Feminis Mesir Nawal El Saadawi Meninggal, Kita Mengenang Karya dan Perjuangannya

Untuk yang hidup di tahun 1990-an, Novel berjudul “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal El Saadawi adalah novel yang sangat dahsyat. Beberapa teman perempuan saya bahkan menyatakan novel ini merupakan salah satu novel terdahsyat yang bisa mengubah hidupnya.

Bayangkan saja, di tahun itu, di saat kita membaca buku serius untuk pertamakali, Nawal El Saadawi begitu mengguncang pikiran kita anak-anak 90-an yang merasa “baik-baik” saja.

Cerita Firdaus dalam Novel “Perempuan di Titik Nol” bercerita betapa kerasnya hidup seorang perempuan Mesir yang dibesarkan oleh budaya yang sangat patriarki kala itu, dilecehkan ketika kecil dan dinikahkan dengan seseorang yang tak ia sukai. Perempuan seperti kembali ke titik nol peradabannya.

Novel ini ditulis Nawal dalam bahasa Arab di tahun 1975 setelah kemudian diterjemahkan dalam beberapa bahasa.

Beberapa buku lain yang merupakan tulisan Nawal yang banyak dibaca mahasiswa di tahun 1990-an antaralain “Perempuan dalam Budaya Patriarki”, lalu “Catatan dari Penjara Perempuan”, “Memoar seorang Dokter Perempuan”, “ Matinya Seorang Laki-laki”, “Tak Ada Kebahagiaan Baginya,” dan beberapa novelnya yang lain.

Saya bisa cerita sedikit tentang mengguncangnya novel Nawal El Saadawi ini. Di tahun 1990a-an itu ketika kami mau lepas SMA, saya punya banyak teman perempuan baru, beberapa dari kami kemudian membentuk Kelompok studi gender, ini karena banyak buku bacaan yang mengguncang pikiran kami yang seolah “baik-baik” saja. Salah satu buku yang kami baca adalah bukunya Nawal El Saadawi “Perempuan di Titik Nol”

Novel-novel inilah yang kami diskusikan dan kami merasakan bahwa ternyata hidup itu tak pernah baik-baik saja. Dulu kami merasa bahwa yang aneh hanyalah di sekitar kami, yang mempertanyakan kenapa kami tidak punya pacar di umur segitu, yang mempertanyakan mengapa menstruasi sakit dan membuat kami harus merasa malu, yang mempertanyakan lingkungan yang banyak bully dan tak membuat nyaman. Tapi ternyata ada banyak sekali perempuan yang hidupnya tak pernah baik-baik, berjuang dari kecil, dilecehkan dari kecil. Itulah mengapa kami sangat mencintai Nawal El Saadawi.

Sejak membaca Nawal El Saadawi, kami merasa bahwa mestinya hidup kami bisa berguna, bisa bermanfaat untuk perempuan lain yang membutuhkan, dan tak melulu memikirkan hidup kami sendiri. Maka sejak itulah, kami jadi memikirkan perjuangan orang lain dan memikirkan bagaimana cara membantu orang lain

Bagaimana kami tidak terinspirasi oleh tokoh Firdaus yang diperlakukan buruk oleh ayahnya, lalu pamannya, sampai ia mengalami pelecehan seksual dan menikah. Tulisan Nawal El Saadawi selalu membekas di hati kami, seperti mengingatkan ada banyak sekali perempuan di dunia yang hidupnya serupa, tapi sulit sekali bicara, tidak bisa bercerita, sulit mendapatkan pertolongan.

Nawal lah yang selalu mengguncang pikiran kami sehingga bukunya selalu menjadi “hantu” di pikiran kami. Mengapa hantu, karena kami tak bisa tidur setelah membaca novel Nawal El Saadawi, tentang dahsyatnya perjuangan perempuan korban. Jangan membayangkan di tahun itu kami gampang mendapatkan buku-buku seperti ini, mendapatkannya saja sulit, meminjam teman yang senior yang lebih dulu membacanya, lalu kami baca dengan cara bergantian karena situasi orde baru kala itu.

Saat SMA dimana kami baru mencari banyak pengalaman dan bacaan, buku-buku Nawal seperti menjadi kamus penunjuk jalan, memperlihatkan samudera luas penderitaan perempuan di dunia

Novel Nawal selalu ditulis dengan sangat tajam dan mengajak pembaca untuk kritis tentang pergulatan perempuan.  Ia juga dikenal sebagai pejuang yang melawan praktik mutilasi kelamin perempuan, sesuatu yang sulit diperjuangkan di masa itu di Mesir dan Arab. Tempo.co menuliskan, Nawal pernah dipenjara, dipersekusi, diintimidasi, dan diancam dibunuh oleh kelompok konservatif karena pandangan-pandangannya yang berani mendobrak tabu

Penulis perempuan di titik Nol tersebut, Nawal El Saadawi, yang tulisannya begitu mengguncang banyak perempuan, kini meninggal pada 21 Maret 2021 di usianya yang ke-89 tahun. Beberapa teman kami yang dulu berproses bersama dengan buku ini sangat sedih, Nawal adalah perempuan yang berani, konsisten memperjuangkan banyak perempuan, tulisan, pekerjaan dan perjuangannya selalu menginspirasi

Nawal El Saadawi adalah seorang penulis, feminis, dokter dan psikiater. Karya-karya Nawal sangat memukau dan menyadarkan banyak orang bahwa ada kekejaman yang terjadi pada banyak perempuan di dunia ini. Nawal menerima banyak penghargaan internasional melalui karya dan perjuangannya.

Pada tahun 1982, Nawal mendirikan dan memimpin Arab Women Solidarity Association, yang salah satu kegiatannya adalah menerbitkan majalah Noon (sejak 1989). Karya-karyanya pernah disensor di Mesir, Saudi Arabia, dan Libya kemudian terbit di Libanon.

Nawal meraih berbagai hadiah sastra dan Supreme Council for Arts and Social Sciences, Mesir (1974) Franco-Arab Frienship Association, Paris (1982), dan Hadiah Sastra Gubran (1988). Tirto.id menuliskan Pada 2005, El Saadawi dianugerahi Inana International Prize di Belgia, setahun setelah ia menerima penghargaan The North-South dari Council of Europe. Pada 2020, Majalah Time menobatkannya dalam daftar 100 Perempuan Tahun Ini.

Hingga akhir hidupnya, Nawal disebut sebagai feminis yang berani dan berbahaya di Mesir dan Arab

(Foto: Youtube)

Luviana

Setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar paruh waktu di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email