Narasi Tak Semua Laki-Laki Melakukan Kekerasan, Meminggirkan Pemikiran Perempuan

Argumen Not all Man atau tidak semua laki-laki melakukan kekerasan, seperti ingin memberikan pengumuman bahwa tidak semua laki-laki itu patriarkis, seksis, suka mengobyektivasi perempuan. Namun, ini sama saja tak menganggap penting pemikiran perempuan

Saya sering mendengar ungkapan ini “tak semua laki-laki melakukan kekerasan, seksis. Tidak semua laki-laki suka melecehkan perempuan.”

Ungkapan ini jadi topik pembicaraan, namun apakah ini bisa menyelesaikan persoalan perempuan?

Narasi ini sebenarnya sudah lama ada, bahkan di Indonesia sendiri. Sekarang, kenapa argumen tidak semua laki-laki ini menjadi problematik?.

Pertama, argumen ini sudah termasuk melakukan interupsi pada perempuan. BBC pernah menuliskan, perempuan di kehidupan sehari-hari sudah sering banget mengalami interupsi dan mansplaining, tidak bisa mengutarakan argumen karena dianggap omongannya tidak penting.

Lalu interupsi ini membuat perempuan yang lagi curhat atau bercerita tentang keluh kesah problem mereka, jadi sering terkena interupsi.

“Gak semua laki-laki begitu, kog.”

Argumen not all man ini jadinya menggeser pembicaraan, yang seharusnya kita fokus kepada fakta bahwa perempuan sampai sekarang masih menjadi korban pelecehan, korban kekerasan oleh laki-laki, namun pembicaraannya jadi dialihkan, karena tak semua laki-laki katanya begitu

Not all man atau tidak semua laki-laki buat saya juga seakan-akan ingin menjaga citranya. Yang orang harus tahu adalah  ketika perempuan membicarakan tentang pengalamannya, itu karena ia mendapatkan perlakuan tidak enak dari laki-laki, padahal dia berbicara berdasarkan pengalaman pribadinya dan dari awal dia tidak pernah bermaksud untuk menyamakan semua laki-laki mempunyai pengalaman yang sama

Jika kita merespon isu serius ini dengan argumen not all man, maka kita malah melakukan  yang seharusnya tidak kita lakukan.

Ketika ada korban kekerasan berbasis gender terutama perempuan disini, seharusnya kita memvalidasi apa yang terjadi dengan dia dan apa yang dia rasakan atas kejadian itu. Jika kita menggunakan argumen not all man, kita malah menjadi orang yang memojokkan korban dengan argumen itu.

Memang ada yang tidak melakukan hal itu, tapi bukan berarti pelecehan terhadap perempuan dan kekerasan terhadap perempuan itu tidak pernah terjadi. Karena sayangnya kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan itu sangat nyata sekali.

Di era sekarang ini hampir setiap hari pasti ada saja kasus pelecehan, kekerasan, bahkan pembunuhan terhadap perempuan berbasis gender di jalan, di rumah dan di tempat-tempat umum

Respon tidak semua laki-laki begitu, bisa dibilang lumayan egois. Mungkin yang berargumen demikian merasa dituduh untuk hal yang tidak dilakukan, dia tidak mau disamakan dengan laki-laki lain, tidak mau disamakan dengan laki-laki yang karakternya toksik. Padahal ketika seorang perempuan membagikan pengalamannya, dia tidak ada maksud untuk menuduhnya.

Walau ada sebagian laki-laki yang mencoba untuk menjaga image mereka, tapi kenapa laki-laki penjaga image ini tidak mencoba mendengarkan cerita perempuan saja?. Setelah itu coba untuk meresapi, pahami agar mereka lebih sadar bahwa isu yang bener-bener serius ini terjadi pada perempuan lawan bicaranya.

Saya sadar bahwa untuk berempati  terhadap sesuatu yang berbeda dengan kita, bisa jadi itu susah banget, namun bukan berarti tidak bisa. Ada hal-hal yang harus dipelajari secara rutin untuk mengubah persepsi sulit ini. Toh, kita mau perempuan dan laki-laki sama-sama aman dalam berelasi dan berkomunikasi.

Dan hal yang paling penting adalah: dengarkan pengalaman perempuan, karena perempuan punya kehidupan, bahasa dan pengalaman yang tak sama dengan laki-laki. Banyak perempuan yang mengalami represi dari kecil untuk selalu hidup menurut apa yang diinginkan orang lain.  

Sejarawan feminis banyak mengidentifikasi banyaknya pengalaman perempuan yang dihilangkan oleh sejarah, seperti: perempuan telah banyak kehilangan biaya kemanusiaan karena perlakuan lingkungannya, perempuan telah kehilangan kontrol atas produksi, milik dan dirinya sendiri

Hellena Cixous adalah salah satu pemikir feminis yang menolak ide penguasaan laki-laki melalui bahasa atau teks laki-laki, karena itulah diperlukan keterbukaan dan menghargai perbedaan. Ini bisa dilakukan dengan cara berbicara atau dalam tulisan/ teks.

Pemikiran ini juga dikatakan oleh feminis kontemporer lain, Jacques Derrida tentang phallogosentrisme, dimana patriarki membuat model dan pemikiran bahasanya sendiri. Hellena Cixous dan Luce Irrigaray kemudian menggarisbawahi soal bentuk ekspresi baru yang harus dilakukan dengan menggunakan atribut seksualitas perempuan untuk menggantikan pemikiran laki-laki yang dianggap sebagai pemikiran tunggal atau satu-satunya

Ini sekaligus menandaskan beberapa hal penting bahwa ekspresi perempuan, pendapat atau pemikiran perempuan penting untuk didengarkan, tak diinterupsi apalagi dibantah dengan mansplaining atau pendapat yang merendahkan pemikiran perempuan

Jadi, hentikan kalimat “tak semua laki-laki begitu..” ketika kita tahu bahwa antara perempuan dan laki-laki tidak mempunyai pengalaman yang sama

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Rizki Emillia

Rizki Emillia

Seorang mahasiswi Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta yang ingin sukses tapi malas dan hobinya makan

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email