Taksi Perempuan di Uganda: Atasi Kekerasan Perempuan di Transportasi Publik

Ketika pandemi virus corona merebak di Uganda, lapangan pekerjaan dengan cepat hilang. Namun, bagi sekelompok wirausaha perempuan, penutupan sebagian wilayah dan penghentian kegiatan ekonomi menjadi jalur penyelamat bagi karir baru mereka.

 

Kebutuhan perempuan untuk berkeliling kota dengan aman, mendorong mereka mendirikan perusahaan taksi sendiri yang kini justru mendukung lebih banyak perempuan untuk mendapatkan keamanan.

Satu layanan supir taksi perempuan yang baru di Kampala kini mempersiapkan staf-nya untuk menghadapi hal-hal yang tidak terduga dan membela diri mereka sendiri jika diserang. Hal ini untuk memastikan agar mereka dapat menjaga diri sendiri di jalan-jalan ibu kota Uganda.

Perusahaan itu didirikan oleh sekelompok perempuan yang kehilangan pekerjaan mereka karena terus meluasnya pandemi virus corona. Perusahaan yang dikenal sebagai “Diva Cars” itu mempekerjakan 70 perempuan. Pendapatan yang mereka raih mampu mendukung keluarga mereka.

Rebecca Makyeli adalah pelatih mereka. Ia mengatakan apapun dapat digunakan sebagai perlindungan.

“Jika ada seseorang menarik kalian, maka kalian bisa menikamnya. Pada saat itu, sebagaimana yang saya katakan, kalian adalah ‘ninja’. Kalian bukan lagi diva, bukan ‘Diva Cars’ tapi ‘Ninja Taxi.’ Tahukah kalian bahwa kalian dapat menggunakan kunci ini sebagai kunci dan alat penikam,” katanya.

Semua supir baru diberi semprotan merica dan juga masker, sehingga penting agar mereka semua tahu bagaimana menggunakannya secara tepat.

“Hampir setiap pekerjaan memiliki risiko tersendiri, tetapi Diva telah mengajarkan kita bagaimana membela diri sendiri sebagai seorang perempuan, dan mengambil langkah ekstra hati-hati dalam kegiatan sehari-hari,” kata salah seorang supir baru, Donna Ochen.

“Ketika saya melihat perusahaan Diva Taxi menghubungi seluruh perempuan yang tertarik menjadi supir mereka, saya memutuskan untuk ikut serta karena ini merupakan kesempatan untuk melayani dan sekaligus mendapatkan penghasilan yang dapat mendukung keluarga saya,” tambahnya.

Makyeli mengatakan “Diva Taxi dimulai oleh sekelompok teman yang terdampak kebijakan lockdown akibat pandemi.”

Mereka memiliki gagasan untuk mendirikan layanan taksi ini Maret lalu ketika kebijakan penutupan wilayah dan penghentian kegiatan ekonomi atau lockdown membatasi gerakan orang. Makyeli mengatakan layanan taksi jelas dibutuhkan dan merupakan bisnis yang mudah untuk beraktifitas.

“Idenya berawal dari banyaknya mobil yang hanya diparkir, padahal dapat digunakan sebagai alat transportasi orang dan layanan dari satu tempat ke tempat lain. Jadi ide yang awalnya hanya sebagai lelucon ini kemudian didukung oleh teman, sahabat dan keluarga; lalu kemudian dijalani lebih serius dan pada bulan Juni didaftarkan sebagai perusahaan resmi,” kata Makyeli.

Perusahaan itu kini memiliki lebih dari 70 supir dan armada sekitar 100 mobil yang dapat digunakan untuk beragam fungsi, seperti taksi hingga alat transportasi perkawinan. Ada pula layanan korporat, antar-jemput khusus bagi siswa taman kanak-kanak dan sekolah lainnya.

Diva Taxi mengklaim kalau komisi yang diambil dari para supirnya tergolong yang rendah dalam bisnis ini. Para supir dapat mengambil 85 persen dari tarif yang dikenakan pada para penumpang.

Menjadi supir taksi merupakan pekerjaan yang tidak biasa di Uganda, yang dikenal konservatif. Banyak perempuan yang lebih memilih bekerja di pertanian. Pendiri Diva Taxi, Gillian Kobusinye, memulai perusahaan ini setelah ia kehilangan pekerjaan dalam bidang logistik. Ia menilai bisnis taksi ini sebagai dunia yang kompetitif.

“Para supir perempuan ini bekerja sangat keras, memiliki motivasi tinggi dan saya suka dengan sikap bangga akan pekerjaan yang mereka jalani. Dibanding orang lain, mereka melakukannya dengan sepenuh hati. Ini yang membedakan kami dengan para komptetitor lainnya,” kata Gilian.

Mengemudikan mobil di jalan-jalan Kampala dapat membuat pengemudi menjadi sangat sibuk dan agresif, tetapi ini merupakan tantangan lain bagi perempuan yang bekerja di perusahaan taksi terbaru ini. Klien-klien mereka tampaknya memilih pendekatan yang lebih tentang.

“Ini soal gender. Saya merasa lebih aman jika supirnya perempuan. Apalagi cara mereka mengemudi sangat luar biasa,” kata Patricia Bamwebaze, seorang auditor yang menggunakan jasa taksi untuk menemui klien-kliennya.

Aplikasi Diva Taxi telah diunduh sekitar 500 kali dan setiap supir taksi membawa 30 orang per minggu. Perusahaan itu berharap dapat mencapai 2.000 pengguna aplikasi aktif tahun ini. Di kota berpenduduk tiga juta orang maka ini merupakan awal sederhana yang baik. [em/jm]

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

(Sumber: Voice of Amerika/ VOA)

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email