Ibu, Perannya Tak Kelihatan, Padahal Ia Malaikat Bagiku

Jika kamu tanya siapa idolaku sesungguhnya? idolaku adalah para ibu yang perannya tak pernah kelihatan, padahal ia adalah malaikat bagi anak-anaknya

Saat itu saudara saya sedang mengadakan acara. Saudara kami ini mengundang teman dan saudara yang lain, juga beberapa tetangga. Yang laki-laki menyambut tamu di teras rumah, sedangkan perempuan menyiapkan makanan. Beberapa anggota keluarga yang lain mulai berdatangan, termasuk saudara jauh, yang sayapun hampir tidak mengenalnya.

Dari jauh, saya melihat seorang perempuan membawa dua anak laki-laki yang masih kecil. Satunya Balita, dan satu lagi masih menyusui. Ia tampak menyeberang jalan sambil memegangi salah satu anaknya dan menggendong anak yang satunya lagi. Dengan susah payah, ia berjalan melewati kerumunan orang agar bisa sampai ke rumah saudara kami ini. Belakangan, barulah saya tahu bahwa ibu tersebut adalah yang pernah masuk di pesantren keluarga atau masih merupakan saudara kami

Acara berjalan baik, dan ternyata, ketika pulang, ibu tersebut menumpang mobil kami untuk pulang ke rumahnya. ia duduk di pinggir, lalu anak tertua bersebelahan dengan saya. Sementara anaknya yang masih bayi ia gendong.

Ia membuka percakapan.

“Kuliah dimana?” tanyanya.

“Kuliah di Surabaya,” jawab saya sambil bermain gadget.

Selama di dalam mobil, ia berbincang dengan ayah. Sesekali dengan saya, hanya untuk sekedar bertanya tentang kuliah yang saya ambil. Raut mukanya pun menunjukkan seorang yang bahagia setiap kali mendengar jawaban saya. Sepertinya ia ikut senang, anak kecil yang dulu ia ajak main kini sudah mahasiswa.

Lalu ayah saya bertanya “suamimu kemana kok tadi nggak ikut?.”

Saya yang awalnya fokus bermain handphone langsung menaruhnya. Penasaran dengan jawaban si Mbak. Ia pun menjawab

“Biasa. Sakit. Lambung, pusing.”

Hening.

Saya terdiam untuk beberapa waktu. Mengulang kembali bagaimana ia dengan tubuhnya yang kurus dan tidak terlalu tinggi, membawa dua anak laki-laki dengan kedua tangannya menyeberang diantara kendaraan yang berlalu lalang. Belum lagi ketika di dalam perbincangan, salah satu anaknya yang mulai merengek karena mengantuk dan bosan, ia harus segera mencari cara untuk menenangkannya, entah dengan menunjukkan sesuatu agar anaknya tertarik sambil menyusuinya. Sementara anak tertua dialihkan untuk berbincang dengan kami.

Suaminya di rumah, tidak menemaninya yang sedang repot. Sepertinya pemandangan seperti ini makin sering saya lihat.

Semenjak itu, saya sadar jika semua Ibu adalah hebat. Bagaimana ia memutar otak mencari cara agar bisa menghandle anaknya dalam segala situasi: agar anaknya tidak menangis dan merengek ditengah perbincangannya bersama orang lain.

Lalu dalam keadaan yang rumit, ia lalu mencopot kancing bajunya untuk menyusui. Pun ketika suaminya tidak bisa mendampingi, ia rela membawa kedua anak kecilnya tanpa mengeluh. Padahal ia bisa saja menitipkan kedua anaknya kepada keluarga di rumah.

Sesungguhnya,hal-hal kecil seperti inilah yang kebanyakan dari kita tidak menyadarinya. Mother’s struggle is no limitation, but sometimes we don’t see her as an angel.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Dzikra Nasyaya Mahfudhah

Mahasiswi jurusan kimia Universitas Negeri Surabaya. Senang membaca sejak kecil, terutama novel fiksi karya Tere Liye. Mulai menulis kumpulan cerita pendek bergenre anak-anak, hingga kini lebih tertarik pada isu sosial dan perempuan. Pernah menjadi student exchange di China

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email