Hal Penting Yang Bisa Kamu Lakukan: Mengajak Korban Berani Bicara

Bercerita pada orang lain adalah sesuatu yang sulit dilakukan ketika kita menjadi korban kekerasan seksual. Maka penting bagi kita untuk mengajak para korban untuk berani bicara

Bagaimana cara menerima berita sedih dengan lebih mudah? Salah satu teman bercerita tentang menerima berita sedih ini sama saja seperti meminum kopi pahit. Harus menerima dengan hati lega walau tak enak

Dan ternyata, ada berbagai macam cara menerima berita sedih ini, salah satunya adalah dengan nonton film dan hang out bersama teman, atau pergi sendiri untuk menerima kenyataan dengan lebih baik

Tentu saya pilih yang pertama. Karena nonton dan hang out bersama teman dekat adalah sesuatu yang menyenangkan, bisa mengusir berita sedih.

Namun di saat pergi bersama teman-teman itulah saya mulai berpikir sesuatu: bagaimana jika ada banyak orang di dunia ini yang tidak bisa menceritakan apa yang ia alami pada orang lain? Korban kekerasan misalnya, salah satunya korban pelecehan seksual.

Para korban biasanya harus didampingi, diajak bicara bahkan diajak melakukan rutinitas yang agak berbeda dari kehidupan sehari-hari agar sedikit bisa meringankan beban yang ia rasakan. Tak semudah saya dan teman-teman yang bisa bercerita tentang hal yang membuat sumpek dalam seminggu ini, bisa sambil minum kopi dan tertawa bareng.

Tentu menjadi korban kekerasan adalah sesuatu yang sangat jauh berbeda.

Baru-baru ini saya mendapati banyak perempuan yang dengan susah payah bisa menceritakan tentang pelecehan seksual yang ia alami di masa lalu. Bagaimana dulu ia bisa menyembunyikan hal yang paling sulit ini? Apakah ia tidak pernah menceritakan apapun pada orang terdekatnya?

Masa itu pasti tidak begitu saja berlalu dengan mudah. Sudah banyak kita dengar cerita tentang bagaimana perempuan korban yang sedang berjuang namun malah dicemooh sebagai orang yang dianggap mengarang cerita, sebagai perempuan yang dianggap mencari perhatian. Jika bukan perkataan yang buruk ini, maka yang ada adalah lontaran yang ada di belakang korban.

“Dimana posisinya waktu itu? datang ke tempat laki-laki itu? Pantas jika dia menjadi korban kekerasan seksual.”

Kalimat patriarkhi itu sering saya dengar. Padahal perempuan yang berani untuk bercerita dan merangkai keberanian untuk mengakui dan melaporkan, adalah perempuan feminis yang sudah berhasil membangun teori feminis dan perjuangan feminis.

Salah satu feminis, Kate Millet menyatakan bahwa kekerasan merupakan sesuatu yang dilanggengkan dalam hubungan politik. Orang-orang yang melawan korban dan mencemooh korban adalah orang yang menyerang feminisme, sama saja ini dengan mengontrolnya agar tidak bisa berbuat sesuatu.

Tentu ini ramai kami bicarakan karena justru yang mencemooh biasanya adalah teman kita sendiri, orang dekat yang tak pernah kita bayangkan akan berjarak ketika kita mempercayainya sebagai teman untuk bercerita.

Jika tidak bersuara, maka suara korban akan tenggelam pada hiruk-pikuk cemooh dan perlakuan buruk lainnya.

Maka suara kemudian menjadi salah satu bahasa tubuh kita untuk melakukan perlawanan. Ini adalah suara perempuan yang mencintai kebenaran, kesungguhan hati untuk berjuang.

Rasa-rasanya, saya harus cepat bergegas untuk segera mendampingi banyak perempuan lain yang mau berjuang untuk melawan.

(Foto/Ilustrasi: Pixabay)

Damai Mentari

Suka Menulis dan Menyukai Hal-Hal Yang Berbeda

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email