Transpuan Mengubah Penampilan Untuk Merebut Ruang

Jika orang bertanya mengapa banyak transpuan yang mengkolase tubuhnya atau mengubah penampilannya menjadi 'mirip perempuan?' buat saya kolase tubuh adalah medium perjuangan transpuan untuk merebut ruang. Dalam kolase itulah, para transpuan sedang merebut ruang pengakuan, ruang provokasi sekaligus ruang pemberontakan

Minimnya pengakuan terhadap transpuan, membuat banyak transpuan kemudian membuat kolase atau mengkolase tubuhnya. Ada yang memoles make-up di wajahnya sehingga mirip dengan ‘perempuan’, ke salon untuk mengubah kulit, menyulam alis, mengecat rambut.

Bagi saya, ini adalah upaya transpuan untuk ‘lahir kembali’ dan merebut ruang yang selama ini mengesampingkan transpuan. Jika orang lain masih memperdebatkan bahwa orang yang melakukan ini artinya tidak mensyukuri apa yang ada dalam tubuhnya, namun bagi saya justru sebaliknya, karena ini adalah gerakan untuk merebut ruang yang selama ini hanya menerima orang yang secara lahir diakui masyarakat, namun tak menghargai seseorang yang ingin ‘menjadi perempuan’

Upaya merebut ruang ini salah satunya dilakukan dengan mengkolase tubuh. Kolase bagi saya adalah medium pemberontakan dalam seni. Sama dengan upaya yang dilakukan transpuan yang mengupayakan kesetaraan dalam hidupnya untuk menghadapi persoalan sosial. Salah satu pemberontakan adalah dengan mengkolase tubuh. Jadi bagi transpuan, mengkolase tubuh sama dengan mengkolase hidup.

Kolase sendiri menjadi medium karena sejatinya kegiatan menempelkan potongan dari berbagai medium untuk menjadi satu bentuk utuh yang dalam filosofi transpuan adalah untuk menyambung hidup.

Kolase menjadi lambang pemberontakan, teknik memadukan bentuk sedemikian rupa yang akan menjadi indah ketika penanggap atau orang lain dapat menangkap maknanya. Kolase juga menjadi lambang provokasi ketika transpuan harus memilih jalan hidup yang dianggap berbeda. Dan kolase adalah pengakuan dimana transpuan melakukan ini karena posisi dirinya yang selama ini telah dikesampingkan, sebuah jalan menolak diskriminasi

Transpuan sendiri bagi saya adalah individu yang unik dan senang bereskpresi, keberadaannya selalu menjadi desas-desus, ujaran bahkan diskursus kebencian dalam ilmu, seni dan agama. Hidupnya menjadi penting dan menarik karena selalu dianggap membawa pengaruh negatif.

Kolase di tubuh transpuan tentu tidak sekedar potongan wajah baru, penampilan baru, tampilan payudara baru, alat kelamin dan rambut baru, tapi kolase di tubuh transpuan adalah potongan-potongan peristiwa, pengalaman, suka, duka yang tiada habis-habisnya untuk dibahas. Kolase ini juga merupakan seni provokasi baru dimana transpuan kemudian berjuang untuk merebut ruang di masyarakat, merebut pengakuan dari masyarakat

Kolase juga menggambarkan perjuangan menghadapi stigma masyarakat, berjuang dengan identitasnya untuk diterima di masyarakat, juga berjuang secara spiritual demi mendapat kedamaian sebagai manusia

Bagi saya, kolase bagi transpuan adalah potongan kehidupan baru atas pilhan jalan hidup. Potongan-potongan kolase kehidupan transpuan ini seperti upaya meletakkan potongan pengalaman, pemikiran dan perasaan yang selama ini dirasakan.

Potongan baru ini kemudian menjadi Dorce Gamalama, Dena Rachman, Oscar Lawalata yang telah ‘lahir baru’, karena sejatinya kolase adalah sebuah seni tanpa batas, seni yang menghargai perbedaan dan keberagaman.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Jessica Ayudya Lesmana

Jessica Ayudya Lesmana

Penulis Waria Autodidak dan Anggota Tim Cemeti

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email