Tentang Surat dan Cinta Perempuan Yang Terlambat

Pertanyaan yang paling aku benci adalah, "apa yang kau kerjakan setiap hari?." Anggap saja aku sedang menulis banyak pesan dan menatap gawaiku selama empat puluh jam seminggu. Kau tahu khan, jika untuk saat ini, itu adalah pekerjaan yang paling berbahaya di planet ini?."

Pertanyaan tentang apa yang aku kerjakan setiap hari, adalah pertanyaan menyebalkan seperti ketika kita membicarakan konspirasi vaksin dan pandemi.

“Memangnya apa pedulimu?,” aku bertanya pada mereka, jantungku memompa dengan cepat – dan melonjak seiring dengan amarah yang memuncak.

“Bisakah kau berhenti menanyakan itu?”

Aku tahu, aku seharusnya tidak perlu menjadi begitu emosional, bagaimanapun, mereka hanya mencoba untuk mengenalku dengan lebih baik. Ketika amarahku mereda dan seringai iblis memudar dari wajahku, aku lalu berkata,

Maaf. Anggap saja aku sedang menulis banyak pesan dan menatap gawaiku selama empat puluh jam dalam seminggu. Kau tahu kan, itu adalah pekerjaan yang paling berbahaya di planet ini.”

Ada saat di mana aku begitu menyukai teknologi dan percaya bahwa tidak ada hal lain selain hal-hal positif yang ditawarkannya – yang mungkin dapat mengantarkan banyak orang ke masa depan yang lebih baik. Kita hidup di dunia yang segala sesuatunya terjadi begitu cepat karena bantuan teknologi. Jika kita mau berterus terang, harus diakui itu memang sangat membantu.

Namun demikian, belakangan ini harus aku akui, aku merasa mulai tidak menyukai teknologi dan arus informasinya yang serba instan itu. Kita kehilangan sesuatu secepat ketika kita mendapatkannya – dalam sekejap. Dan karena ketergesa-gesahan itulah, banyak dari kita akhirnya kehilangan romantisme kita.

Namun, selama setahun terakhir aku banyak menghabiskan waktuku dengan menulis surat. Ini adalah aktivitas yang nyaris tidak ada lagi di era digital ini. Aku menemukan orang-orang yang berpikiran sama di saat di mana aku mulai membenci internet. Salah satunya Dwi.

Aku berkenalan dengan Dwi di salah satu grup online penulis. Di sana lah aku akhirnya menemukan lingkungan dan teman baru yang memiliki pandangan dan hobi yang sama – yang paling tidak dapat diajak untuk saling berbalas surat dan bertukar pikiran satu sama lain.

Menyelam ke dunia penulisan surat di tengah kemajuan teknologi dan informasi yang serba cepat ini memang tidak biasa. Secara tidak langsung kita dihadapkan pada dua persepsi akan realitas; di satu sisi, aku dihadapkan pada realitas digital emoji dan rangkaian pertanyaan, fakta, dan hal-hal yang harus dilakukan, sementara di sisi lain, aku dihadapkan pada gaya penulisan manual, kuno, dan lamban seperti apa yang tengah aku kerjakan.

Ketika aku memikirkan tentang penulisan surat, aku membayangkan bagaimana aku memindahkan pikiran, perasaan, dan keinginanku ke dalam tinta, dan kemudian mengukirnya ke secarik daluang. Tekanan pena kemudian akan menciptakan alur kata, tempat, dan juga waktu. Meskipun masifnya aktivitas online membuat hal ini kurang menarik dan nyaris lenyap, namun terkadang hanya hal ini lah yang kita butuhkan untuk jatuh cinta.

Dwi memiliki gaya penulisan surat yang menurutku sangat memesona. Ketika penanya mengukir kalimat indah ke dalam kertas, ia seolah-olah tengah membangun parit untuk diisi oleh pikiran dan emosinya. Aku memang belum pernah bertemu dengannya secara langsung, aku hanya tahu bagaimana cara dia mengukir perasaanya di atas kertas saja.

Ketika aku menutup mata, aku membayangkan rambutnya yang jatuh tepat di bawah bahunya. Warnanya hitam, mungkin dengan sedikit warna pirang di ujungnya. Matanya yang berwarna coklat dengan kilatan emas laiknya matahari kecil itu seolah mencoba mendorongku untuk mendekatinya.

