Toilet dan Fasilitas Publik Tak Ramah Pada Transgender

Toilet adalah salah satu fasilitas publik yang tak ramah untuk LGBT. Salah satu transgender harus menahan kencing ketika ia tak boleh masuk ke toilet laki-laki maupun ke toilet perempuan

Serba salah menjadi Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Salah satu transgender pernah cerita ke teman saya, suatu hari ketika ia pergi ke mall, ia pengin ke toilet. Ia lalu masuk ke toilet laki-laki. Namun ketika ia masuk ke toilet laki-laki, ia dimarahi satpam dan diminta masuk ke toilet perempuan.

Satpam tersebut tak mau tahu. Satpam ini memintanya dengan marah dan membentak sampai orang-orang di mall yang mendengar bentakan ini lalu mendekat pengin tahu. Ini yang kemudian membuat merasa tak nyaman.

Jika ia masuk ke toilet perempuan, ia juga merasa risih. Di toilet perempuan itu, ia diawasi satpam di depan pintu sampai ia keluar toilet

Tak mudah memang menjadi transgender. Hanya gara-gara toilet, ia harus bersitegang dengan satpam dan dilihat banyak orang.

Ada juga cerita dari transgender lain yang ditolak untuk masuk ke toilet laki-laki dan toilet perempuan. Alhasil, jika mereka pergi ke mall ataupun ke tempat publik, mereka harus menahan diri untuk menggunakan toilet, karena takut heboh dan dianggap membuat keramaian

Tak hanya urusan toilet. Sekolah formalpun bagi transgender remaja juga memberi dampak secara psikis dan membuat transgender sering dipermalukan.

Ketika pelajaran olahraga misalnya, para transgender sering kebingungan mengekspresikan dirinya. Sebagai contoh, transgender perempuan yang merasa dirinya berbeda dengan anak lelaki pada umumnya, akan merasa tidak nyaman ketika saat pelajaran olahraga dikelompokkan dengan anak laki-laki dalam bermain bola, mengingat sekolah formal memiliki aturan seragam bagi semua yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan tanpa terkecuali transgender perempuan.

Guru yang ada di sekolah formal juga menyeragamkan siswa. Ini artinya guru bersikap menyamakan anak anak muridnya termasuk transgender perempuan yang disamakan dengan anak lelaki. Tentu guru mengelompokkan ini karena merujuk pada biodata siswa yang tercatat dalam data sekolah.

Jadi tak cuma toilet, namun di ruang publik yang lain seperti lingkungan dan sekolah, para transgender mengalami ini. Sudah belajar menyesuaikan, namun masih saja keberadaan mereka sulit diterima.

Pendidikan formal memang menjadikan remaja transgender semakin bertambah beban psikisnya. Selain mereka masih berproses dalam pencarian jati diri yang relatif sulit dialami remaja seusia mereka, transgender remaja juga mengalami tekanan mental akibat bully-an verbal, bahkan saya mendapati, banyak dari transgender remaja yang mengalami kekerasan fisik dan pelecehan seksual

Hal ini terjadi karena lingkungan secara umum dan sekolah formal yang belum memberikan pengakuan pada keberadaan transgender.

Sekolah formal umumnya mempunyai budaya untuk menyeragamkan setiap anak, melihat anak secara sama. Padahal jika diteliti, semua anak memiliki keunikan masing-masing, begitu juga transgender. Mereka memiliki keunikan tersendiri dengan gayanya yang khas, namun gaya yang berbeda ini sering disebut aneh, lain dan liyan hingga muncul beberapa bully-an untuk mereka

Lalu bagaimana mengatasi ini? Apakah lingkungan atau sekolah bisa mengubah sistem di sekolah atau sistem pendidikan yang inklusif untuk transgender?

Di sekolah, beberapa mengusulkan bahwa transgender seharusnya bisa sekolah dengan menggunakan metode pendidikan home scholling, dengan metode ini mereka akan lebih fokus pada mata pelajaran yang diberikan, mereka lebih merasa aman dan nyaman ketika berinteraksi. Juga buat saya, homescholling dapat mengurangi dampak bully-an. Pendidikan homeschooling juga efektif untuk penerimaan personal transgender remaja.

Namun persoalannya, pendidikan homescholling itu mahal, tak banyak yang bisa mengakses karena mahalnya biayanya.

Bimbingan penyuluhan dan konseling sekolah formal seharusnya sudah mulai meneliti dan memberi kajian tentang keberagaman seksualitas dalam sub mata pelajaran. Apa yang harus dilakukan dalam kondisi ini? Apakah mestinya untuk transgender remaja harus memilih sekolah homescholling, mengingat ini adalah salah satu cara untuk menangani persoalan ini? Atau bagaimana jika langsung saja pemerintah membangun sekolah inklusi?

Beberapa sekolah di Indonesia sudah berubah menjadi sekolah inklusi bagi disable, ini menggembirakan sekali dimana semua bisa berkumpul di kelas atau sekolah yang sama dan belajar yang sama. Seharusnya, pemerintah mulai berpikir bahwa membangun sekolah inklusi juga harus menyertakan kelompok minoritas lainnya seperti transgender. Pendidikan yang inklusif ini harus menjadi upaya bersama.

Bagaimana caranya agar ada pendidikan dan lingkungan yang inklusif untuk transgender? Pertama harus memberikan pengakuan kepada keberadaan transgender. Pengakuan ini penting agar para transgender terhindar dari gangguan bully-an, gangguan pelecehan psikis seksual dan verbal.

Jika sudah ada pengakuan, maka perjuangan berikutnya adalah mengubah sistem bagaimana semua orang termasuk transgender merasa aman di sekolah dan di lingkungannya. Jika ini mulai diusahakan bersama, maka ini akan meminimalisir bully, bentakan pada transgender.

Namun jika untuk mendapatkan akses toilet umum saja masih susah, bagaimana bisa memperjuangkan sekolah inklusi? Butuh waktu berapa lama untuk membangun ini semua?

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Jessica Ayudya Lesmana

Penulis Waria Autodidak, Anggota Tim Cemeti dan Kontributor Konde.co

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email