Pengalaman Pasangan Terkena Covid: Hidup Terpisah dan Khawatir Dijauhi Tetangga

Saya dan suami terkena Covid-19 dan harus sama-sama dirawat, hidup terpisah selama sebulan lebih. Kami juga mengalami ketakutan: apa kata tetangga? Apakah mereka takut melihat kami?

Desember, 31, 2020, tiga puluh menit menjelang pergantian tahun. Bulan di atas langit Pamulang di Tangerang Selatan tersaput awan.

Aku duduk di pekarangan bersama dua ekor anjing dan lima ekor kucing. Angin dingin, bunyi petasan dan kembang api bersahut-sahutan. Rumahku tersembunyi di perbatasan antara komplek perumahan dan perkampungan, ke arah kampung dibatasi kebun dan ke arah perumahan dibatasi jalan sekitar 200 meter.  Aku,  para anjing dan kucing ini menikmati hingar bingar tahun baru dalam ketersembunyian. 

Satu jam sebelumnya,  suamiku mengantarkanku ikan goreng yang krispi sebagai perayaan kecil menutup tahun 2020.

Sebelumnya,  ia mengajak berbincang melalui video  call.  Ia menunjukkan kegembiraannya mencuci ikan segar, sambil memastikan perasaanku. Aku memang agak enggan untuk berbincang,  pikiranku sedang sibuk dengan diri sendiri. Terus terang,  agak sedih,  sudah bergulat meningkatkan imun selama 46 hari, hasil swabku hari ini masih positif.   Tapi  kupikir, baik juga menyambut perhatian  suamiku.

Kami Tinggal Terpisah

Sudah 10 hari aku bertetangga dengan suamiku, setelah sebelumnya kami terpisah selama 24 hari karena kami sama-sama terkena Covid-19. Ia dirawat di salah satu rumah sakit rujukan covid di Ciputat, Tangerang Selatan. Aku dirawat di rumah sakit rujukan covid di Jakarta.

Setelah 14 hari dirawat,  suamiku diminta pihak rumah sakit untuk isolasi mandiri. Aku menyusul isolasi  mandiri setelah 24 hari dirawat. Kami sempat sekitar satu minggu tinggal serumah karena masih sama-sama positif. Tidak mudah juga, kami tinggal serumah. Kami harus tidur di ruang berbeda, mengenakan masker sepanjang hari, segera menyemprot kamar mandi dengan disinfektan setiap kali masing-masing dari kami menggunakan kamar mandi, dan menggunakan alat makan terpisah dan protokol lainnya.

Setelah hasil swab suami menunjukkan negatif,  ia segera menyusul adikku yang sudah lebih dulu ‘menngungsi’ di rumah tetangga. Bersyukur, tetangga kami baik, meminjamkan rumahnya yang kosong untuk ditempati adik dan suamiku.   Kalau tidak, sedikitnya kami  harus mengeluarkan uang Rp. 900.000/bulan untuk biaya kost adik dan suamiku, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah.  Karena,  bagaimana pun, kebutuhan aku dan ke-7  binatang kesayangan bergantung banyak  pada keduanya, terutama untuk  ketenteraman mental, selain belanja makanan dan obat-obatan.

Suami dan adikku masih berkunjung ke rumah dengan protokol menggunakan masker dan berjarak. Bila butuh ngobrol, aku duduk di dalam rumah, suami dan adikku  duduk di pekarangan. Tapi juga tidak bisa terlalu lama.

Kami bertiga sudah merasakan bagaimana risau, gelisah, khawatir, takut,  ketika suamiku nafasnya pendek-pendek dan harus segera dibantu oksigen. Juga saat aku  demam dan sakit kepala luar biasa tak berkesudahan. Belum lagi perjuangan untuk mendapatkan akses perawatan di rumah sakit rujukan covid-19.

Kerisauan yang sama juga terkait adikku,  yang saat itu,  hasil swabnya negatif. Jangan sampai ia tertular oleh kami, atau daya tahannya menurun karena kelelahan dan atau risau memikirkan kami. Ada isteri dan tiga buah hatinya di kota lain, yang selalu merindukan kepulangan adikku dalam keadaan sehat. Adikku bekerja sebagai enginering di sebuah gedung perkantoran di Kuningan, Jakarta. Kantornya, setiap bulan  melakukan rapid test untuk seluruh pekerja, dan itu cukup membantu kami.

