Pengalaman Saya: Bersahabat Dengan Perempuan Terasa Lebih Menyenangkan

Buat saya, bersahabat dengan perempuan itu terasa lebih menyenangkan karena saya bisa bercerita apa saja. Perbincangan tentang siapa sahabat sejatimu memang selalu menarik perhatian teman-teman kami. Kami kerap membicarakannya di rumah, di café, di kampus.

Siapakah sahabat sejatimu? Jangan-jangan dia adalah orang di dekat kita yang tak pernah kita sadari selama ini.

Entah kenapa, selalu ada permbicaraan tentang sahabat sejati. Pertanyaan selalu dimulai ketika kita mulai berpikir dan menanyakan:

Sebenarnya, siapa sih, sahabat sejatimu?.”

Perbincangan seperti ini juga menarik di banyak kelompok perempuan yang pernah saya ikuti. Kami melontarkannya di rumah, di café, di kampus-kampus kami. Apalagi di reuni-reuni sekolah yang sering kami bikin.

Simpel saja, buat saya sahabat sejati adalah orang yang ada ketika ketika saya susah, jatuh, tidak tahu harus kemana. Sahabat seperti ini biasanya akan datang, sekonyong-konyong tanpa diminta. Ia datang menawarkan bantuan. Benar-benar yang dibutuhkan adalah ketulusan hati. Begitu selalu yang ada dalam pikiran saya.

Kawan perempuan saya yang lain berpikir tak jauh beda. Ia bilang, sahabat sejatinya adalah orang yang datang waktu ia susah, waktu ia butuh bantuan. Gentingnya bocor, datang ketika kita lagi putus pacar dan mewek, atau tiba-tiba datang bawa rantang makanan dan buah-buahan segar.

Lalu pernyataan selanjutnya adalah: sungguh kasihan para sahabat ini, mereka adalah orang yang kita posisikan sebagai orang baik yang selalu harus datang ketika kita susah.

Tapi apakah kita pernah merawat persahabatan ini? Pernahkah kita memperlakukan hal yang sama pada sahabat kita? Jangan-jangan kita hanya bertemu ketika kita susah dan membutuhkan sesuatu.

Dimanakah waktu kita senang? Apakah kita juga pernah mengingatnya?

Hampir 50 persen sahabat-sahabat perempuan saya ini mengatakan bahwa ternyata sahabat sejati mereka adalah ibunya. Ibu adalah orang yang tak pernah capek ketika kita minta tolong.

Waktu itu Rita, salah satu sahabat saya habis melahirkan. Yang dia lakukan pertamakali adalah: ia mau melahirkan di kota tempat ia berasal. Karena apa? Karena ia ingin dekat dengan ibunya. Waktu anak pertamanya rewel, ia bisa minta tolong ibunya, waktu ia capek luar biasa karena menjaga anak seharian, yang dimintain tolong untuk berjaga adalah ibunya.

“Ibu adalah perempuan luar biasa yang ternyata ada di sekeliling kita, termasuk kalian loh…,” Kata Rita.

Teman saya yang lain juga merasakan hal yang sama. Dengan suaminya atau pacarnya, ia bisa merasakan kadang tidak enak hati ketika meminta tolong, tetapi dengan ibunya ia bisa meminta tolong apa saja, kapan saja.

“Ternyata emakku itu orang yang paling bisa kuharapkan dalam hidupku di dunia ini, loh,” Kata Sania.

Lalu kami mulai menghitung, apakah selama ini kami sudah menyediakan waktu untuk sahabat kami? Untuk ibu kami?

Intinya, perbincangan kami sore itu selalu mengingatkan kami pada makna persahabatan diantara kami. Dan ibu, perempuan ini selalu berada di tempat paling spesial bagi kami. Ibu adalah perempuan yang selalu menyediakan waktu untuk kami, ibulah yang mengajari kami bagaimana memaknai persahabatan di dunia kami. Mungkin ini yang sering kita namakan sisterhood.

Maggie Humm dalam ensiklopedia feminism pernah menulis, sisterhood ini kadang-kadang disebut juga sorority (perkumpulan) perempuan yang mencakup gagasan dan pengalaman ikatan perempuan, penguatan diri yang berpusat pada perempuan dan pengalaman perempuan. Ada juga yang menyebut sebagai tempat pertemuan sejarah pribadi para perenpuan.

Bell Hooks dan para feminis kulit hitam pernah menyatakan bahwa perkumpulan seperti ini mempunyai fungsi untuk menghapus perbedaan. Pertemuan ini tentu tak hanya berfungsi untuk berbicara, bertukar gagasan tentang perempuan, namun untuk saling memberikan kekuatan untuk perempuan.

(foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Alea Pratiwi

Blogger dan Vlogger, Penikmat Kopi Sore-Sore

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email