6 Sebutan Yang Menyakitkan Bagi Perempuan Pekerja Seks

Ada 6 sebutan bagi perempuan pekerja seks yang mendeskreditkan dan menyakiti mereka, seperti sebutan sebagai perempuan binal, perempuan nakal, jalang, ular beludak. Beberapa contoh kata menyakitkan ini disematkan kepada perempuan pekerja seks untuk melabeli identitas mereka.

Saya banyak berteman dengan perempuan pekerja seks. Pengalaman saya dekat dengan mereka karena hidup saya banyak berdampingan dengan mereka. Saya kerap bicara dan menemui teman-teman saya ini di lokalisasi di Jogja seperti Bong Suwung dan Pasar Kembang yang menjadi lokalisasi bagi perempuan pekerja seks yang terorganisir.

Persoalan pekerja seks yang paling mendasar dan masih lekat dengan pandangan liyan adalah mereka mendapatkan narasi permusuhan atau misogini dari mereka yang membenci perempuan pekerja seks.

Lalu para perempuan pekerja seks juga mendapat sebutan atau panggilan yang peyoratif, yang kasar jika diungkapkan. Intinya kata-kata ini menghina, merendahkan atau menunjukkan ketidaksukaan. Salah satunya adalah kata Lonte. Kata lonte sendiri diambil dari binatang yang sering keluar di malam hari dan jika keluar mereka akan memakan kotoran ayam. Kata lonte masih sering terdengar untuk memanggil perempuan pekerja seks, baik karena ketidaktahuan maupun sengaja menjadi sapaan yang dianggap kebiasaan

Kata lonte juga disandingkan dengan beberapa turunan kata yang mendiskreditkan perempuan seperti, perempuan binal, perempuan nakal, jalang, ular beludak, penyakit masyarakat. Beberapa contoh kata turunan ini disematkan kepada perempuan pekerja seks untuk melabeli identitas mereka. 

Kata-kata seperti ini jelas menyakiti perempuan pekerja seks. Beberapa teman, sebut saja namanya Anggrek, ia bercerita sambil menatap indahnya bulan purnama saat sedang bersama saya keluar di malam minggu, sebulan lalu

“Aku tidak mau disebut lonte, karena menurutku aku melakukan pekerjaan ini karena aku sadar tidak ada yang bisa kulakukan. Tubuhkulah yang kemudian menjadi penopangku.“

Sambil menangis ia bercerita. Karena aku cukup sensitif, maka aku ikutan menangis.

6 sebutan ini menyakiti banyak perempuan pekerja seks, tapi mereka memilih berpikir praktis saja, tidak menjadi persoalan jika mereka dihina, toh, bukan menyakiti secara fisik dan menutup pekerjaan mereka

Kemudian persoalan laten lain yang dihadapi perempuan pekerja seks umumnya adalah iuran untuk para keamanan lokalisasi yang selalu naik setiap waktu, salah satunya ini disebabkan pandemi, jadi uang keamanan dinaikkan sebesar dua kali lipat harga sebelumnya. Padahal keluhan yang dihadapi perempuan pekerja seks di masa pandemi ini terjadi karena menurunnya jumlah pengunjung di masa pandemi covid yang pasti berakibat pada pemasukan mereka.

Perempuan pekerja seks masih mendapat kekerasan seksual pula, dengan pengalaman mereka tidak dibayar pelanggan, kamar layanan yang tidak dilunasi pelanggan, juga beberapa mendapatkan kekerasan fisik. Ini tidak semua terjadi, namun dari berbagai cerita mereka, saya mendapatkan kisah ini.

Di Jogja, Bong Suwung dan Pasar Kembang menjadi lokalisasi yang paling banyak dikunjungi. Perempuan yang bekerja di lokalisasi pun berasal dari berbagai wilayah indonesia seperti dari kota Pekalongan, Tegal, Purwokerto dan kota kota kecil di sekitar jogja lainnya. Rata-rata mereka ke Jogja untuk mengadu nasib dan membantu perekonomian keluarga mereka di kampung

Kesehatan mereka pun dijaga dengan mereka mengikuti berbagai penyuluhan kesehatan reproduksi dari berbagai organisasi kesehatan reproduksi, jika ada yang sakit persatuan mereka kompak untuk menyantuni teman yang sakit dengan iuran bulanan.

Saya yakin secara personal jika ada pekerjaan yang bisa membuat lebih sejahtera dan menopang mereka, mereka pasti akan berpindah kerja dengan rela hati, juga jika ada modal untuk membuka usaha mereka untuk berjualan kecil-kecilan untuk kehidupan mereka yang lebih baik.

Budaya pelacuran atau prostitusi sendiri sebenarnya sudah ada sejak zaman dunia berawal, budaya ini ditemukan di beberapa lembah Sungai Tigris dan beberapa kerajaan zaman dahulu yang menyebut perempuan pekerja seks sebagai perempuan sundal dan pelacur bakti. Metafora dan personifikasi ini bisa dibaca di teks kitab tentang pengkhianatan satu kota yang dinarasikan seperti perlakuan pelacur bakti.

Salah satu teksnya dapat dibaca di Kitab Injil Yehezkiel:23 dengan judul Ohola dan Oholiba, dua saudari ini dituliskan seksualitasnya. Mereka ditampilkan sebagai pemuas nafsu para laki laki dari yang berkuasa, prajurit, hingga semua laki laki dengan kalimat seperti: menjamah, meremas dan masih banyak lagi konotasi seksual yang cenderung mengobjekkan. Teks ohola dan oholiba adalah salah satu teks yang membuktikan bahwa seksualitas perempuan banyak ditemukan dalam wacana ini. Pelacur bakti adalah profesi tertua yang sudah ada sejak zaman dahulu

Dengan cerita ini, semoga masih ada orang yang mau memikirkan nasib perempuan pekerja seks, mereka layak dilindungi dan dipikirkan nasibnya.

Perempuan pekerja seks juga manusia. Mereka masih dibutuhkan meski tak sedikit yang membencinya, ini seperti lirik lagu “Kupu-kupu Malam” yang dinyanyikan Titiek Puspa yang dulu sering saya dengar di radio-radio waktu saya kecil:

Ada yang benci dirinya
Ada yang butuh dirinya
Ada yang berlutut mencintainya
Ada pula yang kejam menyiksa dirinya

Ini hidup wanita si kupu-kupu malam
Bekerja bertaruh seluruh jiwa raga
Bibir senyum kata halus merayu memanja
Kepada setiap mereka yang datang

Dosakah yang dia kerjakan
Sucikah mereka yang datang
Kadang dia tersenyum dalam tangis
Kadang dia menangis di dalam senyuman

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Jessica Ayudya Lesmana

Penulis Waria Autodidak dan Anggota Tim Cemeti

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email