Kamu Lesbian, Memangnya Masih Shalat? Pertanyaan Yang Sering Saya Terima

Seorang teman, suatu malam bilang bahwa katanya lesbianisme dan Islam itu sangat kontradiktif. Bahkan, seorang teman lain, yang tahu orientasi saya ketika saya ajak shalat bersama, malah bertanya: "Memang lesbian shalat juga?."

Selama ini memang tidak semua orang saya beri tahu tentang pilihan orientasi saya, itu karena tak semua sepakat dengan pilihan saya dan tak semua harus sepakat memang. Namun ketika banyak orang yang mempertanyakan,”memang lesbian shalat juga?.”

Saya jadi ingin berteriak:

“Whats?.”

Dengan keras seperti Ryan Gosling di La La Land ketika membujuk Emma Stone untuk mau casting, saya sungguh kaget dan tidak habis pikir apakah straight people mengira lesbianisme adalah kepercayaan lain selain Islam yang ritusnya bukan shalat? Apa karena itu lesbian kerap dibilang menyimpang (kata lain dari sesat)?

Padahal ini adalah tentang orientasi dan hak setiap orang untuk ber-Tuhan.

Sungguh, itu salah satu miskonsepsi yang kelewat menyebalkan yang pernah saya temui. Dan selain soal ketidaktahuan yang memunculkan fallacy ini, di sisi lain, barangkali memang ada juga orang yang merasa bahwa segala sesuatu non-straight adalah amat kotor sehingga sebegitu kotornya sampai tidak pantas memercayai Tuhan, boleh beragama, dan menjalankan ritus lainnya, sebab semua ekspresi bertuhan adalah sesuatu yang dianggap suci, amat suci, kadang saya mendapat perasaan bahkan seperti terlalu suci dan tinggi.

Dan karena orang lain kerap berkata seperti itu, juga kadang saya yang hina dina ini juga ikut terhasut sampai berpikir: jangan-jangan saya memang tidak pantas?

Padahal saya sudah menghabiskan 6 tahun untuk mempelajari agama dan Tuhan dengan “niat banget” di pesantren. Jika memang tidak pantas, ah, masa sih “sebegitunya” sampai kami semua tidak pantas?.

Apakah saya tidak pantas lagi bertemu Tuhan saya, dimana selama ini saya selalu punya relasi personal yang sangat baik dengan Tuhan saya?

Saya teringat satu ironi yang pernah terjadi pada 19 Februari 2016, ketika Pondok pesantren waria Al-Fattah, digeruduk, digrebek, dipaksa agar ditutup, dihujani dengan tuduhan macam-macam hanya karena santri-santrinya adalah transpuan, seakan mereka (transpuan) tidak boleh punya keinginan memuja Tuhan, seakan mereka tidak boleh ingin lebih dekat pada Tuhan, ingin mendalami agama, ingin mengenal Tuhan, dan lain sebagainya, dengan satu alasan konyol: hanya karena mereka transpuan.

Seakan transpuan itu apalah gitu, seakan Tuhan adalah entitas homophobic yang tidak suka dekat-dekat dan alergi dengan makhluk queer (yang Dia sendiri ciptakan).

Padahal Tuhan itu maha baik. Padahal sebetulnya, Allah tidak membatasi siapa saja boleh beriman ke padaNya, semua punya hak untuk memuja Dia. No matter whom. Hidayah itu berkat seperti terdapat dalam ayat-ayat di bawah ini:

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allaah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 14: 4) juncto QS. 13: 27-29:

Orang-orang yang ingkar kepada Tuhan berkata: “Mengapa tidak diturunkan ke padanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya?” Katakanlah (Muhammad): “Sesungguhnya Allaah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat ke padaNya”,

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah sajalah hati menjadi tenteram.

Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, bagi merekalah kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.

Hidayah atau perasaan rindu pada Tuhan, cuma diberikan pada hamba yang Dia kehendaki, yang Dia pilih sendiri. Tidak bisa dipaksakan. Ini mereka yang sudah Tuhan beri hidayah, jelas-jelas sudah Tuhan pilih, diberi rasa ingin mau mendekatiNya, mau belajar agama di pondok pesantren (yang karena pondok umum lain kemungkinan besar tidak akan menerima, maka membuat pesantren khusus sendiri), namun malah digeruduk, dilarang, dituduh macam-macam.

Islam juga bersifat rahmatallil’aalamiin, maka semestinyalah semua bagian alam (termasuk lesbian, dan spektrum queer lain juga) berhak untuk dirangkul dan mendapatkan rahmat kasih-Nya. Apapun orientasi seksualnya, ia tetap berhak (atau harus) melaksanakan ritus sesuai ajaran agamanya (dalam hal saya syari’ah Islamiyyah). Orientasi seksual tidak ada korelasinya dengan keimanan karena menurut saya ini bukan teologi.

Dan jika ada seseorang mengaku muslim namun merestriksi apalagi merepresi orang lain (apalagi dalam hal menjalankan ibadah), saya kira ia hanya tidak tahu bahwa Islam bersifat  rahmatallil’aalamiin, dan bahwa non-straight adalah sama-sama hamba Tuhan juga.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Egalita Darsih

Seorang muslimah feminis, aktivis perempuan, ibu dari sepuluh anak-anak bulu, penyuka seni, bahasa, yoga, dan buku

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email