Kampanye Hak Cipta Dan Hak Untuk Disable, Ucu Agustin Gunakan Film

Sutradara film, Ucu Agustin melakukan kampanye kesadaran hak cipta. Kampanye ini dilakukan terkait dengan dengan proses hukum yang sedang berjalan antara sutradara Ucu Agustin dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga TVRI dan USeeTV. Sejak 2 Oktober 2020, film “Sejauh Kumelangkah” menjadi sorotan publik dan media karena somasi yang diberikan Ucu Agustin pada ketiga lembaga, Kemendikbud, TVRI, dan USeeTV (Telkom) atas pelanggaran hak cipta yang diduga dilakukan ketiganya

Selain melakukan kampanye kesadaran hak cipta, Ucu Agustin juga melakukan kampanye hak disabilitas dan inklusivitas sekaligus peluncuran versi audio description “Sejauh Kumelangkah” yang merupakan bagian dari kampanye kesadaran hak cipta kepada masyarakat.

Dengan menggandeng Minikino, Sutradara Ucu Agustin Luncurkan Film “Sejauh ku Melangkah” VERSI INKLUSIF dengan Audio Description untuk Akses Penonton Tunanetra  & Closed Caption untuk Penonton Tuli

Sempat terkendala karena pandemi, film dokumenter Sejauh Kumelangkah atau yang dalam bahasa Inggris berjudul “How Far I’ll Go” karya sutradara Ucu Agustin, kini kembali melanjutkan langkah distribusinya di tengah kasus pelanggaran hak cipta yang sedang terjadi dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, TVRI, dand UseeTV (Telkom).

Film Peraih Piala Citra 2019 untuk kategori dokumenter pendek terbaik ini, dirilis September 2019 di Indonesia Forum Film New York, Amerika Serikat. Sempat berkeliling di beberapa festival film internasional serta telah melakukan pemutaran publik baik di Indonesia maupun USA, distribusi film ini terhadang wabah Covid pada Maret 2020. Bekerjasama dengan Minikino (Minikino.org), kali ini film “Sejauh Kumelangkah” yang bercerita tentang persahabatan dua remaja tunanetra di dua negara—Indonesia dan Amerika Serikat, akan meluncurkan versi baru yang dilengkapi dengan audio description, atau biasa disingkat AD, dan closed caption, atau biasa disingkat sebagai CC.

Audio description adalah versi yang dipersembahkan untuk penonton tunanetra. Dengan AD, kesempatan dan akses bagi para tunanetra untuk menikmati film, terbuka dan setara dengan para penonton lainnya yang bisa melihat. Pengalaman menonton bersama antara para penonton tunanetra dan mereka yang melihat ini, diharapkan menjadi kesempatan unik dan bisa membuka diskusi baru dalam memberi makna yang lebih mendalam tentang semangat inklusif dan hak-hak difabel yang dikampanyekan dalam film.

Edo Wulia dari Minikino sebagai koordinator versi AD menyatakan pentingnya film ini untuk kampanye inklusivitas

”Meluncurkan film-film versi AD ini mulai kami lakukan tahun 2020 ini. Sejauh Kumelangkah adalah film Indonesia keenam yang kami garap versi AD-nya. Lima film pendek Indonesia sebelumnya juga sudah tampil di festival internasional Minikino Film Week bulan September lalu. Aktivasi ini kami lakukan untuk mempertegas inklusivitas dalam distribusi film di Indonesia.”

”Semoga ini bisa menginspirasi produksi film lainnya di Indonesia, karena komunitas difabel adalah kelompok konsumen yang belum terlalu diperhatikan dalam gerak industri film di Indonesia.”

Ucu Agustin dengan semangat menambahkan bahwa ia sangat senang bertemu dengan mitra seperti Minikino yang menghargai para penonton dan penikmat film, tak terkecuali mereka yang datang dari komunitas disabilitas. 

