Menikah Atau Tidak Menikah, Itu Pilihan Perempuan

Sudah beberapa kali saya menerima konsultasi dari teman-teman lesbian yang ingin menikah. Pernikahan ini akan dilakukan secara pura-pura karena desakan keluarganya.

Pernikahan ini harus dilakukan karena rata-rata mereka selalu terdesak oleh orang tua. Hal ini terjadi karena orang tuanya sudah mulai curiga jika anak perempuannya adalah seorang lesbian, orangtuanya ingin anak perempuannya cepat menikah, dan tradisi keluarga yang mengharuskan anak perempuan agar cepat-cepat menikah.

Lalu proses yang terjadi selanjutnya, ada yang ingin membahagiakan orang tuanya dengan memenuhi permintaan itu. Ada pula yang mengatakan orangtuanya sakit dan ingin dia segera menikah. Lalu mereka meminta temannya yang laki-laki dan diajak untuk menikah secara pura-pura.

Para perempuan sejak kecil memang dididik untuk harus menikah. Selain itu selalu didik harus bisa masak, harus pintar mengurus rumah agar suami senang, harus bisa merawat anak dengan baik. Jika ada pilihan di luar itu, maka perempuan tidak genap hidupnya jika tidak menikah.

Tidak ada pelajaran bahwa perempuan bisa bebas menentukan pilihannya. Bisa bebas menentukan untuk menikah atau tidak, untuk jatuh cinta dengan laki-laki atau perempuan, atau boleh berelasi dengan perempuan.

Kita memang dilahirkan di dunia yang tidak memiliki banyak pilihan buat perempuan selain menjadi istri atau menjadi ibu. Sejak lahir kebebasan perempuan sudah dibatasi dan ditentukan oleh keluarga atau masyarakat.

Feminis Simone de Beauvoir pernah membahas pertanyaan mendasar yang muncul: seseorang tidak  dilahirkan sebagai  perempuan  tetapi  menjadi perempuan. Melalui  pemikiran Simone  de Beauvoir kita dapat memahami mengapa eksistensi perempuan  selama  ini ditempatkan sebagai yang lain (the other), bahwa perempuan itu bukan dilahirkan, tetapi untuk dididik, dibesarkan dan dibentuk agar menjadi perempuan yang sesuai dengan standart di masyarakat dan selalu menjadi the second sex atau menjadi masyarakat kelas dua

Bila perempuan heteroseksual dianggap sebagai the second sex, maka para perempuan lesbian akan lebih terpinggirkan lagi dan mungkin menjadi the third atau fourth sex.

Dalam sistem dunia patriarki yang selalu mengunggulkan laki-laki, perempuan lesbian harus berjuang akan identitas dirinya. Dia tidak hanya harus berjuang akan keberadaannya sebagai perempuan yang hidup di dunia maskulinitas, tetapi juga harus menghadapi kelompok heteroseksual yang selalu meminggirkan mereka, yang selalu mencurigai dirinya dan dianggap akan menularkan penyakit kepada kelompok heteroseksual.

Apalagi dengan meningkatnya isu moralitas dan keagamaan di Indonesia membuat visibilitas gerakan lesbian atau keberadaan lesbian makin terancam di masyarakat.

Penerimaan masyarakat terhadap hal-hal yang beda di luar dirinya menjadi semakin sulit. Dari sini saya lantas berpikir, apakah perempuan harus selalu hidup bersama laki-laki?

Walter, dalam bukunya Caroline Gonda pernah menyatakan “kami diajarkan untuk tidak mempercayai diri sendiri, penilaian kami sendiri, tapi kami diminta untuk bersikap bodoh dan menunggu laki-laki membuat keputusan. Sebagai lesbian, ‘perempuan tanpa laki-laki’, kami selalu menjadi yang terendah dari yang terendah”

Seorang kawan saya memutuskan untuk melajang dan hidup sendiri. Kawan saya yang lain setelah ditinggal ayahnya meninggal, ia hidup bersama ibunya. Kawan saya yang lain hidup dengan tante yang merawatnya dari kecil. Tak semua perempuan harus hidup bersama laki-laki. Ada banyak pilihan untuk perempuan.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Gonda, Caroline. 2009. “Teori Lesbian” dalam Pengantar Teori-teori Feminis Kontemporer, Stevi Jakson dan Jackie Jones (ed), Jala Sutra, Yogyakarta.

Poerba, Christ. 2013. “Lesbian sebagai Subject in Optima Forma: dalam Mendengar Suara Lesbian Indonesia, Kumpulan buah pikirkan aktivis feminis & pluralis, Ardhanary Institute, Jakarta

Saptandari, Pinky.  2013, Beberapa Pemikiran tentang Perempuan
dalam Tubuh dan Eksistensi, Jurnal BioKultur, Vol.II/No.1/Januari-Juni 2013.

picture : Painting Windows On Iran Iranian Artists Paintings

source : https://www.wcdf-france.com/iranian-artists-paintings/

Poedjiati Tan

Psikolog, aktivis perempuan dan manager sosial media www.Konde.co. Pernah menjadi representative ILGA ASIA dan ILGA World Board. Penulis buku “Mengenal Perbedaan Orientasi Seksual Remaja Putri.”

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email