Perselingkuhan: Menghadapkan Perempuan Vs Perempuan, Peran Laki-Laki Terlupakan

Kasus dugaan perselingkuhan yang dilakukan vokalis Band Sabyan Gambus ‘Nissa” bersama keyboard Sabyan, “Ayus” menjadi perdebatan kencang di media sosial. Kasus perselingkuhan selalu menghadapkan perempuan versus perempuan. Laki-laki yang melakukan dan mengatur perselingkuhan menjadi subyek yang terlupakan

Kasus dugaan perselingkuhan yang dilakukan vokalis Band Sabyan Gambus ‘Nissa” bersama keyboard Sabyan, “Ayus” menjadi perdebatan kencang di media sosial, bahkan sempat menjadi trending topik dalam beberapa hari.

Dalam perdebatan tersebut netizen banyamemaki Nissa dan membandingkan antara Nissa dan istri Ayus, Ririe Fairus

Hastag #Nissapelakor menjadi trending dengan beberapa komentar netizen seperti:

Percuma cantik dapat laki hasil merebut”

“Dasar pelakor.”

“Yang namanya Nissa sama-sama Pelakor.”

Isu tersebut terus menjadi bulan-bulanan di media sosial terutama terhadap Nissa Sabyan. Ayus sendiri telah membuat pernyataan publik mengenai isu perselingkuhan melalui video. Tanpa melakukan pembelaan terhadap dugaan terduga pelaku atau keduanya, namun publik seringkali lupa bahwa yang melakukan perselingkuhan ini tentu tak hanya Nissa, tetapi juga Ayus.

Sebagai laki-laki satu-satunya dalam relasi ketiganya, Ayus pasti memerankan peran paling penting karena Ayus adalah laki-laki yang mengenal keduanya. Peran laki-laki di sini sering dilupakan, seolah-olah dia bisa lepas begitu saja, jauh dari kecaman publik

Hal itu juga terjadi di banyak cerita atau fakta perselingkuhan lainnya. Setiap ada perselingkuhan, yang selalu disalahkan adalah perempuan kedua yang kemudian dihadap-hadapkan dengan perempuan pertama.

Orang sering lupa bahwa posisi laki-lakilah yang mengatur segala upaya agar perselingkuhan tersebut bisa terjadi, namun justru posisinya lepas dari tangkapan publik. Padahal yang mengenal kedua perempuan dalam relasi yang bersamaan adalah laki-laki tersebut, begitu juga yang mengendalikan keduanya

Salah satu aktivis Aliansi Laki-Laki Baru Nurhasyim dalam twitternya @KANGMASBO berkomentar: ketika terjadi perselingkuhan, perempuan disebut pelakor. Ketika terjadi kekerasan seksual, perempuan disebut penggoda, ketika terjadi kekerasan dalam rumah tangga, perempuan disebut nggak becus ngurus rumah tangga. Laki2 selalu invisible dan invisibilitas laki2 adalah privilese.”

Privilage inilah yang kemudian didapatkan laki-laki dalam percaturan relasi ini. Mengapa ini terjadi? Karena selama ini laki-laki yang selingkuh dianggap sebagai hal yang wajar untuk dilakukan.

Berikut adalah sejumlah kalimat yang diyakini masyarakat tentang laki-laki dan relasinya dengan pasangannya:

1.Laki-laki adalah orang yang bisa memilih, dan perempuan adalah orang yang dipilih

Kalimat tersebut adalah kalimat yang semakin mengukuhkan bahwa laki-laki adalah orang yang bisa memilih sesuai pilihannya, sedangkan perempuan adalah orang yang harus menunggu nasib untuk dipilih

2.Laki-laki adalah makhluk bebas

Kalimat lain yang juga membebaskan laki-laki dari dosa perselingkuhannya adalah kalimat yang mengatakan bahwa laki-laki adalah makluk bebas: jika di dalam rumah, ia milik istrinya, jika di luar rumah, ia adalah milik dirinya sendiri. 

Ini yang kemudian membuat seolah laki-laki seolah sah untuk berselingkuh. Kondisi itu juga yang membuat, walau ia dikecam, pasti kecamannya hanya sesaat.

Yang banyak dikecam selanjutnya adalah perempuan yang tak bisa membuat nyaman hidup laki-laki di rumah, tak bisa menyediakan kebutuhan laki-laki dengan baik

3.Laki-laki berselingkuh jika perempuan tak dandan rapi

“Kebenaran” lain yang dimiliki laki-laki adalah: laki-laki akan berselingkuh jika perempuan tak dandan rapi, rumah dalam kondisi tak bersih dan perempuan selalu dalam kondisi kesal atau menggerutu.” 

Kalimat ini seolah terlahir tanpa sebab bahwa perempuan tugasnya semata-mata untuk menyenangkan laki-laki dan harus menyediakan hidupnya sebagai kesenangan laki-laki. Jika tidak, maka dia bukanlah perempuan baik, jadi wajar jika laki-laki patut berselingkuh

4.Laki-laki selingkuh karena pasangannya sudah mulai tua dan tak menarik lagi

Kalimat lain yang tak kalah sadisnya adalah yang mengatakan bahwa “wajar jika laki-laki memilih perempuan kedua, karena perempuan pertama sudah tua dan tak lagi menarik.” 

Narasi seperti ini dilontarkan publik yang seolah-olah membenarkan apa yang dilakukan laki-laki.

