Dominasi Suami Pada Istri Di Kumpulan Cerpen Sambal dan Ranjang

Rasa pedas itu datang dari Tenni Purwanti. Dalam sebuah buku berjudul “Sambal dan Ranjang,” Tenni mengungkap bagaimana dominasi dari suami terhadap istri di rumah yang sudah terjadi sejak di dapur hingga ke ranjang

Tenni membungkus rasa pedas itu dalam sebuah cerita, istri yang harus kalah dari narasi dominan suami di rumah tangga mereka.

Kita tahu, pengarang kerap membawa misi dalam karya-karyanya, Tenni Purwanti dalam buku terbitan Gramedia pada Oktober 2020 ini membawa misinya untuk perempuan.

Bertahun-tahun yang lampau, nama Seno Gumira Ajidarma akrab di telinga kita dengan cerpen-cerpen yang tajam melayangkan kritikan kepada pemerintah. Lalu sejalan dengan apa yang dilakukan Seno, cerpenis Agus Noor pun dikenal dengan cerpen-cerpennya bernapaskan kritik dan satir atas pemerintahan pula.

Sementara di ranah yang lain, perihal masalah gender misalnya, kita mengenal sejumlah nama seperti Intan Paramadita atau Ayu Utami yang, dalam karya-karyanya, membawa semangat kesetaraan gender.

Di jajaran penulis perempuan itulah, nama Tenni Purwanti lantas menyeruak. Namun, bila disandingkan dengan sejumlah nama tadi, Tenni barangkali belum begitu akrab di kalangan peminat sastra, khususnya cerpen, di tanah air.

Dari penelusuran singkat, baru beberapa karyanya yang tersiar di beberapa media, baik cetak maupun digital. Ingatan paling baik tentangnya terdapat di tahun 2015, sebab di tahun itu, ia satu dari 16 Emerging Indonesian Writers, Ubud Writers and Readers Festival, dan salah satu cerpennya, Joyeux Anniversaire, masuk di dalam Cerpen Pilihan Kompas Tahun 2014 yangberjudul Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon.

Tahun ini, setelah lama tak terdengar sejak cerpen Surat untuk Anak Perempuanku dimuat di harian Kompas, 14 Januari 2018, pun setelah buku kumpulan cerpennya, Luka, yang diterbitkan secara self-publishing kurang menyedot perhatian, Tenni muncul dengan buku teranyarnya yang bertajuk Sambal dan Ranjang.

Buku yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama initersusun dari enam belas cerpen yang bila ditarik benang merahnya, menuliskan isu perempuan.

Sebagai orang yang lama bergelut di dunia jurnalis, Tenni tampak rajin merajut kisah-kisah yang dekat dengan dunianya. Selain memuat pelbagai masalah yang kerap melanda perempuan, Tenni juga banyak memporsir pengetahuan dan dunia jurnalisme dalam cerpen-cerpennya. Beberapa judul yang amat erat dengan dunia ini seperti “Perempuan dalam Pelukan”, “Gadis yang Memeluk Dirinya Sendiri”, “Salma dan Salwa”, dan “Sally Sendiri”.

Selebihnya, Tenni menjelajahi latar pekerjaan lain, tapi tetap mempertahankan kekuatan utama dari buku ini: bercerita sebagai perempuan, mengangkat isu-isu perempuan, dan membawa misi mendobrak nilai-nilai patriarki. Saking tegasnya suara Tenni, narasi bahwa betapa pentingnya menyuarakan kesetaraan gender di ranah pendidikan, pekerjaan, dan rumah tangga, bisa dijumpai di hampir semua cerpennya. Tenni menyuarakannya dengan menyisipkan dalam dialog antar tokoh, jalan pikiran seorang tokoh, ataupun langsung melalui dirinya sendiri sebagai seorang narator.

Sambal dan Ranjang: Rasa Pedas Dalam Relasi Rumah Tangga

Kata “Sambal” di dalam judul buku ini bisa merujuk ke kritik yang dibawa Tenni lewat cerpen-cerpennya. Sebagaimana rasa sambal, narasi Tenni tentang semangat feminisme begitu terasa pedasnya.

Ia tidak saja mengharapkan pembaca untuk bisa menikmati cerpen-cerpennya, tetapi juga membawa harapan bahwa ada suara perempuan yang ingin ia sampaikan. Terdapat urgensi kemanusiaan perempuan yang mesti diperhatikan di tiap cerpennya.

Perihal urgensi kemanusiaan ini bukanlah istilah belaka. Sebab Tenni, di buku ini, tampak jelas menegaskan hal tersebut dengan menghadirkan cerpen-cerpen yang konflik di dalamnya terasa dekat sekali dengan cerita.

