Perempuan Dituntut Menjadi Ibu Ideal, Tapi Tak Pernah Ada Tuntutan Untuk Bapak Ideal

Perempuan selalu dituntut untuk menjadi ibu yang ideal, tapi kenapa tak ada tuntutan untuk bapak ideal? Buat saya tuntutan untuk menjadi ibu ideal ini hanya akan memecah-belah perempuan

Hai para ibu, apakah kalian pernah dituntut untuk menjadi ibu yang ideal? Waktu pertama mendengar itu, saya seperti pusing kepala tujuh keliling. Kenapa? Karena saya tahu, menjadi ibu ideal yang hidup di tengah kota yang super sibuk dan penuh gejolak emosi ini, sangatlah sulit untuk dipenuhi.

Lagipula, kenapa tidak pernah ada kalimat: menuntut laki-laki untuk menjadi bapak ideal? Yang ada selalu menjadi ibu ideal!

Yang sudah-sudah, diskursus mengenai ibu ideal lalu dipenuhi dengan jotos-jotosan dan pemecah-belahan. Salah satu contohnya adalah ketika ibu harus melahirkan, untuk melahirkan secara normal atau dengan Caesar saja selalu ada pemecah-belahan. Jika melahirkan dengan Caesar, maka kamu tidak akan dianggap sebagai ibu ideal. Ibu yang melahirkan normal adalah ibu yang ideal.

Perdebatan lain tentang ibu ideal yang tak kalah panas adalah ibu penuh waktu di rumah versus ibu bekerja di luar, ini yang sebetulnya hulunya jelas-jelas adalah patriarkisme.

Ibu yang ideal adalah ibu yang bekerja di kantor sekaligus di rumah, menyediakan waktunya di rumah untuk anak dan menyelesaikan semua pekerjaan rumah, namun karir harus tetap bagus di kantor.

Lalu, kenapa tak pernah ada tuntutan untuk bapak ideal? Apakah karena selama ini banyak yang meyakini bahwa yang dikerjakan bapak selalu dianggap ideal: pencari nafkah keluarga.

Padahal ada banyak sekali perempuan yang bekerja di kantor atau di ruang publik. Banyak sekali ibu yang bekerja di publik dan domestik, bahkan ibu yang bekerja di rumahpun sebagai ibu rumah tangga, tak pernah mendapat gaji atau penghargaan selama ini. Namun tetap saja, tuntutan soal ideal tak ideal itu hanya disematkan pada ibu, bukan pada bapak.

Konstruksi tentang ibu ideal tersebut hingga kini tidak pernah hilang. Bahkan, kini eksistensinya bertambah dengan satu wacana baru, yakni tentang “kealamian.”

Kini, ada metode-metode yang dipromosikan sebagai “alami” saat hamil, melahirkan alami, dan mengasuh anak secara alami yang ikut menentukan apakah seorang ibu bisa dianggap ideal atau tidak.

Tentu saja, untuk memenuhi konstruksi tersebut butuh ongkos yang tak murah. Artinya, keistimewaan ekonomi ikut menasbihkan pengelompokan ibu. Maka saya hanya ingin menyatakan bahwa pengelompokan ibu ideal dan ibu tak ideal ini sebenarnya hanya akan memecah belah perempuan dan membenci peran perempuan

Ibu Ideal dan Tak Ideal Dalam Proses Persalinan Alami

Kita lihat ya, dalam soal persalinan, bagaimana kemudian orang lain dengan mudahnya memberikan stereotype tentang ibu yang melahirkan dengan persalinan alami yang disebut sebagai pilihan ibu yang ideal, sedangkan yang lain disebut tak ideal. Padahal memilih persalinan adalah hak perempuan karena perempuan berhak mengatur tubuhnya sendiri.

Kita mungkin sudah tidak asing dengan istilah yang sedang naik daun dalam persalinan alami, yakni gentle birth. Gentle birth meyakini bahwa setiap perempuan memiliki potensi untuk melahirkan secara alami selembut dan senyaman mungkin.

Gentle birth memberikan kendali penuh kepada setiap ibu untuk membaca tubuhnya sendiri. Di dalam gentle birth, ibu bisa memilih posisi persalinan yang nyaman—tidak hanya telentang di kasur, melainkan bisa dengan jongok atau berdiri. Cara ini sebetulnya sudah sejak dulu dipraktikkan oleh nenek moyang kita.

Namun kita mungkin tak pernah membayangkan bahwa persalinan alami akan menjelma sedemikian kompleksnya. Sehingga, di dalam diskursus ini, persalinan alami tidak lagi hanya bisa didefenisikan sebagai melahirkan pervaginaan semata, akan tetapi, ada muatan-muatan lain yang disematkan pada ibu ideal dan ibu tak ideal.

Babak baru pasar persalinan alami ini tak lepas dari peran media sosial, terutama Instagram. Di satu sisi, konten-konten tersebut menjadi sebuah inspirasi. Di sisi yang lain ia menjadi sebuah tekanan baru bagi para ibu. Konten-konten tersebut menjelma fantasi tentang menjadi ibu yang “baik” dan “ideal”. Bahwa, untuk menjadi ibu yang baik, maka seorang perempuan harus memenuhi sekian standar yang salah satunya berupa persalinan alami.

Proses yang dikampanyekan sebagai “alami” dianggap menjadi lebih penting dan bernilai bila dibandingkan dengan kehadiran si bayi itu sendiri. Kealamian itu seolah menjadi sangat sakral dan tidak boleh diingkari dengan intervensi medis. Maka, celakalah bagi perempuan yang melahirkan dengan caesar bila fantasi seperti ini terus menghantui. Seumur hidupnya, ia akan mendapatkan stereotype sebagai ibu yang tak ideal.

Konstruksi seperti ini akhirnya menghasilkan sebuah tekanan yang tentu saja tak ramah bagi kesehatan mental para ibu. Banyak yang merasa bersalah, merasa tak sempurna, dan merasa buruk saat tidak bisa mencapai konstruksi yang dianggap ideal tersebut. Mereka berisiko terjebak pada membandingkan diri sendiri dengan ibu lain. Beberapa merasa gagal menjadi ibu yang baik.

Selain itu, idealisasi atas citra ibu ideal yang baru ini memicu konflik horizontal antara satu perempuan dengan perempuan lainnya. Ya, mompetition! yang tentu tak pernah baik bagi kesehatan mental ibu.

Jadi, stop untuk selalu memberikan penilaian pada ibu ideal dan tak ideal, karena ini hanya akan meminggirkan peran perempuan dan memecah belah perempuan.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Lela Latifa

Seorang ibu dan penulis lepas di sebuah media yang fokus pada pengasuhan serta keluarga

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email