Aku Menjadi Korban Kekerasan Berbasis Gender Online

Dirayu dan dikirimi foto telanjang, aku pernah menjadi korban pelecehan berbasis gender online

Beberapa bulan lalu, aku bersama sahabatku datang ke pernikahan teman sekolah kami, para tamu undangan menumpuk karena antri mengambil makanan.

Seusai menyalami pengantin, aku melihat berbagai makanan tersaji di meja-meja. Di bawah tenda makanan, tiba-tiba aku melihat ada seorang laki-laki yang masih kuingat detail wajahnya sampai sekarang. Bukan karena dia lebih tinggi dari yang lain sehingga aku lebih gampang melihatnya diantara kerumunan orang, tapi melihatnya kembali mengingatkan aku pada banyak kemarahan yang pernah aku pendam dulu.

Ia, laki-laki yang duduk diantara kerumunan itu adalah kakak tingkatku, teman satu organisasi semasa awal kuliah di salah satu universitas di kotaku.

“Sepertinya itu mas Andi ya? Kenapa dia bisa datang di pernikahan Amanda?,” tanyaku pada sahabatku.

“Iya, itu mas Andi, aku jadi teringat saat kamu pernah dilecehkan sama dia lewat BBM, ih jadi sebel,” kata sahabatku

BBM adalah singkatan dari Blackberry Massenger. Aplikasi ini dulu sama-sama kami pakai. Maklum jika teman saya berkata seperti itu, dia menjadi salah satu orang yang menjadi teman Curhat yang aku percaya hingga sekarang. Dia juga ikut merasakan kemarahan yang dulu pernah aku rasakan.

Di awal pertengahan tahun 2015 lalu, aku kuliah semester 3. Hari itu terik sekali, matahari seakan menyuruhku untuk bersembunyi. Seusai kuliah, kami memang suka berteduh di ruang kesekretariatan yang biasa kami sebut sekret.

Di kampus, selain kuliah aku juga mengikuti organisasi yang peduli terhadap kesehatan reproduksi. Banyak teman-teman baik yang membuat aku nyaman berada di sana. Begitu pula dengan Andi, yang aku kenal humoris dan suka membantu kami. Dia meminta untuk aku membagi pin BBM ku kala itu, dan aku menyetujuinya.

Beberapa hari setelah itu, dia terus mengirim chat padaku. Akupun tidak masalah karena di awal bertemu, dia bukan orang yang patut dicurigai, justru dialah orang yang menjadi inspirasiku. Sifatnya yang ramah dan ceria juga selalu menjadi penyemangat kami di organisasi.

Tapi entah kenapa, lambat laun gerak-geriknya terlihat aneh, dia seperti memaksaku untuk menjawab semua pertanyaan yang mestinya tidak pantas ditanyakan oleh seorang teman. Karena kami hanya teman biasa, tidak ada yang spesial, bahkan aku tahu dia sudah punya pacar.

“Ayu, sudah pernah pacaran?,” tanya Andi.

“Iya pernah, memangnya kenapa?,” aku masih menjawab dengan santai.

Hingga pada hari-hari selanjutnya, Andi mulai bertanya banyak hal yang membuatku risih, karena menurutku pertanyaan ini terlalu personal buatku.

Di BBM, Andi pernah bertanya:

“Sudah pernah pelukan?.”

“Sudah pernah ciuman?.”

“Sudah pernah nonton film porno?.”

“Pengen nyoba berhubungan seks nggak?.”

“Gampang kok berhubungan seks itu, gak usah takut,  ayo aku ajarin di sekret.”

Bagaimana aku tidak takut dengan pertanyaan-pertanyaan ini? Aku adalah temannya dan ia punya pacar. Wajahku memanas, jantungku berdegup karena marah setiap bertemu Andi.

Sejak itu, aku terus menjaga jarak, tidak pernah aku balas lagi chatnya karena aku takut ia akan melakukan sesuatu. Tetapi karena kebutuhan untuk berkomunikasi di organisasi, aku balas lagi pesannya di BBM ku, namun itu jika percakapannya tentang organisasi. Di luar percakapan organisasi, tak pernah aku balas.

Lambat laun, sudah biasa saja aku menanggapinya. Ia mengirimkan fotonya sendiri tanpa sehelai pakaianpun, ia juga mengirimkan foto yang memperlihatkan penisnya. Ya, ini benar, aku tidak mengada-ada. Dia betul-betul berani mengajak berhubungan seks. Lantas dari situ, langsung kublokir akunnya.

Saat itu yang aku pikirkan, bisa saja aku melapor ke ketua organisasi atau pembina organisasi kami. Karena ini serius, aku juga merasa diintai dan ada perasaan takut apabila ada teman-teman lain yang juga menjadi korbannya.  Sejak itu aku tak mau menemuinya lagi dengan alasan apapun.

Di pesta pernikahan temenku ini, seusai makan, aku putuskan melangkahkan kaki mendatangi dia di kursi pojok rumah putih itu. Aku lihat dia duduk sendiri dan tersenyum ke arahku.

Aku ulurkan tangan untuk menyambut salamnya dan aku tanyakan kabarnya meskipun ala kadarnya.

“Apa kabar, lama tidak berjumpa?,” kata Andi.

“Baik, kok kamu disini?,” aku menanyainya basa-basi.

“Enggak kenal sama pengantinnya, disini aku kerja shooting untuk nikahan,” Andi menjawab. 

Aku ingat beberapa tahun lalu ketika dia mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN), ia ketahuan membuat video teman perempuannya yang ketika itu sedang mandi. Di videonya temannya itu menggunakan Handphone (HP). Di saat HP nya dipinjam oleh temannya, Andi tidak sadar bahwa video masih tersimpan di HPnya. Alangkah terkejutnya, kasus ini langsung dilaporkan kepada rektor nniversitas kami. Dan nasibnya sebagai mahasiswa berakhir di kampus, ia keluar tanpa gelar sarjana.

Entah dia masih ingat atau tidak bahwa dulu ia pun pernah memperlakukan aku dan perempuan-perempuan lain seperti itu. Apakah dia masih merasa bersalah dan tidak ingin meminta maaf kepada kami, korbannya? Aku tak tahu.

Barangkali memang benar bahwa tidak ada jaminan seseorang tidak melakukan pelecehan seksual, sekalipun ia berada di lingkungan yang baik dan juga berpendidikan tinggi.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Ida Ayu Setyowati Utami

Aktif di Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP)

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email