Sikap Tetangga Pada Kami

Ada beberapa suka duka selama aku, suami dan adikku bertetangga.  Yang paling kukhawatirkan adalah penerimaan warga kampung terhadap adikku yang kakaknya positif, dan suamiku yang penyintas covid.  Karena suami dan adikku tinggal di rumah yang berada di area perkampungan, sementara sejak kami sakit, kami lebih banyak berkomunikasi dengan Rukun Tetangga/ RT di komplek perumahan. Hal itu, karena  kami secara administratif masuk ke lingkungan perumahan. 

Jadi yang paling sering aku tanyakan kepada keduanya:  apakah para tetangga kampung mengetahui situasi kami, bagaimana tanggapan mereka, apakah kalian baik-baik saja tinggal di lingkungan baru?. Kekhawatiranku memudar, ketika adikku menceritakan bahwa para tetangga mengetahui situasi kami dan  tidak ada sikap yang mengkhawatirkan. Juga ketika  hari pertama suamiku mengungsi ke rumah tetangga, ia tak hanya menyampaikan kondisinya yang sudah negatif tapi terlibat perbincangan yang panjang dengan salah seorang tetangga di lingkungan kampung. 

Perbincangan mereka mulai dari bagaimana suamiku merasakan gejala covid,  perawatan di rumah sakit,  sampai suamiku dinyatakan negatif. Perbincangan itu, menurutku sangat membantu kami dan para tetangga.

Karena bila kuamati, lingkungan kami itu di satu sisi takut terhadap keluarga yang terinfeksi covid, di sisi lain pengajian dan hiburan yang melibatkan banyak orang terus dijalankan. Mereka juga jarang mengenakan masker ketika belanja ke warung dan interaksi harian di lingkungan tetangga. Jadi ya, semoga perbincangan itu membuat para tetangga semakin merawat kesehatan diri  dan lingkungannya untuk mengikuti protokol covid-19. 

Kekhawatiran lain, terhadap pola makan, tidur dan kerja suamiku. Selama isolasi mandiri dalam satu  rumah, kami bisa saling mengingatkan,  bila ada yang  begadang, malas berjemur atau berolah raga dan kalau makan kurang sehat. Aku khawatir suamiku lebih leluasa melakukan pola yang dapat menurunkan kesehatannya, karena dia suka makan dan mind set tanggung jawab sebagai suami yang harus kerja keras mencari nafkah. Meski bertetangga, aku selalu mengingatkan dia terhadap soal-soal tersebut, walau aku tak dapat memantaunya secara langsung.

Hal-Hal Manis Yang Kami Lakukan

Di luar itu, ternyata ada hal-hal manis selama kami bertetangga. Rasanya kami seperti kembali ke masa pacaran dua puluh tahun lalu. Di jam-jam menjelang makan, ia akan menelponku untuk menanyakan aku mau makan apa, mau dibawakan atau dibelikan apa.

Walaupun aku selalu merebus kentang, telur ayam kampung dan sayuran dari pekarangan rumah terutama untuk sarapan. Karena sejak terinfeksi covid aku mendisiplinkan diri untuk sarapan tepat waktu. Antara pukul 9 hingga 10 kadang sampai jam 11 siang, aku lebih banyak  merawat tanaman di pekarangan sambil berjemur.

Bila suamiku datang membawakan satu french press kopi buatannya di jam-jam itu, itu membuatku bahagia sekali.

Ia juga telaten menanyakan ketersediaan masker, vitamin, obat-obatan dan kebutuhan harian lainnya. Kami juga bergantian masak makanan untuk anjing dan kucing kami.

Namun demikian, jelang tahun baru sendirian, agak sedih juga. Barangkali,  karena ini pertama kalinya aku tahun baru sendirian. Beruntung aku masih dikawani para anjing dan kucing, juga tanaman yang turut merawat kebahagiaanku selama aku isolasi mandiri.

Kini, jam menunjukan tepat pukul 00.00 bunyi petasan dan nyala kembang api semakin ramai. Satu ekor kucingku lari ketakutan ke dalam rumah. Yang lain duduk merapat denganku. Kedua anjingku mulai gelisah. Aku mencoba menjelaskan, agar mereka tak perlu takut. Bunyi-bunyian itu bukan tanda bahaya, tapi manusia sedang merayakan tahun baru.

Aku tatap mata mereka satu-persatu sambil mengucapkan selamat tahun baru dan terima kasih, karena mereka telah membuat masa pemulihanku begitu menyenangkan. Hatiku juga memanjatkan doa untuk kesehatan dan kesejahteraan para tetangga. Juga tetangga yang akan kembali serumah bila aku sudah sehat.

Pamulang, 31 Desember 2020

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Dewi Nova

Penulis 'Perempuan Kopi' dapat dihubungi melalui email dewinova.wahyuni@gmail.com

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email