Berpikir Kritis, Mengapa Malah Dibully Di Media Sosial

Berpikir kritis itu ternyata tidak mudah, di media sosial selalu ada yang membully ketika kita berpikir kritis. Padahal berpikir kritis adalah salah satu cara kita dalam menolak pemikiran patriarki

Sejumlah teman merasa dibully ketika menuliskan komentarnya dalam menolak perilaku patriarki di media sosial. Netizen selanjutnya ikut membully. Ini yang membuat kita jadi malas untuk menuliskan pemikiran kritis kita di media sosial. Padahal media sosial adalah ruang yang harus kita isi dengan pemikiran-pemikiran kritis

Kenapa kita harus berpikir kritis? Pertama karena berpikir kritis itu sama seperti bernapas. Memang ada ya, orang hidup tanpa bernapas? Tidak ada bukan? Begitulah intinya. 

Apalagi untuk perempuan. Jika kita tidak berpikir kritis, maka kita tidak bisa memperjuangkan hal-hal yang membelenggu perempuan selama ini. Jadi, berpikir kritis bisa memberikan kontribusi untuk pemikiran perempuan dalam menolak patriarki

Salah satu elemen berpikir kritis adalah: kita harus bertanya, kita harus punya rasa penasaran yang tinggi sehingga ketika kita bertanya, kita akan mengerti.

Tapi ternyata banyak orang yang tidak bisa berpikir kritis karena lingkungannya, termasuk sayapun terkadang belum bisa berpikir kritis. Ini yang membuat saya sangat tertarik untuk terus belajar supaya bisa berpikir kritis. Karena setiap hari kita selalu dihadapkan dengan permasalahan-permasalahan, isu-isu atau narasi-narasi yang tidak pro terhadap perempuan. Jika tak mau terjebak ke dalam pemikiran dunia patriarki, maka kita harus berpikir kritis dan menuliskan, menyampaikan pemikiran kita

Maka dari itu yang dibutuhkan adalah suatu skill set, supaya kita bisa membuat keputusan yang matang dan bijaksana yang intinya benar-benar sudah kita pikirkan. Berpikir kritis itu juga tidak cuma berlaku di sekolah, kampus atau di tempat kita bekerja, tapi juga di kehidupan kita setiap hari kita harus bisa berpikir kritis. Yang jadi permasalahan, seringkali di lingkungan, mereka tidak mendukung kita untuk berpikir kritis.

Seringkali ketika ada orang yang bertanya, malah dianggap ini sebagai keingintahuan yang terlalu tinggi, jadi ini dianggap negatif dan ribet, bahkan di cap terlalu cerewet. Selain dianggap ribet, banyak bertanya juga kadang dianggap sok tahu, sok pinter, padahal kalau dipikir lagi, jika ada orang yang bertanya, pasti itu karena dia tidak tahu bukan?

Nah, tapi ketika kita tanya ke orang yang lebih tua, kita seringkali dianggap terlalu cerewet atau kurang ajar. Apalagi kalo kita tanya soal agama, malah sering dianggap macam-macam

“Kenapa sih dipertanyakan, sudah lakuin aja!”

Mereka malah melihat seakan-akan iman kita rendah. Padahal sebenarnya kritis terhadap agama bukan berarti kita tidak beriman, tapi justru kita ingin menambah keimanan kita dengan cara menggali lebih dalam tentang agama, makanya kita tanya, karena ini salah satu ciri bahwa kita memang sedang berpikir

Berpikir kritis soal perempuan juga malah sering mendapat cemoohan, mendapat kritik pedas di media sosial, dianggap sok paling tahu segalanya, dan kadang dibully. Hal ini kadang menjadikan nyali kita ciut. Padahal siapa saja boleh berpikir kritis ataupun berbeda, tak ada yang salah dengan ini

Berpikir kritis ini sendiri sudah dibahas oleh para filsuf sejak lama. Berpikir kritis ini adalah proses kita mengidentifikasi suatu masalah, mengobservasi, menganalisa, mengevaluasi, merefleksikan dan akhirnya kita memiliki opini sendiri. Disini kita harus menjadi aktif dan harus banyak mencari informasi.

Berpikir kritis juga bukan hanya sekedar setuju atau tidak setuju, tapi untuk mengevaluasi narasi atau masalah secara keseluruhan. Dan selanjutnya memahami dan mempertimbangkan semua hal yang berhubungan dengan masalah tersebut.

Beberapa catatan saya mengapa kita butuh berpikir kritis antaralain:

1.Berpikir merupakan kemerdekaan dan kita punya kepemilikan 100% terhadap keputusan kita

2.Kita harus percaya diri dengan opini dan pemikiran diri kita

3.Berpikir kritis membuat pikiran kita menjadi terbuka

4.Mengembangkan literasi dan agar kita terhindar dari manipulasi

Tidak setiap saat memang kita bisa berpikir kritis, kadang ada faktor personal atau dipengaruhi emosi kita. Disini kita harus sadar semua hal itu bisa terjadi, ketika kita ada bias kita juga sadar, ketika kita emosi kita sadar supaya otak kita memberi sinyal kepada diri kita bahwa kita sedang tidak rasional. Intinya kita butuh latihan terus menerus setiap hari supaya kita makin bisa berpikir kritis

Dan berpikir kritis tak boleh dibully, karena semua orang punya hak untuk mengekspresikan pemikirannya.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Rizki Emillia

Seorang mahasiswi Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta yang ingin sukses tapi malas dan hobinya makan

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email