Surat Untuk Anak Perempuanku yang 18 Tahun

Surat ini untuk anak perempuanku sesaat sebelum aku melahirkanmu: aku ibumu. Jika aku meninggal ketika melahirkanmu, surat ini bisa kau baca ketika umurmu 18 tahun

Untuk putriku tersayang,

Delapan belas tahun lagi mungkin ayahmu akan memberikan surat ini padamu. Dan kau mungkin tidak akan mengenaliku.

Mengapa ibu harus menuliskan ini untukmu? Mengapa ibu harus memberitahumu?

Jelas, itu karena ibu mencintaimu. Ibu menuliskan surat ini karena ibu ingin kau tahu bahwa ibu adalah perempuan yang menyukai gerimis di pagi hari, secangkir teh hangat, dan waver coklat di dekatnya. Ibu menuliskan ini karena payung merah tua yang pernah ibu miliki sewaktu kecil dulu.

Di sisi lain aku juga tidak ingin anakku tidak tahu apa-apa tentang siapa aku. Ibu tidak tahan jika ibu tidak menceritakan kisah payung merah tua itu padamu. Banyak yang harus ibu katakan padamu, sayang. Banyak! Ada begitu banyak hal-hal di dalam hidup ini yang harus aku sampaikan berbisik ke telinga mungilmu saat kau masih begitu polos. Olehnya ibu tidak bisa membiarkanmu menjalani hidup sendirian.

Aku merasa bahwa hidupku mungkin sudah mencapai batasnya sekarang. Aku berpikir bahwa mungkin suatu saat kau akan memikirkanku setiap hari. Namun aku berharap kau tidak bersedih dan tidak perlu gusar. Karena kenangan, sejarah, tawa, air mata, dan cinta ibu – semuanya hanyalah setitik debu di alam semesta ini, dan kau pun juga sudah memiliki semua itu di dalam dirimu

Ibuku atau nenekmu, bernama Erna. Dan ayah, atau kakekmu bernama Heri. Mereka bertemu ketika mereka masih sangat muda, sekitar umur 12 atau 13 tahun. Mereka lalu menikah delapan tahun kemudian. Ibumu ini adalah anak keenam dari sembilan bersaudara.

Mengapa ibu menceritakan ini padamu? Karena ibu ingin kamu memiliki landasan kokoh, landasan yang sederhana dan penuh kasih agar kau bisa menjalani hidup dengan baik. Di dalam darahmu akan selalu mengalir kisah nenekmu, ibu, serta bibi buyutmu. Dan namamu akan selalu menjadi hal yang ibu cintai.

Sementara ayahmu – jangan biarkan aku mengatakannya. Dia yang aku cintai lebih dari aku mencintai laut. Aku mencintainya lebih dari sekadar permen taffy dan warna oranye yang disatukan. Kisah kami sebenarnya tidak begitu menarik.

Aku dan ayahmu bertemu di sekolah. Saat itu kami masih duduk di bangku SMA, tepatnya di hari pertama kami mengenakan seragam SMA. Dia mengajakku berpacaran setelah kami lulus. Kami lalu menikah ketika aku baru saja menginjak usia 22 tahun, dan dia berusia 23 tahun. Aku mengandungmu tiga tahun kemudian.

Sekarang (ketika aku menulis surat ini) aku sudah berusia 25 tahun. Meskipun ada banyak hal yang harus aku katakan padamu, namun sayang, ruang dan waktu tidak memberikanku kesempatan. Jadi ibu mungkin hanya akan memberitahumu tentang hal-hal yang perlu kamu ketahui saja.

Namun terus terang ibu bingung. Kira-kira apa yang harus ibu katakan kepadamu yang bahkan belum pernah ibu lihat? Apakah ibu harus mengatakan padamu bahwa ibu sangat mencintaimu dan akan selalu mencintaimu? Apakah ibu harus memberitahukan kepadamu mengapa mungkin kamu tidak akan pernah melihat wajah ibu, dan akan tumbuh besar hanya dengan sosok seorang ayah di sisimu? Apakah aku harus memberitahukan padamu apa buku favoritku? Musik favoritku? Bolehkah ibu mengatakan kepadamu bahwa cinta seorang ibu pada anaknya itu sangat kuat dan abadi?

