Perempuan Kepala Keluarga, Serba Tak Mudah Tapi Tak Menyerah

Hidup yang serba tak mudah, membuat para perempuan kepala keluarga tak pernah menyerah

Namanya bu Neni. Ia adalah perempuan kepala keluarga. Bersama kelompoknya, Pujasera yang terdiri dari para perempuan kepala keluarga, bu Neni kemudian membuktikan bahwa para perempuan kepala keluarga tak boleh menyerah

Bu Neni adalah perempuan kepala keluarga yang kami temui di sebuah tempat wisata di Sukabumi. Ketika itu matahari mulai terbit. Saya menghidupkan kendaraan mobil yang ada di garasi. Hari Sabtu itu saya bersama istri dan 3 orang teman satu komunitas akan mengunjungi tempat pariwisata yang katanya kekinian di Sukabumi, yaitu Situ Gunung Suspension Bridge.

Tempat wisata ini juga disebut-sebut sebagai jembatan terpanjang di Asia, Suspension Bridge di tengah-tengah ribuan pohon yang berada tepat di dalam hutan Gunung Gede Pangrango.

Ditengah-tengah kerumunan para wisatawan, saya melihat seorang perempuan melambai-lambaikan tangan kearah saya, rupanya dia adalah Tour Guide kami yang sudah kami hubungi.

Dengan kerudung merah yang sudah lusuh dan tas yang terbuat dari plastik bekas kopi, perempuan itu menghampiri kami. Itulah bu Neni.

“Akhirnya ketemu kita, ya,” kata bu Neni sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan kami. Tak lupa kami serahkan ikan yang dibeli tadi kepada perempuan tersebut sebagai oleh-oleh.

Bu Neni usianya 55 tahun, profesinya sebenarnya sebagai pedagang di area wisata Jembatan Gantung Situ Gunung.

“Sebelum ke jembatan kita lihat dulu kios ibu ya, sambil menyimpan ikan,” ujarnya.

Kamipun berjalan bersama dalam keramaian orang menuju bangunan yang cukup megah yang diisi oleh para pedagang di area wisata itu.

“Kenalkan ini temen-temen ibu, mereka semua sama seperti ibu, sebagai perempuan kepala keluarga semua,” jelasnya.

Ternyata Ibu Neni adalah ketua kelompok dari perempuan kepala keluarga yang menghidupi keluarganya dengan berjualan produk – produk hasil kerajinan. Kelompok tersebut menamai dirinya dengan sebutan Kelompok Pujasera.

“Pujasera itu artinya Perempuan Pekerja Serba Bisa, tapi kadang temen sekelompok bilang, Perempuan Janda Serba Bisa,” tambahnya sambil tertawa kecil Ibu Neni.

Pujasera Bertemunya Perempuan Kepala Keluarga

Kelompok Pujasera sendiri memiliki anggota sebanyak 30 orang. Semuanya adalah perempuan kepala keluarga yang harus menghidupi anak – anaknya dari makan, sampai urusan sekolahnya. Bahkan awalnya mereka semua terjerat hutang lintah darat yang berkedok pinjaman berkelompok atau di Sukabumi sering disebut Bank Emok.

Saya takjub dengan perjuangan Ibu Neni yang mampu membangkitkan semangat emak-emak sebayanya yang berada satu kampung dengannya untuk bergerak memanfaatkan potensi wisata disini

“Sekarang dari 30 orang anggota, tinggal sisa 4 orang yang masih memiliki sisa hutang ke renteinir,” kata Ibu Neni sambil memberikan cemilan khas buatannya dari bahan bonggol pisang.

Bu Neni cerita, ia berjuang agar bisa membiayai kuliah anaknya hingga selesai, ia tidak mau anaknya yang juga perempuan menderita, begitu juga dengan anggota Pujasera lainnya yang sama-sama memperjuangkan pendidikan anak-anak mereka agar bisa selesai sampai kuliah meski mereka harus berjuang mencari penghasilan.

 “Saat mengawali, waktu itu kami membuat satu produk yang unik dan berbeda, meski kami benar-benar minim sekali modal, bahkan terbebani dengan hutang,” cerita Ibu Neni sambil menatap kami satu- persatu.

“Waktu itu kami belum memiliki kios-kios untuk berjualan, kami terpaksa harus berjualan keliling menawarkan produk makanan yang berhasil kami buat,” katanya.

Dengan kekuatan serta semangat juangnya, bu Neni berhasil membawa kelompoknya lebih maju meski tertatih. Pemerintah Desa yang asalnya tak peduli dengan usaha mereka, mulai melirik produk Ibu Neni dan kelompoknya sebagai produk unggulan desa.

Hingga akhirnya, bu Neni dan kelompoknya mendapatkan juara Produk Kerajinan tingkat Provinsi Jawa Barat yang membawa nama Kabupaten Sukabumi berada di peringkat pertama.