Di dalam cerpen “Misteri 12 April”, Tenni mengingatkan kita akan peristiwa pelecehan seksual yang beberapa waktu lalu merebak di jagat media. Seorang laki-laki asal Indonesia, melakukan sejumlah pelecehan seksual terhadap banyak perempuan dan laki-laki di kota London. Namun, di cerpennya itu, Tenni tidak memfokuskan pada bagaimana’ peristiwa itu terjadi, tetapi lebih kepada dampak yang menimpa korbannya.

Dalam cerpen itu, si tokoh aku-narator mengisahkan perihal misteri tanggal 12 April yang dijadikan tanggal cuti bersama oleh perusahaan tempatnya bekerja. Ia penasaran akan hal tersebut. Namun, teman kantornya tampak tak peduli dengan latar belakang di balik pemilihan tanggal itu. Ia yang penasaran pun terus mencari tahu, tapi orang yang dipandangnya tahu alasan di baliknya, justru selalu bungkam ketika ditanya. Maka, ia pun menguntit pemilik perusahaan. Dari tindakan inilah, ia lantas dibawa ke penjelasan pahit terkait latar belakang pemilihan tanggal 12 April. Dan, yang lebih tragis lagi, itu membuatnya ingat akan peristiwa kelam yang menimpanya di masa lalu.

Hal lain lagi terdapat di cerpen “Sambal di Ranjang” yang agaknya menjadi ide utama pemberian judul buku ini. Tenni mengolah isu rumah tangga dalam renggangnya hubungan sepasang suami-istri akibat hilangnya rasa kepercayaan satu sama lain. Si tokoh aku-narator, seorang istri dari suami yang amat menyukai sambal buatannya, mesti menghadapi ketidakterimaan sang suami ketika ia berencana membuka restoran dengan menu utama sambal buatannya. Ini menjadi soal yang serius, sebab sang suami terus menentang ide tersebut dengan dalih bahwa sambal buatannya hanya boleh dinikmati untuknya seorang.

Persoalan itu tampak sederhana di awal, tapi semakin ke belakang, rupanya tersimpan banyak persoalan gender. Di samping itu, Tenni juga menggarisbawahi betapa sering tenggelamnya suara seorang istri di tengah dominasi suami. Dengan dalih di atas, sebenarnya ada sesuatu yang disembunyikan dan hal ini mengisyaratkan keegoisan sang suami yang mencegah aku-narator untuk berdiri di atas usahanya sendiri. Inilah yang diperkarakan oleh Tenni. Ia dengan gamblang merepresentasikan nilai patriarki yang kuat bercokol dalam rumah tangga tersebut, dan itu membawa dampak yang sangat merugikan si aku-narator.

Semangat pembebasan perempuan pun tak berhenti di cerpen-cerpen tadi. Di bukunya ini, Tenni juga sering menonjolkan tokoh-tokoh perempuan yang mendobrak kungkungan keluarga. Soal ini tampak sedemikian jelas, misalnya, di cerpen “Surat untuk Anak Perempuanku”. Memakai format sebuah surat untuk seorang anak di masa depan, Tenni menjelma aku-narator yang secara runut menarasikan bagaimana “surat” tersebut bisa ada, berikut rekam kehidupannya. Di dalamnya, dikisahkan bagaimana ia memilih kabur dari rumah, kemudian bersekolah di luar negeri, hingga menjalin hubungan dengan laki-laki.

Namun, perihal yang terakhir rupanya menjadi petaka. Dan, bermula dari pengalamannya itulah, ia memberi nasihat kepada anaknya bahwa menjadi perempuan itu bukanlah hal yang mudah. Si aku-narator tak lupa mengingatkan betapa tantangan yang dihadapi seorang perempuan kerap lebih berat dari yang dialami laki-laki. Ia membawa semangat seorang ibu yang ingin anaknya tumbuh menjadi perempuan yang kuat, sebab dunia yang di masa depan dijajaki si anak yang ia bayangkan masih dipenuhi masalah ketidakadilan.

Kritikan untuk cerpen-cerpen ini, Tenni tak sekali-dua kali terjebak dalam narasi khas pengkotbah yang mengganggu kenikmatan cerita. Dialog salah satu tokoh kerap menjadi pelaku utamanya, di samping terdapat narasi yang terbaca mentah bak penjelasan di sebuah esai.

Namun, terlepas dari masalah tersebut, cerpen-cerpen di buku ini setidaknya berhasil menyuarakan kegelisahan penulisnya.

Buku ini membuka mata, betapa masyarakat belum sepenuhnya terbebas dari cengkeraman budaya patriarki yang merugikan, dan betapa permasalahan sosial yang berakar dari hal tersebut masih sering terjadi. Dan, Tenni, secara baik merekam hal-hal semacam ini.

Wahid Kurniawan

Penikmat buku, mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email