4 Stigma Pada Perempuan Pekerja Yang Mengambil Cuti Haid

Sejumlah perempuan merasa tidak enak badan, perut mengalami kesakitan dan kram ketika haid datang. Kondisi inilah yang membuat para perempuan pekerja mengambil cuti haid. Namun, tahukah kamu jika hingga sekarang, masih banyak perempuan pekerja yang mendapatkan stigma ketika mengambil cuti haid?

Cuti haid adalah hak perempuan pekerja, karena ini juga sudah tertulis dalam UU Ketenagakerjaan 13/2003 pasal 81. Jadi siapapun perempuan yang sedang haid/ menstruasi, berhak untuk mendapatkan cuti di hari pertama dan kedua kerja:

“Buruh perempuan juga berhak atas cuti haid. Dalam Pasal 81 ayat (1) Undang-Undang Ketenagakerjaan disebutkan bahwa pekerja/buruh perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid. Pelaksanaan ketentuan itu sendiri harus diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau PKB. Pengusaha juga wajib membayar upah buruh yang menjalani cuti haid, sesuai Pasal 93 ayat (2) huruf b peraturan tersebut.”

Namun sayangnya perempuan masih mendapatkan stigma ini. Beberapa stigma yang dilekatkan perempuan pekerja ketika mengambil cuti haid:

1.Stigma sebagai perempuan manja

Cap sebagai perempuan yang manja sering dilekatkan karena tidak masuk kerja ketika mengambil cuti haid.

2. Stigma sebagai perempuan yang merepotkan pekerja lain

Stigma lain juga diterima yaitu dianggap sebagai perempuan yang merepotkan pekerja lain, karena tidak masuk 1 hari gara-gara mengambil cuti haid. Karena tidak masuk sehari, pekerjaan diambil alih pekerja lain dan ini yang mengakibatkan perempuan pekerja mendapatkan cap sebagai pekerja yang suka merepotkan pekerja lainnya.

3. Stigma sebagai perempuan yang malas bekerja

Stigma lainnya yaitu dianggap sebagai pekerja yang malas,“Toh, tak semua perempuan mengalami haid dan hidup mereka baik baik saja, mengapa harus mengambil cuti?,” begitu yang sering saya dengar.

4.Perempuan pembohong

Pekerja yang mengambil cuti haid juga sering dianggap bohong dan pura-pura sakit. Makanya banyak pekerja pabrik yang harus membuktikan jika dia memang sedang haid.

Cuti haid ini dalam sejarahnya merupakan cuti yang diperjuangkan para pekerja terutama pekerja atau buruh perempuan.

Di tahun 1950-an banyak kelompok buruh terutama para buruh perempuan yang memperjuangkan cuti haid. Kala itu banyak yang menentangnya, terutama perusahaan yang merasa rugi ketika buruh perempuan mengambil cuti haid.

Dari tahun itulah perjuangan cuti haid tidak hanya dilakukan para buruh perempuan ketika berada dalam perusahaan, namun juga banyak buruh perempuan yang turun ke jalan untuk melakukan aksi untuk mendapatkan cuti haid.

Di waktu sekarang, jika masih ada perusahaan, majikan yang mempersulit cuti haid, ini artinya mereka tak mengindahkan dan tidak menghormati perubahan yang telah dilakukan para buruh perempuan dalam waktu yang panjang.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Almira Ananta

Almira Ananta

Pekerja kantoran di Jakarta yang hobby membaca dan travelling

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email