Namun begitu, aku khawatir jika apa yang aku bayangkan itu tidak sesuai dengan kenyataan. Terus terang kami sudah pernah membicarakan tentang kapan kami akan bertemu secara langsung; namun begitu kami berdua juga masih menikmati kegembiraan erotis di mana kami bisa saling mengirimkan surat satu sama lain di balai pos.

Tiap surat yang ia kirimkan selalu datang dengan bekas bibirnya yang berserakan di tiap halaman suratnya, di mana surat itu selalu tersegel dengan bekas bibirnya.

Hanya melalui tulisan tangannya lah aku bisa membayangkannya dan saling bertegur sapa satu sama lain dengannya. Meskipun mungkin aku tidak akan pernah menemuinya secara langsung, paling tidak mataku dapat membaca pikirannya melalui tiap halaman surat yang ia kirimkan. Aku bisa merasakan jari jemarinya saat aku menelusuri goresan penanya di atas kertas, dan aku bisa mencium aromanya ketika aku mendekatkan wajahku ke tempat di mana tangannya pernah menari sebelumnya, menyeret pena ke kertas, menggali kata-kata untukku.

Namun, karena berbagai macam alasan, aku merasa kami tidak akan pernah bisa bertemu, meskipun hanya sekadar mengobrol di telepon. Tidak ada yang bisa kami lalukan selain menulis, menulis, dan menulis. Aku hanya bisa membayangkannya sepanjang hari.

“Sejauh yang kutahu, tidak ada orang yang dapat dibandingkan denganmu. Apa kau menyadari bahwa mungkin saja kita tidak akan bisa saling menyentuh satu sama lain? Bisakah aku memberitahumu sesuatu? Aku mencintaimu,” tulisnya di salah satu suratnya.

Aku kadang berpikir bahwa dia hanya ada di dunia lain yang terbuat dari sekumpulan huruf dan simbol-simbol bisu di atas kertas, sementara tubuh fisik kami berada di tempat yang berbeda. Menjembatani dua realitas itu sama saja dengan kehilangan keduanya.

Sampai suatu hari di pertengahan September aku menerima surat darinya. Kali ini berbeda, dan tidak ada ciuman sama sekali:

Arman,

Aku sudah begitu lama terpaku padamu. Aku menghargai tiap surat yang kau kirimkan dan aku akan selalu menyukainya. Tapi aku sudah bertemu seseorang. Seseorang yang lebih nyata. Seseorang yang tidak terpenjara dalam jerat tinta dan simbol. Aku tahu kau mengerti apa maksudnya. Jadi aku ingin kau juga bisa menemukan seseorang. Seseorang yang lebih nyata dariku di mana kau berada. Aku akan selalu mencintaimu. Aku harap kau bisa mengerti.

Terimakasih untuk segalanya.

Rasa nyeri terjadi dalam sekejap. Aku mulai mengerti, alih-alih pikiran yang tergambar dalam sekumpulan simbol dan huruf, inilah realitas yang sebenarnya;. Rasa sakit ini nyata dan bisa terjadi begitu saja tanpa diharapkan dan tanpa bertanya apakah kita siap atau tidak. Aku membutuhkan waktu untuk membiarkan pikiranku membangun kembali kepercayaan diriku meskipun dari puing-puing yang sudah menjadi debu.

Meskipun kini komunikasiku dengannya sudah berakhir, aku masih terus menulis surat kepada teman-teman lain. Aku bersepakat bahwa mungkin secarik kertas dan tinta memang tidak bisa mewakili sentuhan, tapi aku percaya itu cukup untuk cinta, karena cinta tidak pernah berwujud, bahkan sentuhan sekalipun belum tentu dapat mewakilinya.

Jadi, sekarang ketika orang-orang bertanya apa yang aku lakukan, aku mungkin akan menjawab: menulis. Tentu saja ini adalah pekerjaan yang bermakna karena juga selalu mengingatkanku padanya. Dan ini juga pekerjaan yang cukup berbahaya di planet ini.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Fadlan

Alumni Akidah dan Filsafat Islam IAIN Palu dan Pendiri Lingkar Studi Filsafat Sophia Palu

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email