Seperti Apa Desain Toilet Ramah Gender? Menolak Diskriminasi Toilet untuk LGBT

Sejumlah negara seperti Thailand, Nepal, Jepang, China, dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat telah membangun toilet unisex atau toilet yang “netral gender”, ini yang membuat LGBT tak harus diusir ketika menggunakan toilet di ruang publik. Seperti apa desain toilet yang ramah gender?

Banyak orang menyebut toilet sebagai kamar belakang, ini karena hampir semua toilet letaknya selalu di belakang. Padahal jika di tempat publik, toilet yang letaknya di belakang bisa menjadi tempat pelecehan baru karena tidak menjadi titik sentral pandangan orang.

Sebuah desain ruangan kemudian menjadi diskursus penting bagaimana sebuah desain seperti toilet bisa dibangun untuk meminimalisir pelecehan seksual

Membaca artikel berjudul “Toilet dan Fasilitas Publik Tak Ramah Pada Transgender” (https://www.konde.co/2021/02/toilet-ruang-publik-yang-tak-ramah-untuk-transgender-harus-bagaimana.html/) oleh Jessica Ayudya Lesmana, telah menyadarkan, bahwa diskriminasi terhadap kelompok minoritas seperti Lesbian, gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) masih terjadi dalam banyak hal di sekeliling kita, ada transgender yang ditolak untuk masuk ke toilet perempuan maupun toilet laki-laki, padahal ini merupakan fasilitas publik.

Kasus toilet tersebut hanyalah salah satu contoh dari kondisi diskriminatif yang terjadi di ruang publik.

Toilet merupakan satu dari fasilitas yang wajib hadir di ruang maupun bangunan publik. Keberadaan toilet secara fisik tidak bisa dilepaskan dari bagaimana proses perancangannya dilakukan.

Sebagaimana benda-benda fungsional di sekeliling kita, toilet merupakan hasil dari proses desain. Ada andil perancang atau desainer dalam proses pembangunan toilet. Kasus diskriminasi dalam toilet ini menunjukkan masih lemahnya perhatian para desainer dalam hal tanggung jawab sosial desain.  Bahkan bisa jadi para desainer tersebut tidak tahu sama sekali bahwa mereka memiliki tanggung jawab sosial atas output rancangannya.

Kenapa kesadaran akan tanggung jawab sosial desain ini rendah? Kita perlu mundur kebelakang dan mempelajari sejarah perkembangan desain.

Desain sebagai bagian dari proses produksi komoditas mulai muncul seiring pertumbuhan revolusi industri di Inggris pada abad 18. Desain hadir untuk memberi nilai lebih (estetika) terhadap naiknya kapasitas produksi barang. Dari sejarah tersebut bisa dilihat bahwa sedari awal desain hadir demi kepentingan pemilik modal (pengusaha). Oleh sebab itu pertimbangan-pertimbangan dalam keputusan desain akhirnya lebih berpihak kepada kelompok dominan, dan mengabaikan kelompok-kelompok marginal.

Dalam perkembangan lebih jauh, desain pada akhirnya menimbulkan dampak negatif terhadap peradaban, antara lain kerusakan lingkungan, kesenjangan sosial, eksploitasi buruh, dan diskriminasi minoritas.

Menyadari hal tersebut, sebagian kalangan desainer mulai menggaungkan pentingnya tanggung jawab sosial desain, sebagai upaya untuk menghadirkan output desain yang tidak merusak.

Desainer-desainer tersebut sadar bahwa desain juga mempunyai potensi untuk mereduksi dampak yang merusak, termasuk diantaranya diskriminasi sosial berbasis gender. Desain sebagai sebuah metode bisa digunakan untuk merancang output yang mendorong inklusivitas, dan menghentikan diskriminasi terhadap minoritas.

Sebagai pedoman, kita bisa mengambil salah satu prinsip dari Manifesto Desain Berkeadilan oleh Design Justice Network, yaitu “Desain digunakan untuk mendukung, menyembuhkan, dan memberdayakan komunitas, serta berusaha membebaskannya dari sistem yang eksploitatif dan menindas”.

Prinsip tersebut secara tegas menemposisikan desain sebagai alat pembebasan dari represi sistem yang menindas. Dalam isu toilet publik diatas, alih-alih meneruskan represi oleh sistem binary yang hanya mengakomodir 2 jenis gender, maka desain harus berupaya untuk menghadirkan toilet yang ramah bagi segala jenis gender. Desain dalam hal ini bisa menjadi alat untuk merebut kuasa atas ruang yang selama ini hanya diperuntukkan bagi dua jenis gender.

Peran desainer menjadi cukup sentral dalam menghadirkan desain toilet ramah semua gender pada bangunan-bangunan publik. Pada kenyataannya beberapa periset desain maupun komunitas desainer telah menghasilkan panduan desain toilet ramah gender.

Melihat toilet yang ramah gender di sejumlah negara

Sebagai contoh adalah toilet “gender netral” yang dihasilkan oleh proyek Stalled! di Amerika Serikat. Desain toilet tersebut terdiri dari kumpulan bilik individual yang setiap biliknya mempunyai sekat tertutup penuh dari lantai sampai plafon. Di dalam setiap bilik dilengkapi toilet dan cermin, sehingga apapun gendernya bebas untuk menggunakannya. Di dalam bilik yang privat tersebut, identitas masing-masing pribadi sepenuhnya milik yang bersangkutan. Sedangkan area wastafel cuci tangan didesain menjadi area bersama dan diposisikan sedemikian rupa sehingga secara visual bisa diakses oleh publik. Hal ini untuk menghindari kemungkinan aksi pelecehan atau kekerasan terhadap pengguna toilet.

