Beban Selebritis Perempuan: GA Sudah Minta Maaf Namun Tetap Dihakimi

6 Januari 2020 artis perempuan, GA menyampaikan permohonan maaf kepada publik. Namun pelecehan dan bulan-bulanan pada GA masih terus terjadi. Beban sebagai selebritis perempuan lebih besar: sudah minta maaf, namun tetap saja dihakimi

Artis perempuan GA, dalam konferensi persnya mengatakan permintaan maafnya dan menyatakan bahwa perbuatannya bukan merupakan contoh yang terpuji:

“Kepada semua, wartawan, tim pengacara, sahabat termasuk yang akan menyaksikan saya baik secara langsung maupun tidak langsung, ijinkan dengan kerendahan hati saya untuk mengucapkan permintaan maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia dan seluruh pihak khususnya, keluarga saya, sahabat, teman-teman, orang-orang yang mengasihi saya, partner kerja dan semua pihak yang telah menaruh kepercayaan kepada saya, atas apa yang telah saya lakukan yang bukan menjadi sebuah contoh yang terpuji.”

Dalam video yang bisa diakses publik secara meluas tersebut, GA meminta maaf kepada keluarga, saudara, dan juga masyarakat Indonesia atas video yang tersebar tanpa kehendaknya.

GA dan temannya, MYD ditetapkan oleh polisi sebagai tersangka atas Pasal 4 Undang-Undang Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi. Penetapan itu berdasarkan rekaman video pribadi mereka yang tersebar di dunia maya.

Selain GA, MYD juga meminta maaf kepada publik setelah Ia ditetapkan menjadi tersangka oleh polisi.

Saya sempat membuka Twitter sesaat setelah GA ditetapkan sebagai tersangka. Warganet berlomba-lomba menghakimi GA, yang sebetulnya merupakan korban kekerasan seksual berbasis gender online (KBGO).

“….Kurasa berat deh menggoyang, maunya digoyang saja”

“…Kalau di Korea, udah ditendang jauh-jauh dah Gisel”

Umpatan atau bulan-bulanan ini merupakan logika pengabaian terhadap tubuh perempuan yang tak bisa direpresentasikan: bahkan sudah minta maaf maafpun, tetapi saja dihakimi.

Bukan hanya warganet, media yang seharusnya bisa menjadi sumber informasi dan pendidikan bagi publik, juga turut menghakimi GA.

Di sejumlah media hiburan, GA justru dituliskan seolah-olah menjadi pelaku kekerasan atas berita yang mendulang sensasi. Seperti sejumlah media yang menjadikan pakar mikro ekspresi sebagai narasumber utama

Inilah stempel yang kemudian disematkan pada kita semua bahwa publik boleh melakukan penghakiman dan memberikan standar moral pada seseorang. Dalam konteks GA, polisi melakukannya, beberapa media hiburan juga meneguhkan stempel ini dan kemudian stempel lain yang datang dari masyarakat penonton

Apakah ini karena GA adalah seorang artis? Standar moral yang masih dalam konstruksi patriarki membuat selebritis perempuan seperti GA harus menanggung beban lebih berat. GA harus meminta maaf kepada publik. Padahal Ia sebetulnya merupakan korban kekerasan seksual berbasis online karena video milik GA dan MYD merupakan urusan ranah privat yang tak seharusnya dicampuri oleh publik, termasuk oleh negara dan menjadi urusan hukum.

Bahkan hingga kini, pelaku penyebar video GA dan MYD tak menyebut kata maaf ke publik. Ini semakin meneguhkan bagaimana sensasi atas tubuh menjadi hal yang sangat penting untuk diperbincangkan

Kondisi Perempuan Pekerja Di Industri Hiburan dan Perfilman

Masalah ini tak hanya menjadi pekerjaan rumah bagi dunia hiburan di Indonesia, tapi juga di berbagai belahan dunia.

Tahun 2015 lalu, The Guardian pernah membuat artikel tentang pengalaman seksisme yang dialami oleh 95% perempuan yang bekerja di industri film dan televisi di Hollywood.

Dalam artikel tersebut, mereka menuliskan tentang tantangan para pekerja perempuan yang tubuhnya sering dijadikan obyek dalam film dan suara mereka yang jarang didengar, bahkan dalam industri film besar seperti Hollywood. Salah satu artis yang menceritakan pengalamannya ketika dilecehkan yakni Emma Watson.

“Saya selalu bersikeras untuk diperlakukan sama dan ingin selalu mendapatkan kesetaraan itu. Sebagian besar masalah yang saya temui terjadi di media, di mana saya diperlakukan sangat berbeda dibanding para aktor laki-laki,” kata Emma Watson dalam The Guardian.

Pada 2019 lalu, asiatime.com juga pernah menuliskan tentang masalah toksik maskulin di lingkungan perfilman India. Dalam artikel tersebut, mereka membeberkan tentang penggambaran perempuan yang bermasalah seperti normalisasi budaya pemerkosaan, kebencian terhadap perempuan, dan patriarki.

Kultur toksik maskulin yang disuguhkan kepada publik itu menjadi masalah bagi perempuan di dunia nyata di India dan berdampak pada terjadinya normalisasi kekerasan berbasis gender.

Namun perempuan di dunia hiburan juga masih sulit untuk menunjukkan prestasi mereka. Ini terjadi karena dunia festival film yang belum ramah terhadap perempuan.

Pada 2018 lalu, BBC juga pernah menujukkan data tentang festival perfilman yang jarang sekali dimenangkan oleh perempuan.

Sebagai contoh, mereka memberikan data dari Festival Film Cannes, salah satu festival film yang bergengsi di dunia. Di penghargaan tersebut, hanya Jane Campion, female director yang pernah memenangkan Palme d’Or. Begitu juga dengan penghargaan di Oscars.

Tahun 2020 lalu, The Guardian kemudian membuat sebuah visualisasi data tentang gender gap selama 92 tahun penyelenggaraan Oscars. Dalam penyelenggaraan Academy Awards tersebut, hanya 14 persen perempuan yang masuk dalam nominasi dari semua kategori. Dalam kategori yang paling prestisius seperti best director misalnya, sejak tahun 1929, hanya 5 perempuan dari 449 nominator untuk best director, dan dari kelima tersebut, hanya Kathryn Bigelow, perempuan yang pernah menjadi pemenang.

Dunia hiburan yang belum ramah terhadap perempuan tersebut pada akhirnya membawa dampak bagi selebritis perempuan dan perempuan korban lainnya yang bekerja disana.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Tika Adriana

Jurnalis yang sedang memperjuangkan ruang aman dan nyaman bagi semua gender, khususnya di media. Tertarik untuk mempelajari isu kesehatan mental. Saat ini managing editor Konde.co.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email