Herstory atau History? Pendidikan Tak Boleh Mengekang Kebebasan Berpikir Kita

Menurut saya ada 2 kekeliruan dalam pendidikan kita. Pertama, pengetahuan tentang perempuan yang jarang didengarkan pengalamannya. Dan yang kedua, pendidikan yang tertutup dan melulu hanya berorientasi pada keahlian

“Ayah bekerja di kantor dan ibu di rumah.”

“Kepala keluarga itu laki-laki.”

Kamu sudah sering baca kalimat-kalimat seperti ini di buku-buku pelajaran di sekolah khan? Padahal fungsi itu bisa dipertukarkan, ibu bisa bekerja di kantor, bisa juga menjadi kepala keluarga.

Buku-buku seperti ini menunjukkan bahwa konstruksi yang diyakini di masyarakat itu selalu tetap, tak bisa dipertukarkan, padahal ini karena pengalaman dan pengetahuan perempuan yang jarang didengarkan. Perempuan dalam buku pelajaran sering ditulis sebagai orang yang tak pantas menjadi pemimpin, tak bisa menjadi kepala keluarga, orang yang hanya di rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah. Dan ini kemudian menjadi semacam kebenaran mutlak yang harus kita pelajarai dari tahun ke tahun, bahkan sampai saat ini

Maka ini pentingnya kita mendengar pengetahuan perempuan. Kita harus banyak mendengar herstory atau sejarah perempuan yang dilihat dari pengalaman perempuan, bukan melulu history atau sejarah laki-laki atau dari cara pandang patriarki.

Herstory juga punya arti bahwa pendidikan mestinya terbuka pada banyak pemikiran, salah satunya pemikiran perempuan. Jika pendidikan masih mengekang dan masih menuliskan cara pandang satu sisi sebagai kebenaran mutlak, maka ini tak akan membuka cara pandang yang lain

Yang kedua, saya juga melihat dalam dunia pendidikan seharusnya bukan hanya mendidik kita untuk sekedar agar kita memiliki suatu keahlian atau kecakapan teknis untuk mengerjakan sesuatu.

Pendidikan itu bukan semata perolehan skill atau kemampuan saja yang harus didapatkan siswa, tapi jauh lebih mendasar dari itu adalah seharusnya siswa mendapatkan pendidikan tentang kesadaran untuk bersikap.

Jadi mestinya kita dididik agar kita memiliki sikap sendiri, memiliki pemikiran sendiri, bisa merasakan susuatu yang ada di sekeliling kita dan bisa berempati terhadap dunia di sekeliling kita. Dengan begitu, kita juga bisa mengarahkan tindakan kita pada tujuan yang bermanfaat  bagi masyarakat umum dan seterusnya dan yang paling penting terbuka pada masukan dan perubahan

Karena itu sepertinya ada dimensi-dimensi yang hilang ketika pendidikan itu hanya dikerangkai dalam kesesuaian kebutuhan industri atau kebutuhan lapangan kerja atau hanya melihat manusia dari keahliannya saja.

Dalam hal ini kita mungkin perlu belajar lagi tentang sejarah konsepsi pendidikan di dunia. Salah satunya adalah konsep manusia renaissance dengan mengembangkan suatu model atau pendekatan untuk mempelajari segala aspek hidup ini. Tidak hanya dari satu segi saja tapi semuanya, bukan hanya berpikir tentang dunia, tetapi juga merasakan  dunia.

Jadi yang penting bagi saya adalah yang merasakan secara langsung dunia ini. Mengolah bagaimana rasa itu bisa diartikulasikan untuk menghasilkan efek-efek tertentu dan mencoba berbagai cara untuk menghidupi dunia ini lengkap menangkap semua sisinya.

Jadi buat saya, orang akan disebut sebagai ahli jika ia adalah orang bijaksana yang bisa mengetahui berbagai macam aspek dari kenyataan. Jadi yang dibutuhkan adalah manusia yang bisa mengapresiasi berbagai aspek dari hidup ini yang mempunyai kesadaran bahwa segala hal ini menarik untuk dipelajari.

Bahwa kita tidak hanya fokus ke satu bidang yang sangat spesifik saja, itu tidak masalah, tapi kita mesti tetap membuka ruang pada eksplorasi yang sifatnya lintas disiplin.

Filsafat pendidikan kita sepertinya harus melakukan reorientasi. Padahal dalam konteks pendidikan di Indonesia, kita dulu punya tokoh-tokoh seperti Nyi Sutartinah Hajar Dewantara dan Ki Hajar Dewantara yang menekankan bahwa pendidikan itu bukan sekedar masalah olah pikir, tapi juga olah rasa, olah karsa, olah kehendak. Bagaimana itu menyatu dalam proses pendidikan, itulah yang lebih penting, dengan kata lain yang ditekankan oleh falsafah pendidikan indonesia itu adalah suatu model yang mengedepankan manusia sebagai suatu keutuhan pengalaman artistik, kognitif, emosi

Perlu kita kembalikan kesadaran bahwa pendidikan itu adalah untuk membentuk manusia seutuhnya, memungkinkan orang mengalami berbagai macam aspek kehidupan secara lebih leluasa. Bisa menyikapi dari sudut pandang yang berbeda.

Hasilnya jika itu bisa diwujudkan maka siswa menjadi lebih terbuka, menerima siswa atau peserta didik yang cara pandangnya tidak sama. Bisa memiliki keleluasaan berpikir dan mengambil kesimpulan yang berbeda dan itu adalah suatu hal yang berharga.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Rizki Emillia

Seorang mahasiswi Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta yang ingin sukses tapi malas dan hobinya makan

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email