Tantangan penerapan toilet gender netral di bangunan publik bisa berasal dari dua hal. Pertama, adalah aspek regulasi. Beberapa negara telah menerapkan kewajiban penyediaan toilet gender netral di beberapa jenis bangunan publik. Misalnya di Kanada yang sejak 2014 mewajibkan penyediaan toilet gender netral di seluruh bangunan publik.

Contoh lain di beberapa kota di Cina, misalnya Beijing sejak 2016 telah membangun 30-an toilet unisex di banyak lokasi. Negara lain yang memiliki regulasi senada antara lain adalah Thailand, Nepal, Jepang, dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat.

Tidak sebagaimana negara-negara tadi, Indonesia belum memiliki regulasi untuk menghadirkan toilet gender netral. Sehingga pengelola ruang maupun bangunan publik merasa tidak perlu memikirkan hadirnya toilet tersebut. Oleh karena itu, peran desainer menjadi sangat strategis dalam kampanye untuk mendorong dikeluarkannya regulasi semacam ini. Desainer bisa menginisiasi pembangunan contoh-contoh toilet gender netral sebagai proyek rintisan. Proyek tersebut akan memperkuat kampanye untuk menhadirkan regulasi toilet ramah semua gender. Komunitas desainer yang memiliki kesadaran sosial bisa pula ikut bergabung dalam kampanye serupa.

Namun sayangnya komunitas desain yang fokus pada isu toilet, misalnya Asosiasi Toilet Indonesia (ATI) yang saya amati, tampaknya belum menyinggung isu toilet inklusif gender dalam agenda program mereka. Saat ini ATI masih  berfokus pada penyediaan toilet yang memenuhi standard kebersihan dan higienitas di ruang publik.

Agaknya sudah saatnya komunitas semacam ATI ini melangkah lebih jauh dengan mengkampanyekan kehadiran toilet ramah semua gender. Kedepannya, dengan keluarnya regulasi penyediaan toilet ramah gender, maka mau tidak mau ruang publik harus menyediakannya.

Desain toilet ramah gender, seperti apa?

Tantangan yang kedua adalah aspek desain. Selama ini desain ruang, mengkategorikan toilet sebagai area servis, sehingga posisinya bisa dipastikan selalu di area tepian. Bukan area utama yang strategis, apalagi dalam sebuah bangunan publik komersial.

Toilet hampir dipastikan diletakkan di belakang, di pojok, atau lokasi tersembunyi lainnya. Hal ini bisa dilacak dari sejarah ideologi desain yang memang melayani modal (kapital), sehingga zonasi area strategis lebih dioptimalkan sebagai komoditas ruang yang harus dijual.

Karena posisi toilet yang tersembunyi secara visual, cenderung akan meningkatkan potensi terjadinya tindak pelecehan atau kekerasan. Oleh karena itu menjadi tantangan bagi desainer untuk berani merubah pola peruntukan ruang tersebut.

Desainer seharusnya harus mampu bernegosiasi untuk memperjuangkan perubahan posisi zonasi toilet menjadi lebih terlihat secara visual. Sedangkan untuk menghasilkan desain toilet yang tepat sesuai konteks, desainer harus mampu bekerja bersama para pengunjung sebagai pengguna toilet dalam sebuat proses desain partisipatif. 

Proses kolaborasi juga harus mempertimbangkan keragaman kelompok pengguna toilet, artinya proses tersebut wajib melibatkan sebanyak mungkin variasi kelompok pengguna toilet, termasuk kelompok non-binary. Pengguna toilet wajib dilibatkan dalam proses desain karena mereka dinilai paling tahu kebutuhan dan tuntutan toilet yang tepat. Selain itu pelibatan pengguna toilet juga akan memberi legitimasi lebih dalam proses negosiasi peruntukan ruang.

Isu toilet ramah semua gender ini sejatinya hanyalah satu diantara isu-isu diskriminasi, opresi, dan ketidak adilan lain yang diakibatkan oleh proses desain. Banyak contoh ketidakadilan lain dimana desainer paling tidak bertanggung jawab dalam proses kemunculannya. Contoh untuk desain ruangan, misalnya desain taman publik dan trotoar, dimana seringkali tidak memberi ruang bagi pedagang kecil untuk beroperasi atas nama ketertiban dan keteraturan. Contoh desain produk, misalnya furniture publik di kota, yang secara sengaja mempersulit gelandangan untuk sekedar menumpang tidur. Lagi-lagi atas nama ketertiban.

Persoalan selanjutnya dalam isu diskriminasi ini adalah bagaimana mendorong agar semakin banyak desainer yang mempunyai kesadaran akan tanggung jawab sosial. Strategi yang paling tepat adalah dengan mendorong agar institusi sekolah desain mengintergrasikan materi tersebut kedalam kurukulum mereka.

Kurikulum sekolah desain wajib memberi perhatian lebih kepada upaya internalisasi kesadaran akan tanggung jawab sosial desain di kalangan mahasiswanya, yang tidak lain adalah calon desainer.

Dengan begitu, dimanapun natinya lulusan tersebut bekerja, etos akan tanggung jawab sosial tersebut akan selalu melekat dalam keseharian praktik desain yang mereka jalankan.

Pada akhirnya hal tersebut akan ikut menyumbang upaya membongkar ketidak adilan sosial yang diakibatkan oleh rangkaian proses desain.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Andi Setiawan

Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email