Dalam hubungan perselingkuhan, perempuan yang selalu mendapat kecaman

Seperti pendapat Nur Hasyim, kondisi perselingkuhan memperlihatkan bahwa apapun yang dilakukan perempuan selalu salah dan mendapatkan kecaman. Menjadi perempuan pertama juga salah, menjadi perempuan kedua juga salah.

Melihat stereotipe perempuan dalam kasus perselingkuhan tersebut, memperlihatkan perempuan dianggap sebagai yang lain atau liyan.

Pemikir feminis, Simone de Beauvoir dalam bukunya “The Second Sex” menyatakan perempuan sebagai liyan berarti dia adalah objek yang tidak bebas mendefinisikan makna eksistensinya sendiri. Dalam kasus perselingkuhan, perempuan pertama atau istri dianggap baik jika mampu membuat suaminya betah setia. Jika suaminya selingkuh, maka sang istrilah yang menjadi pihak salah karena tidak mampu mempertahankan kesetiaan suami.

Begitu juga dengan perempuan kedua yang dicap sebagai perebut laki orang (pelakor). Orang lain tidak secara kritis mempertanyakan perbuatan laki-laki, tetapi langsung menuding bahwa perempuan itulah yang menggoda. Sehingga, tudingan semakin menjadi-jadi pada perempuan, karena menilai laki-laki tidak akan selingkuh jika perempuan yang digodanya menolak. Tidak ada pertanyaan bagi laki-lakinya, karena laki-laki dianggap “biasa” selingkuh dan menggoda perempuan.

Definisi menjadi perempuan kemudian terpusat dari bagaimana laki-laki memperlakukannya. Sementara, laki-laki dibebaskan melakukan tindakannya sendiri tanpa stereotipe negatif yang melekat, bahkan ketika ia melakukan perselingkuhan sekalipun.

Dan sayangnya, dalam kasus perselingkuhan, kerap kali yang harus berhadapan untuk bertanggungjawab adalah sesama perempuan.

Beauvoir menyatakan persoalan penindasan perempuan berasal dari pemikirannya yang cenderung percaya bahwa dia adalah makhluk yang memiliki kelemahan dan tidak dapat hidup tanpa seorang laki-laki di sisinya. Apalagi, jika ada yang meyakini bahwa perempuan adalah bagian dari laki-laki seperti misalnya, dia meyakini diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, maka perempuan harus tunduk pada apa maunya laki-laki.

Inilah yang menyebabkan sesama perempuan kemudian menjadi bermusuhan untuk mencari validasi laki-laki dan berupaya menjadi “pemenang” sebagai pihak yang dipilih laki-laki. Pertanyaan kritis mengenai tindakan laki-laki selingkuh, akhirnya terpinggirkan.

Bagaimana kenormatifan ini juga terjadi di media sosial?

Luviana, dalam thesisnya tentang gerakan sosial dan internet di tahun 2018 menemukan bahwa apa yang terjadi di dunia maya tak akan jauh berbeda dengan di dunia nyata.

Jika di dunia nyata, kenormatifan cara berpikir masih dialami masyarakat, maka kondisi di dunia maya juga akan sama. Luviana menyebut dunia maya adalah perpanjangan tangan dunia nyata.

Bedanya, jika di dunia maya, netizen yang memaki adalah netizen yang seolah menguasai dukungan publik yang nyata, padahal jelas ini adalah publik dunia maya yang tanpa literasi atau no literate, publik yang mempunyai ruang tapi tak punya pikiran kritis, yang menjadikan perempuan selalu menjadi biang perkara dan menjadikan perempuan sebagai bulan-bulanan. Itu mirip yang terjadi di dunia nyata dan bahkan tak jauh-jauh dari cara berpikir mereka di kehidupan nyata selama ini.

Feminisme memberikan wacana soal teks dan pentingnya literasi. Literasi mestinya tumbuh ketika banyak tulisan, komentar yang dinilai tidak kritis, hanya menjadikan media untuk kepentingan sesaat, menyukai hal yang sensasional belaka

Literasi harusnya digunakan sebagai ajang pemikiran, bukan cuma caci maki. Selain itu mengembangkan budaya interaksi yang pluralistik, untuk penguatan eksistensi kelompok minoritas dalam masyarakat dan memfasilitasi atas proses menyelesaikan masalah

Feminis, Charlotte Bunch kemudian mendeskripsikan politik feminis mengenai apa itu literasi media bagi perempuan, literasi media merupakan sarana untuk menyampaikan gagasan dan informasi. Literasi merupakan akses perempuan terhadap interpretasi realitas untuk meningkatkan kapasitas pemikiran sekaligus persepsi alternatif untuk bertindak secara politik

Bagi feminis, literasi kemudian digunakan sebagai kritik untuk melihat naskah-naskah yang patriarki dan tidak berpihak pada perempuan.

Kritik feminis misalnya digunakan untuk mendekonstruksi politik patriarki yang sebagaimana sering direpresentasikan dalam tulisan-tulisan atau bahasa yang misoginis atau membenci perempuan.

(Tulisan ini merupakan kolaborasi antara Nur Aini dan Luviana/ Pemimpin Redaksi www.Konde.co)

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Nur Aini

Jurnalis dan Aktivis Perburuhan, Lulusan Pascasarjana Kajian Gender Universitas Indonesia (UI)

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email