Tidak, aku mungkin tidak bisa. Karena aku juga pernah merasakan hal ini. Aku tumbuh dewasa tanpa sosok seorang ibu. Selama ini, hanya kakekmulah yang merawat dan membesarkanku. Aku tidak pernah mengenal sosok seorang ibu sama sekali, dan aku sungguh menyesal, nasib ini tampaknya terus menghantui kita, dan bahkan kini berimbas padamu juga. Tapi aku yakin kamu akan baik-baik saja, sayang.

Oh, anak pertamaku, anak pertama dan satu-satunya yang paling aku cintai, ibu tahu benar betapa sulitnya untukmu – hidup dan berjalan sendirian di planet kejam ini tanpa sosok seorang ibu. Atau betapa sulitnya bagiku berjalan tanpamu. Ibu sungguh minta maaf.

Ibu menulis surat ini karena banyak hal. Ibu sudah mengatakan ini. Ibu menuliskan ini karenamu. Untukmu. Ibu menulis ini karena payung merah tua dan kucing hitam imut yang ibu miliki ketika ibu berusia lima belas tahun, kucing yang ibu temukan di dekat sebuah panti yang tak jauh dari rumah.

Dahulu, ketika aku masih berumur lima tahun, di tengah derasnya hujan ibu pernah lari dari rumah. Karena ibu tidak terima dengan apa yang kakekmu katakan tentang mengapa ibu tidak memiliki seorang ibu di sampingku saat itu. Jadi aku meninggalkan rumah dengan payung merah di genggamanku, karena saat itu aku berpikir dengan begitu mungkin ibuku akan melihatku dari suatu tempat lalu datang menjemputku.

Hari itu aku berjalan kaki sendirian. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana kaki dan perutku saat itu tiba-tiba saja sakit, seperti ada beban berat yang terikat di punggung dan kakiku. Satu-satunya yang aku miliki hanyalah foto ibuku yang diberikan kakek, dan payung kuning tua itu. Aku berjalan ke sebuah toko buku kecil – di mana trotoarnya lebih lebar daripada tinggi badanku saat itu.

Aku lalu duduk meringkuk di depan toko buku itu sembari membuka foto ibuku dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Tak sadar, mungkin karena kelelahan, aku pun terlelap di sana.

Ketika aku bangun, aku sudah berada di pelukan kakek. Ternyata dia mencariku sepanjang hari, mengkhawatirkanku yang hanya berbekal selembar foto tua dan payung merah kecilku. Saat itu kakek menangis lega melihatku baik-baik saja. Saat itu aku bisa melihat rasa sayang dan kehangatan tergambar jelas di matanya.

Sepintas kakek pun menjadi sosok ayah sekaligus ibu baru untukku.

Sampai saat inipun ibu masih menyimpan payung merah itu. Meskipun warnanya kini telah memudar, akan tetapi kenangannya akan terus ada. Jadi ibu berharap dan berdoa, semoga kamu kelak tidak akan melakukan hal bodoh seperti yang ibu lakukan dulu. Ibu berharap kamu tidak membuat ayahmu, dan tentu saja ibu khawatir. Karena ibu akan selalu mengawasimu.

Meskipun ibu nanti tidak ada di sisimu, ibu sungguh mencintaimu lebih daripada apa yang bisa dikatakan lidah. Ibu tidak bisa mengatakan lebih daripada itu. Jika kata-kata dokter terbukti benar bahwa kelak kamu akan tumbuh tanpa aku di sisimu, ibu hanya ingin kau tahu: ibu sangat mencintaimu. Meskipun ibu kelak tidak ada di sampingmu, cinta ibu akan selalu menyertaimu dan akan selalu merangkul hangat tubuh mungilmu.

Ibu percaya padamu.

Untuk berjaga-jaga, ibu juga telah meminta ayahmu bahwa jika ibu meninggal, ayahmu akan memberikanmu surat ini pada hari ketika kamu nanti sudah berusia delapan belas tahun. Karena ibu percaya bahwa pada usia itu kamu sudah dapat berpikir matang dan akan lebih mengerti.

Oh ya, ibu sudah merasakan awal persalinan sekarang. Tenang saja, ibu akan melakukan yang terbaik. Mungkin hanya itu yang bisa ibu janjikan saat ini.

Penuh cinta,

Ibumu

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Fadlan

Alumni Akidah dan Filsafat Islam IAIN Palu dan Pendiri Lingkar Studi Filsafat Sophia Palu

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email