Dapur Umum Buruh Gendong: Semangat Bersemi Dalam Pandemi

Dapur umum perempuan buruh gendong di Jogjakarta adalah salah satu solidaritas kolektif yang tumbuh di masa pandemi. Buat saya, ini merupakan semangat yang bersemi di saat pandemi

Setahun yang lalu, ketika pandemi Covid-19 mulai muncul di indonesia, kegiatan kegiatan sosial di masyarakat mulai dibatasi. Jalanan mulai lengang dan sepi , tidak ada hiruk pikuk. Kota Jogjakarta kehilangan keceriaannya. Pandemi seperti hantu yang siap untuk menghisap darah manusia siapapun itu.

Keadaan ekonomi mulai tidak stabil, diperkirakan usaha usaha yang didirikan perusahaan mengalami kebangkrutan, karena berhentinya distribusi pangan, berhentinya laju ekonomi demi memperketat alur protokol kesehatan membuat keadaan pangan masyarakat juga berdampak. 

Di sekitaran kontrakanku, tak jarang ibu ibu yang berjualan, ibu-ibu yang menyediakan lauk nasi sarapan ketika aku hendak memulai pagiku berkeluh kesah, bagaimana ia juga diberhentikan sementara dari pekerjaannya sebagai buruh perempuan lepas, di salah satu warung gudeg Jogja. Di kampung, aku dekat dengan ibu-ibu, ada semacam ikatan untuk saling menceritakan sebagian masing masing dari kisah kami.

Ibu prih, sebutannya menyatakan bahwa ia harus berhenti bekerja karena pandemi covid, ia menceritakan itu dengan nada sendu, dan mengucapkan bahwa tempat warung nasi gudeg disitu ia mencari nafkah mengalami kemerosotan omzet, hingga ia terpaksa diberhentikan oleh bosnya

Lalu ada ibu enny, teman saya yang berjualan sate di kawasan malioboro juga mengatakan dengan nada sesal dan harap kalau jualannya sepi dan aturan protokol membuatnya bingung dan terpaksa berhenti bekerja sementara selama masa pandemi. Kebingungannya lebih kepada dia harus berdiam diri di kamar kontrakan selama masa pembatasan wilayah dan tidak melakukan aktivitas seperti biasanya.

Inisiatif yang dilakukan oleh aktivis jogja, filantropis dan orang orang yang mempunyai rezeki lebih dengan membuat dapur umum buruh gendong perempuan, dapur ini awalnya berada di wilayah gembira loka yang kemudian mendistribusikan nasi bungkus ke beberapa pasar besar di Jogjakarta. Seperti pasar Beringharjo, dan pasar-pasar kecil di jogja lainnya.

Sejak Pandemi Covid-19, para aktivis, relawan dan filantropis yang tergabung dalam Solidaritas Pangan Jogja/ SPJ ini memang membagikan makanan pada para pekerja informal, tunawisma, masyarakat pra-sejahtera serta kelompok masyarakat rentan lainnya. Salah satu aktivitas yang banyak dilakukan adalah membagikan makanan pada para perempuan buruh gendong di beberapa pasar tradisional di Jogjakarta

Aku berkesempatan mengikuti aktivitas salah satu koordinator buruh gendong perempuan Adriani Sullivan, kami sama sama pergi ke pasar di daerah terminal Giwangan untuk membeli beberapa kebutuhan pokok seperti tahu, tempe, beras, bawang , lombok, kecap.

Di kendaraan, ia bercakap cakap bahwa kegiatan dapur umum buruh gendong perempuan mengurangi beban mereka dalam kehidupan sehari hari. Adriani bercerita, nasi bungkus yang dibagikan mengurangi ongkos operasional mereka semisal sehari mereka harus menyisihkan saku 15 ribu rupiah kini berkurang menjadi 5 ribu rupiah.

Adriani juga bercerita nasi bungkus yang diberikan kepada buruh buruh gendong terutama yang perempuan di pasar Beringharjo, pasar Giwangan memberikan kembali semangat mereka dalam bekerja di situasi pandemi.

Dalam proses aktivitas nasi bungkus ini, ada pembukaan pendaftaran bagi relawan yang berminat untuk membantu sesamanya. Relawan ini kemudian dibagi menjadi tim masak, tim distributor, tim pengelolaan bahan pangan seperti menyiapkan kardus makan, memotong motong bumbu yang semuanya dipikirkan mereka dengan detail.

Kegiatan mereka berlangsung pada hari Minggu sampai dengan hari Jumat. Waktunya pukul tujuh pagi hingga selesai. Relawan yang berminat untuk membantu, mayoritas adalah aktivis lingkungan, akademisi, mahasiswa dan juga orang orang yang berniat membantu karena empati dan solidaritas.

Kegiatan buruh gendong ini juga semacam mempertemukan seluruh aktivis Jogjakarta yang memperjuangkan isu-isu kemanusiaan di tengah pandemi.

Menurut pendapat saya secara personal, kegiatan ini bermuatan secara intelektual, emosional, juga spiritual.

Karena kegiatan ini banyak didatangi para mahasiswa, juga banyak pihak pihak yang memiliki kepentingan yang memanfaatkan dapur umum buruh gendong perempuan ini sebagai piranti pengetahuannya, kemudian secara emosional mendekatkan sesama relawan, koordinator dan donatur tanpa jarak, saling bertukar pengalaman masing-masing dan kadang kadang di sela-sela pembicaraan ketika sedang mengolah bahan makanan bersama, timbul ide-ide baru untuk membuat bagaimana manusia seluruhnya diupayakan sejahtera, upaya buruh gendong perempuan  juga meningkatkan solidaritas, dan kedekatan kita pada sang pencipta dan sesame.

Kepekaan kita terhadap sesama manusia semakin terasah disini mengingat situasi pandemi berdampak pada siapapun. Termasuk para pekerja buruh informal, dan pekerja-pekerja di berbagai bidang. 

Juga menurutku, kegiatan ini menciptakan kedekatan kekeluargaan baik bagi sesama relawan maupun kepada buruh gendong sendiri.

Pekerjaan para buruh gendong begitu penting bagi mereka, pandemi menjadi keluhan keluhan buruh gendong untuk melanjutkan hidup. Satu nasi bungkus begitu membuat mereka bahagia menerimanya sebagai sebuah berkat.

(Foto/ ilustrasi: Facebook M. Berkah Gamulya)

Jessica Ayudya Lesmana

Penulis Waria Autodidak dan Anggota Tim Cemeti

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email