Martha Tiahahu Pahlawan Maluku, Meninggal Muda Dalam Tawanan Belanda

Seorang perempuan muda dan pemberani, Martha Christina Tiahahu, meninggal dunia saat berumur 18 tahun di atas kapal dalam tawanan Belanda. Jenazah Martha Christina Tiahahu disemayamkan di Laut Banda. Martha adalah salah satu pahlawan perempuan muda Indonesia. Ia sudah ikut ayahnya berperang sejak umurnya masih anak-anak

Tak banyak yang memilih jalan hidup seperti Martha Christina Tiahahu. Di usianya yang remaja, Martha sudah ikut berperang dengan ayahnya. Ketika ditangkap Belanda, ia tengah melakukan mogok makan, protes atas situasi ini. Martha meninggal di usianya yang ke-18 tahun.

Martha Christina Tiahahu adalah pahlawan belia, sejak kecil ia sudah ikut berperang dengan ayahnya untuk melawan penjajahan Belanda. 2 Januari ini umurnya 221 tahun atau tepatnya ia lahir pada 4 Januari 1800

Pada tanggal 20 Mei 1969, Martha Christina Tiahahu secara resmi dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Ini dikarenakan perjuangannya yang tak gentar dalam membela daerahnya melawan penjajah Belanda di abad itu.

Martha Christina Tiahahu terlahir di era penjajahan, yaitu pada 4 Januari 1800 di Nusa Laut, Maluku. Ia berasal dari desa Abubu di Pulau Nusalaut, sudah kehilangan ibunya sejak masih kecil,  ia tinggal bersama ayahnya yang merupakan seorang pemimpin perlawanan rakyat Maluku, Kapitan Paulus Tiahahu.

Martha sejak kecil terkenal berkemauan keras dan pemberani. Kemanapun sang ayah pergi, ia selalu mengikutinya. Bahkan ia ikut serta sang ayah saat menghadiri rapat perencanaan perang, akhirnya Martha sudah terbiasa dengan segala pertempuran dan strategi perang.

Martha adalah tokoh perjuangan yang unik, ia bertempur di usianya yang masih remaja serta memberi semangat kepada para perempuan lainnya agar ikut membantu di medan pertempuran. Hal tersebut membuat pihak Belanda  kewalahan menghadapi pasukan perempuan yang ikut berjuang.

Bersama dengan sang ayah Paulus Tiahahu, pasukan Maluku berhasil menggempur tentara kolonial yang menguasai Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah. Mereka bahkan berhasil merebut Benteng Duurstede.

Peperangan di Saparua terus berkobar dengan sengit, namun karena semakin berkurangnya persenjataan pasukan rakyat, mereka terdesak dan mundur ke pegunungan Ulath-Ouw.

Pasukan Belanda yang berusaha mengejar kawanan pejuang berhasil dipukul mundur. Bahkan pimpinan mereka, Richemont tertembak mati. Begitu juga dengan Meyer yang menggantikan Richemont.

Belanda menyerang terus, tak lama para pejuang kehabisan peluru sehingga mereka bertahan dengan lemparan batu. Pertempuran sengit di Desa Ulath-Ouw inilah yang menjadi akhir perjuangan pasukan rakyat, mereka ditangkap, termasuk Martha Christina dan sang ayah Kapitan Tiahahu.

Para pejuang yang tertangkap diadili dan bahkan dihukum mati, termasuk Kapitan Tiahahu. Sementara itu Martha Christina dibebaskan karena usianya yang masih muda, yaitu 17 tahun.

Meninggalnya sang ayah membuat Martha merasa sangat sedih. Tapi ia tidak ingin berlarut dalam kesedihan. Ia kembali mengangkat senjatanya dan kembali melakukan pemberontakan terhadap Belanda sehingga ia kembali ditangkap bersama dengan 39 pemberontak lainnya oleh Belanda.

Martha bersama pemberontak lainnya yang berhasil ditangkap akhirnya diangkut dengan kapal Evertzen untuk diasingkan ke Pulau Jawa. Di atas kapal, ia mogok makan dan sama sekali tidak mau menerima pemberian Belanda.

Kondisinya semakin memburuk hingga akhirnya jatuh sakit. Pada taggal 2 Januari 1818, hanya 2 hari sebelum usianya genap 18 tahun, Martha menghembuskan napas terakhir.

Tidak semua orang memiliki keberanian untuk berjuang mengangkat senjata di garis depan. Tapi Martha, perempuan muda belia berani berjuang menentang para penjajah. Kita semua mengagumi semangat dan perjuangan Martha Christina Tiahahu dalam melawan penjajah.

Agar para pelajar di Indonesia lebih mengetahui keteladanan pahlawan muda belia ini, www.pendidikan.id, sebuah edutech di Indonesia menerbitkan sebuah komik sejarah dengan judul “Pejuang Muda dari Timur” yang dapat dibaca secara gratis oleh masyarakat Indonesia, khususnya para pelajar. Komik ini sebagai salah satu cara untuk menghargai pahlawan dan mengkampanyekan tentang perjuangan pahlawan perempuan di Indonesia.

Peperangan selalu menyisakan kisah sedih di baliknya. Martha memberikan pelajaran baik tentang hak yang harus diperjuangkan.

(Foto: Info Pendidikan Indonesia)

Poedjiati Tan

Psikolog, aktivis perempuan dan manager sosial media www.Konde.co. Pernah menjadi representative ILGA ASIA dan ILGA World Board. Penulis buku “Mengenal Perbedaan Orientasi Seksual Remaja Putri.”

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email