5 Panggilan Untuk Transpuan Yang Melecehkan Kesehatan Mental

Dipanggil bencong, banci, wandu, dengan nada melecehkan. Selama ini, inilah yang dialami para transpuan di Indonesia. Jessica Ayudya Lesmana mencatat 5 panggilan bagi transpuan yang diiringi dengan nada melecehkan

Saya mencatat, ada sejumlah panggilan bagi transpuan yang diikuti dengan nada melecehkan. Panggilan ini membuat terganggunya kesehatan mental para transpuan karena disertai dengan hinaan. 5 panggilan melecehkan tersebut antaralain:

1.Banci

Kata banci adalah serapan dari bahasa Jawa yang artinya bandule cilik (berzakar kecil). Dulu panggilan ini dilakukan pada para transpuan yang dianggap berperangai gemulai, lemah lembut dan terlahir tidak sesuai dengan penjiwaan hidupnya menurut penilaian masyarakat.

Jadi ada asumsi bahwa setiap individu transpuan distigma, dilecehkan dengan verbal dengan kata berpenis kecil ini. Ini tentunya merupakan bagian dari sekian perundungan terhadap individu transpuan di Indonesia.

Kata banci sendiri sering sekali digunakan oleh lingkungan heteronormatif untuk  mengolok-olok individu trans yang dianggap hidup tidak sesuai dengan norma yang berlaku. Panggilan banci atau bencong pada transpuan sudah sering saya lihat, ini kerap saya temui ketika di jalanan, di kampung-kampung ketika transpuan sedang mengamen.

Bahkan anak-anakpun kemudian ikut-ikutan memanggil dengan sebutan banci. Ini karena orang dewasa di sekitarnya melakukannya, jadi anak-anakpun menirukannya

2.Wandu

Wandu juga berasal dari serapan bahasa Jawa yang berarti “wanita dudu” ( bukan perempuan). Wandu dalam mitologi mistik Jawa yang saya pelajari adalah sebutan untuk transgender yang berkelamin ganda, sebutan untuk individu trans serta individu yang menampakkan sifat-sifat femininnya

3.Wadam

Wadam adalah singkatan dari hawa dan adam yang dipopulerkan oleh mantan Gubernur Jakarta, Ali Sadikin. Namun sebutan wadam ini kemudian mendapat kecaman dan tuaian protes dari masyarakat karena dianggap mengandung unsur kata yang agamis yaitu: adam dan hawa, manusia yang diciptakan pertamakali di dunia. Kata wandu selanjutnya dinilai provokatif karena dianggap melecehkan agama tertentu.

Padahal dulu, niat untuk memanggil dengan kata, ini salah satu tujuannya untuk mendekatkan kaum wadam dengan lingkungannya.

Karena dianggap provokatif, kata wadam jadinya sering dijadikan panggilan yang juga melecehkan,” dasar wadam!.”

4. Waria

Waria singkatan dari wanita pria, kata ini cukup populer di kalangan masyarakat pada umumnya. Kata waria sebagai pengganti kata wadam sebelumnya. Kata waria kemudian menjadi sangat populer dan masuk dalam literasi surat kabar terdahulu atau banyak digunakan untuk sebutan di media.

Namun kata ini juga dipandang negatif karena menimbulkan persoalan sosial, apalagi ketika sebutan waria ini dulu juga sering digunakan untuk menuliskan beberapa prestasi waria, seperti Vivian Rubiyanti, Dorce Gamalama dan beberapa waria senior lainnya

5.Bencong

Selain ini ada juga kata bencong yang menurut saya berasal dari bahasa prokem sebagai cara untuk mengundang individu transpuan dengan olok olokan

Panggilan Yang Memberikan Ruang Kemanusiaan

Selain 5 kata tadi, saat ini ada sejumlah sebutan yang kemudian memberikan ruang kemanusiaan dan memberikan penghormatan pada para transpuan. Sebutan inilah yang kemudian banyak digunakan organisasi kemanusiaan:

1.Transwoman

Transwoman berasal dari bahasa inggris yang singkatan dari  transgender woman.  Kata ini disebut sebagai gaya bahasa eufemisme (penghalusan kata) untuk menyebut individu transgender

2. Transgender

konsep ini dicetuskan oleh Richard Elkins yang artinya orang yang bertransisi pada tahun 1984. konsep transgender adalah orang yang memiliki identitas gender dan ekspresi gender yang berbeda dengan kelamin yang ditunjukkan

3. Transpuan

Transpuan merupakan serapan kata baru waria yang ada di Indonesia yang merupakan singkatan dari transgender perempuan. Kata ini dicetuskan oleh kolektif kelompok transgender sendiri dan dipakai dalam penulisan akademik dan sebagai bentuk halus dan pemaknaan yang baik kepada individu transgender. Kata transpuan menyetarakan perempuan transgender dengan perempuan

Diperkirakan jumlah transpuan di Indonesia saat ini semakin bertambah dari tahun ke tahun, namun sayangnya tingkat intoleransi terhadap transgender juga semakin bertambah.

Ini perlu adanya tambahan pendidikan perdamaian dan keberagaman agar semua terbebas dari kebencian.

Harapan saya, semoga di kemudian hari ada literasi kemanusiaan yang menghormati para individu transpuan di Indonesia

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Jessica Ayudya Lesmana

Penulis Waria Autodidak dan Anggota Tim Cemeti

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email