Seiko Hashimoto, Terobosan Baru di Jepang Perempuan Jadi Ketua Olimpiade

Mantan atlet Olimpiade Jepang, Seiko Hashimoto akhirnya terpilih menjadi ketua Olimpiade di Tokyo menggantikan Yoshiro Mori yang dipaksa mengundurkan diri setelah mengeluarkan pernyataan bernuansa seksis tentang perempuan

Keterpilihan Seiko Hashimoto pada 18 Februari 2021 merupakan terobosan besar di Jepang di mana perempuan jarang dilibatkan dalam dewan direksi atau dalam posisi berkuasa.

Seiko Hashimoto, 56, sebelumnya pernah menjabat sebagai menteri Olimpiade di kabinet Perdana Menteri Yoshihide Suga.

Seiko Hashimoto menggantikan ketua panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020, Yoshiro Mori, setelah mengundurkan diri dan kembali meminta maaf atas pernyataan yang melecehkan perempuan yang memicu kemarahan global. Ini membuat acara Olimpiade yang akan dimulai dalam lima bulan ke depan harus mencari pemimpin yang baru.

“Pernyataan saya yang tidak pantas menyebabkan masalah besar. Saya mohon maaf,” kata Mori, pada acara rapat panitia penyelenggara Olimpiade.

Ia mengatakan hal terpenting sekarang ini adalah menyukseskan Olimpiade Tokyo.

Pengunduran dirinya yang berlangsung hanya beberapa bulan sebelum dimulainya pesta olahraga yang telah ditangguhkan itu akan semakin mengikis kepercayaan terhadap kemampuan penyelenggara dalam menggelar acara tersebut selama pandemi virus corona.

Mori, mantan perdana menteri Jepang yang berusia 83 tahun ini, memicu kemarahan sewaktu ia mengatakan dalam suatu rapat komite Olimpiade awal bulan ini “bahwa perempuan berbicara terlalu banyak”.

Setelah protes secara global yang menyerukan agar ia dipecat, ia meminta maaf atas pernyataannya tetapi menolak untuk mengundurkan diri.

Setelah itu, Mori sempat meminta wali kota perkampungan Olimpiade, Saburo Kawabuchi yang berusia 84 tahun agar mengambil alih posisi puncak itu. Tetapi sehari kemudian, kritik publik atas pengganti yang ditunjuknya, seorang lelaki yang berusia lebih tua, membuat Kawabuchi menolak tawaran itu.

Badan penyiaran lokal Fuji News Network (FNN) melaporkan pemerintah akan berusaha menghambat pencalonan Kawabuchi.

“Kita tidak dapat memberi kesan bahwa ada perubahan jika kita tidak menempatkan seorang perempuan atau ada perubahan generasi,” sebut FNN mengutip seorang sumber pemerintah.

Kontroversi mengenai Mori telah menimbulkan “kerusakan reputasi yang serius” terhadap Olimpiade Tokyo, kata seorang sumber yang terlibat dalam Olimpiade.

Sumber yang meminta anonim karena sensitifnya masalah ini, mengatakan, banyak pejabat yang menginginkan seorang perempuan untuk menggantikan Mori.

Media setempat telah menuliskan, Menteri Olimpiade Seiko Hashimoto, seorang perempuan yang mewakili Jepang dalam Olimpiade musim panas dan musim dingin, dipertimbangkan kemungkinannya sebagai kandidat.

PM Yoshihide Suga telah meminta Mori apakah ada kandidat yang berusia lebih muda atau perempuan sebagai pengganti, tetapi Mori merekomendasikan Kawabuchi, kata Kawabuchi.

Seiko Hashimoto akhirnya terpilih pada 18 Februari 2021 yang ini merupakan terobosan besar di Jepang di mana perempuan jarang dilibatkan dalam dewan direksi atau dalam posisi berkuasa [uh/ab]

(Foto/ ilustrasi: Wikipedia)

(Sumber: Voice of America/ VOA)

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email