, di malam hari saya menangis berdoa meminta pertolongan Tuhan dengan ucapan sepenuh hati.

Tiga hari kemudian pendarahan saya berangsur berkurang dan saat itu juga saya berkata saya kurang bersyukur terhadap takdir. Tuhan, sehat itu jadi poin utama yang harus benar-benar dijaga.

“Kita hanya kurang bersyukur terhadap semua nikmat Tuhan berikan dan selalu merasa kurang itulah kesalahan pemikiran manusia yang harus dirubah”

Saya harap dengan pengalaman ini bisa dijadikan pelajaran untuk semua, kini mulailah mencintai diri sendiri dan berhentilah untuk mengubah diri yang menyiksa diri kita.

Kesehatan itu kunci utamanya, kita bisa saja ingin kurus tapi dengan mengurangi porsi makan dan mengubah pola makan dan saya sarankan harus dengan pedoman dokter atau ahli gizi karena itu bisa menentukan pola diet seperti apa yang cocok untuk tubuh kalian. Diusahakan sebelum melakukan segala sesuatu memiliki bekal informasi yang memadai agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Satu lagi yang perlu diingat adalah: cantik tidak harus secara fisik saja bahkan cantik bisa dari diri kalian sendiri.

Kamu tidak usah insecure dan harus banyak bersyukur. Dan buat yang lainnya, stop body shaming yang membuat perempuan merasa tidak nyaman!

Nindi Anggita Febriani

Mahasiswi Universitas Pembangunan Jaya, Tangerang Selatan

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email