Body Shaming: Ini Bukan Ingetin Tapi Malah Nyakitin

“Kamu kog tambah gendut? Ya ampun, kamu kurus banget!” Sama seperti media dan masyarakat umum, banyak orang yang tak bosan-bosannya mengagumi standar fisik sempurna. Ini juga sering tak sengaja kita ucapkan ketika ketemu orang. Padahal bilang gendut atau kurus, ini bukan ngingetin, tapi malah nyakitin

Pernahkah kamu perhatikan, di setiap scrolling-an kita di media sosial atau eksposur di media konvensional, sering terlihat selebgram atau artis dengan fisik yang sempurna, terlihat tanpa titik dan noda.

Melalui representasi-representasi ini, media tak bosan-bosannya membentuk realita bahwa standar fisik yang sempurna adalah sedemikian rupa: langsing, putih, wajah tanpa cela, paha kecil, semua-semuanyanya kecil (mungkin kecuali payudara dan bokong). Kesannya seperti menghipnotis setiap orang yang mengkonsumsi media bahwa manusia harus sesuai standar tersebut agar diterima. 

Saking dalamnya doktrin ini sehingga seringkali kata-kata tertentu terlontar ketika bertemu atau melihat orang lain tidak sesuai standar fisik yang ditentukan media. 

Kamu tambah gendutan. Apa gak ada niatan buat diet?

Ya ampun kurus banget, gak pernah makan? Diet ya? Makan yang banyakan dong.”

“Kalau cuci muka harus yang bersih.”

Tidak hanya diucapkan secara langsung seperti ketika sedang mengobrol dengan teman atau anggota keluarga, body shaming juga kerap ditemui di media sosial bahkan di dating app.

Bumble, salah satu dating app, sampai harus memperbarui terms and conditions mereka untuk menghindari obrolan yang mengarah ke body shaming. Ini membuktikan bahwa semakin banyak orang yang mengurusi hidup orang lain bahkan orang yang tidak pernah ditemui sekalipun.

The Jakarta Post, melalui survei yang dilakukan ZAP Beauty Index 2020, menemukan 62 persen perempuan peserta survei pernah mengalami body shaming. Di antaranya 47 persen menerima body shaming karena bentuk tubuh yang curvy, 36 persen karena kulit wajah yang tidak mulus, 28 persen karena pipi yang tembem, 23 persen karena warna kulit yang gelap, dan 19 persen karena bertubuh kurus. Survei ini menunjukkan bahwa tidak hanya bentuk tubuh saja yang jadi sasaran, tapi warna kulit, atau kulit wajah turut jadi objek.  

“Emang ada yang salah ya? Kan cuma mau ingetin.”

Tanpa diingatkan, mereka sudah menyadarinya sebelum orang lain mengingatkan. Kita tidak pernah tahu, mungkin saja ucapan tersebut tidak hanya diutarakan oleh satu mulut, tapi dari banyak mulut. Mungkin saja ucapan tersebut tidak hanya didengar di hari itu saja, tapi terus ia dengar bertahun-tahun lamanya. Berdalih sebagai bentuk kepedulian atau mungkin hanya ingin mencairkan suasana karena tidak ada bahan obrolan lain, tidak dapat dibenarkan karena ada risiko menyakiti perasaan orang lain.

Dilansir melalui Halodoc, body shaming dapat menyebabkan orang kehilangan kepercayaan diri. Pada awalnya, mereka menganggap dirinya tidak berguna dan tidak diterima di masyarakat karena tidak sesuai dengan standar masyarakat. Jika erosi kepercayaan diri ini terus terjadi dalam jangka waktu lama, risikonya korban menderita depresi atau gangguan makan seperti anoreksia atau eating disorder lainnya.

Sebuah artikel dari University of Minnesota juga membenarkan bahwa sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa body shaming memberikan dampak buruk bagi kesehatan mental. Di antaranya adalah tingkat depresi atau kecemasan yang tinggi, merasa harga dirinya rendah, meningkatkan keinginan untuk mengakhiri hidup, mengalami gangguan makan, atau cenderung menghindari perilaku sehat seperti kegiatan fisik.

Sama seperti media dan masyarakat umum yang tak bosan-bosan mengagumi standar fisik sempurna, topik body shaming juga tak bosan-bosan terus diangkat untuk menyadarkan kita semua.

Keep the positivity and help each other!

Jadi bagaimana caranya kita menunjukkan bahwa kita peduli? Berhenti sibuk memikirkan hidup orang lain, terlebih lagi mereka yang hanya kita lihat melalui media sosial! Artinya, kita berusaha menjadi komunitas yang baik dan mendukung perkembangan setiap orang.

Mendorong bentuk-bentuk kecantikan yang menurut kita ideal, namun pada orang lain hanya menyakiti perasaan mereka, tidak membantu sama sekali.

Begini saja: Jika fitur fisik tersebut tidak dapat diperbaiki sesegera mungkin, maka tidak perlu dikomentari atau dipertanyakan. Misalnya bentuk tubuh, warna kulit, jerawat, gaya fashion, atau rambut, itu semua tidak bisa diperbaiki dalam 15 menit. Lebih baik simpan untuk diri sendiri dan cari topik obrolan lain.

Jika bisa diperbaiki saat itu juga, misalnya makanan terselip di gigi atau lipstik yang kurang rapi, sampaikan dengan sopan dan tawarkan solusinya sehingga ucapan kita dapat membantu mereka.

Ucapan yang menurut kita adalah bentuk perhatian belum tentu dianggap sama oleh mereka yang menerima kata-kata “perhatian” itu. Jika apa yang ingin kamu komentari bukan sesuatu yang membuat mereka tersenyum, mungkin bisa dipikir lagi: emangnya perlu sekali diutarakan?

(Tulisan ini merupakan program “Literasi Digital Perempuan” www.konde.co bekerjasama dengan www.plainmovement.id, program berbagi pandangan personal dan perjuangan perempuan dalam berliterasi melalui media digital)

Greta Theresia

Penulis Plain Movement

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email