Tak hanya itu, Pujasera meraih penghargaan kelompok terbaik dalam program komunitas inovasi dalam program pengentasan kemiskinan tingkat Kabupaten Sukabumi yang digelar oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Sukabumi dan mewakili Kabupaten Sukabumi untuk kembali berkompetisi di tingkat Provinsi Jawa Barat.

“Saya sangat bersyukur mendapat penghargaan itu, tapi saat ini yang saya butuhkan bukan penghargaan, melainkan modal,” kata Ibu Neni sambil sedikit terdiam.

Dalam pikirannya selalu tertuliskan bagaimana caranya agar semua anggotanya dapat hidup dengan layak tanpa harus meminta – minta belas kasihan orang lain, dan anak-anak mereka bisa terus melanjutkan jenjang pendidikannya.

“Alhamdullilah anak saya sudah lulus kuliah, sekarang membantu saya mengelola kelompok ini, pokoknya saya berjuang agar semua anggota bisa memperioritaskan pendidikan untuk masa depan anak-anaknya,” tegas Ibu Neni.

Setelah kami ngobrol panjang, kami berkeliling melihat kegiatan dari anggota kelompok Pujasera. Saya melihat satu kios yang di dalamnya menjual berbagai macam kerajinan, dari mulai kaos, topi rajut, tas rajut, obat-obatan tradisional, asinan dan alat musik tradisional.

Di sisi kios lainnya, ada produk berupa sayur-mayur yang dikemas layaknya produk yang dijual di supermarket dengan packaging yang bersih, rapi dan terlihat lebih segar.

“Di kelompok, kami membagi divisi – divisi, seperti kios ini yang khusus menjual produk sayur – sayuran yang dikemas mirip seperti di supermarket,” jelasnya sambil menunjukan kios buah dan sayur yang dikelola anggotanya.

Istri saya pun rupanya tertarik untuk membeli sayuran di Pujasera, karena menurutnya harganya murah tapi berkualitas.

Usai berkeliling melihat kegiatan Anggota pujasera, selanjutnya kami diajak ke tempat tujuan utama yaitu Jembatan Gantung Situ Gunung, untuk bisa melintas di jembatan tersebut kita harus membeli tiket dengan harga Rp.50 ribu perorang untuk melintas pulang pergi. Namun waktu itu kami diberikan tiket gratis oleh Pemerintah Kecamatan Kadudampit melalui Kelompok Pujasera. Ini adalah hasil perjuangan bu Neni dan para perempuan kepala keluarga

Disana kami merasakan sensasi yang begitu menegangkan, bagaimana tidak, untuk melintasi jembatan tersebut kami harus mengenakan sabuk pengaman, dan menahan keseimbangan agar tidak jatuh ke sisi jembatan dan jatuh diketinggian 161 Meter.

“Jembatan ini kapasitasnya 90 orang dalam satu kali lintasan, dan sebelum melintas pengunjung harus mengikuti arahan-arahan dari pemandu,” Kata Ibu Neni seakan memberitahu kami sambil berjalan di tengah jembatan.

Memanfaatkan Wisata Untuk Stop Perkawinan Anak

Sepulang dari jembatan kami langsung kembali ke Kios milik Ibu Neni. Anak perempuan Ibu Neni ternyata sudah menyiapkan nasi liwet dan ikan bakar, kami pun makan bersama sambil melihat para wisatawan yang terus menerus hilir mudik datang dan pergi menuju Jembatan Gantung Situ Gunung.

Menurut informasi dari pos penjaga kepada saya, pengunjung yang sudah tercatat hari ini mencapai 2000 orang. Sebuah potensi pariwisata yang mengantarkan Ibu Neni dan anggotanya bisa hidup dan menghidupi anak – anaknya.

Beberapa media online lokal sempat melansir berita tentang tingginya tingkat pernikahan anak dibawah usia 19 tahun di Kawasan Geopark Ciletuh, Palabuhanratu yang tengah meningkat belakangan ini.  Ini membawa saya kembali mengingat cerita perjuangan Ibu Neni dalam memanfaatkan perkembangan pariwisata di tempatnya sebagai lahan untuk bertahan hidup dan memperjuangkan hak-hak anak dalam menimba ilmu demi masa depan yang lebih cerah.

”Jangan bosan-bosan ya berkunjung ke sini, terus bantu ibu biar bisa terus berjuang untuk lebih kreatif dan inovatif nanti di provinsi ya,” pungkas Ibu Neni.

Ini adalah cerita kegigihan bu Neni, perempuan yang bekerja keras mengelola lingkungannya untuk membiayai sekolah anaknya dan anak-anak di sekitarnya.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Kharis Kustiawan

Kharis Kustiawan

Sehari-hari bekerja sebagai jurnalis, aktif di Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cirebon

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email