Unpaid Work: Mengapa Ibu Rumah Tangga Tak Pernah Mendapatkan Gaji

Pekerjaan di rumah yang selama ini banyak dikerjakan ibu atau perempuan tidak pernah dianggap sebagai kerja. Jika di Kartu Tanda Penduduk (KTP) tertulis pekerjaan sebagai: ibu rumah tangga, ini hanya sekedar stempel saja, karena nyatanya ibu rumah tangga selalu unpaid work atau melakukan kerja yang tak pernah dibayar

Kita pasti hapal, di setiap momentum yang berkaitan dengan perempuan, seperti Hari Kartini, Hari Ibu dan Hari Perempuan, ada banyak ucapan yang memuja-muji kerja-kerja domestik yang dilakukan oleh perempuan.

Masalahnya, entah disadari atau tidak, glorifikasi  semacam itu justru mengukuhkan anggapan patriarki soal pembagian kerja dalam rumah tangga: laki-laki sebagai kepala rumah tangga dan pencari nafkah, sementara perempuan sebagai pengurus merangkap pekerja rumah tangga.

Tapi mungkin ada yang bilang: “Oh, itu bentuk pujian terhadap kerja perempuan dalam rumah tangga. Artinya, masyarakat mengakui kontribusi kerja domestik perempuan dalam kehidupan sosial.”

Hingga sekarang ini, kerja rumah tangga yang dilakukan perempuan, dari mengurus rumah seperti memasak, mencuci, dan lain-lain hingga kerja-kerja perawatan seperti merawat anak, merawat Lansia, masih tergolong “kerja tak dibayar”  atau unpaid work.

Janggalnya, kendati kapitalisme muncul dengan semangat menghargai kerja manusia, dengan memastikan semua kerja manusia harus dibayar (upah), tetapi turut mengambil keuntungan dari unpaid work ini.

Movement Mondial des Meres dalam https://www.un.org/esa/socdev/csocd/2014/FlorenceVonErb.pdf menuliskan bagaimana kerja-kerja perempuan selama ini dianggap sebagai bukan kerja produktif, tak dianggap sebagai kerja. Dan kapitalisme diuntungkan dari kerja-kerja ini.

Bagaimana kapitalisme diuntungkan dari kerja-kerja perempuan yang tak dibayar?

Bagaimana kapitalisme diuntungkan dari kerja perempuan yang unpaid work? Saya mencatat beberapa hal berikut:

1.Tidak semua hasil produksi oleh kapitalisme bisa langsung dikonsumsi

Ikan segar tak bisa langsung dimakan, tetapi dibersihkan dulu, lalu dimasak. Begitu juga dengan terigu, margarin, telur, dan gula pasir. Ada kerja khusus untuk mengubahnya menjadi kue.

Kerja tersebut adalah memasak. Kerja mengubah bahan-bahan mentah menjadi makanan yang tersaji di meja makan. Di rumah tangga, kerja ini dilakukan oleh perempuan, yang selama ini tidak pernah dibayar alias gratis.

2.Perempuan berkontribusi dalam reproduksi tenaga kerja

Kerja domestik perempuan berkontribusi pada apa yang disebut oleh Karl Marx sebagai “reproduksi tenaga kerja”. Berkat kerja-kerja domestik, seperti memasak, mencuci, dan kerja-kerja perawatan, tenaga kerja senantiasa terpulihkan, sehingga bisa hadir di pabrik setiap hari.

Coba bayangkan seandainya tak ada dukungan kerja-kerja domestic, untuk memulihkan tenaganya, buruh harus membeli makanan dan minuman. Bila badannya terserang letih dan pegal, dia harus membayar jasa tukang pijat. Tentu saja, buruh harus mengeluarkan uang lebih banyak. Hal itu akan mendesaknya untuk menuntut upah dan tunjangan yang lebih tinggi.

3.Kerja domestik perempuan juga terkait dengan jam kerja kapitalisme

Meski kerap diremehkan, kerja domestik itu sebetulnya bersifat wajib. Tanpa kerja domestik, tak mungkin makanan tersedia dan terhidang di meja makan. Tak ada kopi dan teh panas yang menyambut di kala pagi. Tanpa kerja domestik, tak mungkin rumah bersih dan rapi begitu saja.

