Story of Kale: Gambaran Toksik Maskulin dalam Pacaran

Story of Kale adalah film yang bercerita tentang cinta yang toksik. Melelahkan, itu yang saya rasakan ketika menonton film berdurasi 1 jam 17 menit buatan sutradara Angga Dwimas Sasongko dan Visinema Pictures, karena film ini menyajikan tentang hubungan beracun atau toxic relationship.

Tika Adriana- Konde.co 

Sebelum membaca naskah ini, terlebih dahulu saya menyampaikan kepada anda bahwa naskah ini menguliti masa lalu Kale. Story of Kale: When Someone in Love adalah film yang naskahnya bisa menjadi spoiler. 

Sebelum kamu menontonnya, kamu harus tahu bahwa Story of Kale adalah kisah Kale (Ardhito Pramono) sebelum ia bertemu dengan Awan (Rachel Amanda) dalam Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini/ NKCTHI. Film ini merupakan spin-off dari Film NKCTHI.

Kale dalam NKCTHI adalah cowok yang menjadi teman dekat Awan-atau semacam TTM/ Teman Tapi Mesra. Awan di Film NKCTHI diceritakan sedang belajar tentang sakit, pantang menyerah dan menemukan diri sendiri, namun perjalanan menemukan diri sendiri ini kemudian harus berantakan karena Kale tak begitu saja percaya pada sebuah relasi cinta. Karena itulah relasinya dengan Awan jadi jauh, cinta Awan seperti bertepuk sebelah tangan. Masa lalu Kale inilah yang mencoba dipotret dalam Film Story of Kale: When Someone in Love 

Masa lalu itu adalah cerita antara Kale dan Dinda.

“Le, kita putus aja ya,” kata Dinda yang diperankan oleh Aurelie Moeremans kepada Kale. Kalimat tersebut menjadi pembuka film beralur maju-mundur ini.

Sebelum berpacaran dengan Kale, Dinda, manajer band Arah, terjebak dalam relasi beracun dengan Argo, pacarnya. Dalam film itu, Argo diceritakan kerap melakukan kekerasan pada Dinda: marah, memaksakan kehendak sendiri, mengintimidasi, hingga melakukan kekerasan fisik.

Sebelum Band Arah naik panggung, Argo naik pitam karena Dinda memilih untuk tidak ikut ke rumah nenek Argo.

Argo diceritakan sebagai orang yang manipulatif. Ia memposisikan Dinda sebagai penyebab dari pertengkaran mereka. Dinda sebagai korban, merasa kemarahan itu merupakan hal yang layak Ia terima karena menolak ajakan kekasihnya.

Kale pun datang saat Dinda sedang bertengkar dengan Argo. Ia membantu Dinda lepas dari hubungan beracunnya dengan Argo.

Kale selalu berkata bahwa Ia mencintai Dinda dan rela melakukan apa saja untuk Dinda, tapi saat Kale dan Dinda menjalani sebuah relasi pacaran, ternyata sama saja: mereka berada di dalam toxic relationship.

Kale yang pencemburu dan over thinking sudah digambarkan saat mereka belum berpacaran. Kale cemburu dengan Roy, salah satu personel Band Arah. Kale menganggap hubungan antara Dinda dan Roy lebih dari sekadar manajer dan anggota band.

Kale adalah gambaran seorang kekasih yang toksik maskulin. Ia memposisikan Dinda sebagai perempuan yang tak berdaya, perempuan yang tak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri ketika berhadapan dengan mantan kekasihnya. Sifat beracun Kale juga tergambar saat Ia melarang Dinda untuk menghadiri ulang tahun Nina, sahabat Dinda. Kale takut kekasihnya akan bertemu dengan Argo di perayaan itu.

Di mata Kale, Dinda bisa melepas hubungan beracunnya dengan Argo bukan karena kekuatan Dinda sebagai korban, tapi karena Kale.

Kale merupakan laki-laki yang melakukan mansplaining kepada Dinda. Ia merasa berhak memiliki dan mengatur Dinda, bahkan Kale juga merasa tahu apa yang terbaik untuk Dinda. Ini tergambar dari cara Kale mendikte Dinda ketika mereka membuat sebuah proyek musik dengan dia.

Bagi orang yang pernah terjebak dalam relasi toksik hingga kekerasan dalam pacaran, film ini cukup melelahkan. Butuh mental yang kuat ketika menyaksikan film ini karena proses relasi toksik yang menekan mental begitu tergambar: dimulai dari sikap pencemburu Kale, merasa superior, mengatur pasangan, hingga akhirnya Kale sendiri nyaris melakukan kekerasan fisik terhadap Dinda.

Kale pun melecehkan Dinda, pikirannya begitu sempit. Ketika Argo datang ke kamar Dinda, Kale mencurigai Dinda.

Dari keseluruhan cerita ini, ada beberapa ruang yang kosong di film ini. Pertama, Angga Dwimas Sasongko tak menceritakan pergulatan yang terjadi pada Dinda selama enam bulan (seperti yang dikatakan Dinda bahwa hatinya sudah tak ada di tempat itu sejak enam bulan lalu), meski pemberontakan itu telah ditunjukkan Dinda secara perlahan.

Padahal proses kebangkitan dari para korban kekerasan dalam pacaran ini penting diketahui oleh penonton, sehingga film ini tak hanya meninggalkan trauma bagi para korban kekerasan dalam pacaran.

Bukan itu saja. Yang kedua, apa yang terjadi pada Dinda setelah lepas dari Kale juga tak diceritakan. Dinda memang telah lepas dari Kale, tapi mereka diceritakan putus karena Dinda hendak menikah dan tinggal di luar negeri. Siapa yang menikah dengan Dinda?

Film ini seperti tak memberikan ruang atas apa yang dilakukan Dinda sebagai perempuan untuk menyuarakan kondisinya selanjutnya. Padahal akan menjadi penting ketika semua ini juga dipotret dari cara pandang perempuan, sehingga Story of Kale juga bisa melibatkan cerita dalam perspektif perempuan

Boleh-boleh saja khan Kale/ laki-laki juga dituliskan dalam perspektif perempuan korban agar tak hanya dilukiskan dari perspektif laki-laki?

(Foto: Wikimedia)

Tika Adriana, jurnalis perempuan yang sedang memperjuangkan kesetaraan. Saat ini managing editor Konde.co

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email