“Dulu kita sempat mengenal bioskop bisik, dan kini di negara dimana industri filmnya sudah mulai diharuskan untuk tak meninggalkan mereka yang berkebutuhan khusus dengan menuntut pelaku industri film untuk menambahkan versi audio description untuk penonton tak bisa melihat dan closed caption untuk mereka yang tak bisa mendengar, maka adalah tantangan kita semua di Indonesia kini untuk juga memulai menjadikan ini sebagai bagian dari kontribusi para pelaku usaha film untuk bersama  mewujudkan masyarakat yang inklusif.”

Ucu menyatakan untuk versi AD dari film Sejauh Kumelangkah adalah mimpinya sejak awal membuat film ini, namun baru kini terwujud berkat kerjasama dengan Minikino.

Peluncuran “Sejauh Kumelangkah” akan dilakukan dalam bentuk pemutaran inklusif selama bulan November 2020 di Bali. Rangkaian pemutaran film ini dilakukan dengan menggandeng Minikino dan Yayasan Kino Media sebagai organisasi penyelenggara dan berkolaborasi dengan beberapa venue-venue pemutaran di Bali.

Acara perdana dilakukan di MASH Denpasar Art House Cinema pada Rabu 18 November 2020. Kemudian akan disusul dengan pemutaran di Uma Seminyak (Rabu, 25 November 2020) dan Rumah Film Sang Karsa di Buleleng untuk menjangkau masyarakat di Bali Utara (Sabtu, 28 November 2020).

Rangkaian acara ini tidak memungut biaya, namun memberlakukan pembatasan dan undangan khusus saja. Bagi penonton tunanetra dan disabilitas lainnya, pers dan masyarakat yang ingin hadir menonton di lokasi pada tanggal-tanggal tersebut, bisa menghubungi minikino melalui sosial media atau websitenya (untuk diarahkan ke kontak yang tepat. Selengkapnya mengenai acara bisa dilihat di https://minikino.org/sejauhkumelangkah ).

Rangkaian peluncuran versi AD ini merupakan swadaya dan kolaborasi dari berbagai pihak, antara lain Yayasan Kino Media, Gambar Bergerak, Mash Denpasar, Uma Seminyak, Rumah Film Sang Karsa, Komunitas Teratai Bali serta dukungan perorangan yang masing-masing menyumbangkan fasilitas, tenaga, waktu dan perhatiannya untuk kelancaran acara ini. Acara ini juga merupakan pemanasan untuk rencana distribusi impact campaign film yang akan dilakukan di awal  tahun 2021.

Bersamaan dengan rangkaian pemutaran khusus undangan, versi AD dan versi orisinal film “Sejauh Kumelangkah” juga akan diputar untuk penonton umum. Di minggu ketiga dan keempat November, direncanakan film ini akan menjadi bagian dari konten reguler Bioskopan (Bioskopan.com) bergantian dengan konten film-film lainnya yang ditayangkan dengan memungut donasi.

Film Sejauh Kumelangkah karya Ucu Agustin berkisah tentang persahabatan dua remaja perempuan penyandang disabilitas netra yang tinggal di Amerika Serikat dan Indonesia, film juga bercerita tentang akses terhadap berbagai layanan publik termasuk akses penyandang disabilitas terhadap pendidikan yang merupakan hak asasi manusia.

Pada Agustus 2018, setelah Sejauh Kumelangkah memenangkan IF/Then shorts Southeast Asia Pitch yang diselenggarakan oleh Tribeca Film Institute (TFI) bekerja sama dengan Docs by The Sea yang dikelola In-Docs, film diproduksi selama lebih dari setahun dengan sumber pembiayaan dana pribadi dan film grant.

Melalui IF/Then shorts SEA film kemudian mendapat kontrak dengan Aljazeera Internasional (AJI – Malaysia) yang mengharuskan film ditayangkan perdana di platform TV Al Jazeera, ekslusif dengan masa hold back 6 bulan. Ucu sedang terikat kontrak dengan AJI saat film Sejauh Kumelangkah ditayangkan oleh Kemdikbud di program BDR di TVRI dan USeeTV (Telkom) tanpa seijin. Ucu Agustin bersama kuasa hukumnya, Alghifari Aqsa dari AMAR Law Firm and Public Interest Law Office (AMAR) melakukan somasi pada ketiga lembaga atas kejadian ini

(Foto: Youtube)

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email