Jadi, semakin banyak kerja domestik yang dilakukan perempuan, maka semakin banyak waktu luang bagi laki-laki. Dan bagi kapitalisme, inilah yang disebut sebagai kesempatan untuk mengintensifkan waktu kerja.

Nah, coba bayangkan kalau tak ada kerja domestik perempuan, maka semua kerja-kerja domestik tadi harus dikerjakan oleh laki-laki

Jika ada yang bilang mungkin itu bisa diatasi dengan menggunakan jasa pekerja rumah tangga (PRT). Tapi ingat, tak ada PRT yang bisa dibayar secara cuma-cuma. Itu berarti buruh harus punya gaji yang tinggi, sehingga bisa menyisihkan sebagian gajinya untuk membayar PRT-nya.

4.Kerja domestik berkontribusi pada tinggi rendahnya upah pekerja

Semakin banyak kerja domestik yang dilakukan perempuan, maka semakin sedikit juga biaya yang harusnya dikeluarkan untuk urusan kerumahtanggaan.

Berkat kerja domestik, banyak kebutuhan yang bisa didapatkan dengan murah. Mulai dari soal makan, ngopi atau ngeteh, pakaian yang bersih, ruangan yang bersih, hingga tempat tidur yang bersih.

Tidak begitu mengherankan, di negeri-negeri yang masih terkungkung oleh patriarki, dengan anggapan sosialnya yang menempatkan perempuan sebagai pengurus rumah tangga, upah pekerjanya relatif lebih rendah.

“Semakin kapital menekan upah dan mengintensifkan jam kerja, maka semakin besar beban yang ditimpakan ke rumah tangga,” tulis Michael Lebowits, seorang ekonom marx, dalam artikel The Path to Human Deveploment: Capitalism or Socialism.

Begitulah, betapa kapitalisme diuntungkan oleh kerja domestik. Pahitnya, bukan hanya tak dibayar, kerja domestik juga terkadang dianggap bukan pekerjaan. Kerja yang dianggap bukan kerja.

Berapa Banyak Perempuan Bekerja Dan Tak Digaji?

Secara global, perempuan menghabiskan tiga perempat atau 76.2 persen dari total jam mereka setiap harinya untuk melakukan pekerjaan perawatan tidak dibayar.

Di Indonesia, berdasarkan survei Jurnal Perempuan pada 2018, rata-tata Ibu rumah tangga (IRT) di Indonesia menghabiskan 13.5 per jam sehari untuk kerja-kerja domestiknya.

Sementara gerakan buruh memperjuangkan jam kerja 8 jam sehari sejak awal abad ke-19, lalu mulai terwujud di permulaan abad ke-20, pekerjaan-pekerja domestik dan perawatan rata-rata dilakukan masih di atas 12 jam sehari.

Tak salah, banyak yang menyebut pekerjan domestik sebagai bentuk perbudakan di abad modern.

Tentu saja, kita tak bisa membiarkan kerja-kerja domestik tetap sebagai unpaid work. Juga tak bisa melanjutkan anggapan sosial yang menempatkan perempuan sebagai pekerja domestik.

Untuk itu, negara harus mengakui pekerjaan domestik dan kerja perawatan sebagai kerja produktif yang bernilai ekonomi dan bermanfaat bagi masyarakat.

Ide memberi insentif atau gaji bagi pekerja domestik dan kerja perawatan atau wage for housework harus dipertimbangkan.

Dalam jangka panjang, kerja domestik tak boleh lagi dianggap unpaid work dan tak boleh lagi dianggap tugas perempuan. Jika tak pernah dibayarkan, ini bisa dikerjakan oleh siapa pun, baik laki-laki maupun perempuan

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Rini Mardika

Rini Mardika

Ibu dari seorang anak perempuan. Suka menulis isu-isu kesetaraan gender, sosial, politik, dan Cerpen. Saat ini aktif sebagai Sekretaris Jenderal Organisasi Perempuan Aksi Perempuan Indonesia (API) Kartini. Bisa dihubungi lewat Facebook: rini.hartono2014 dan Twitter: @RiniIbarurri

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email