Kisah Perempuan Korban Perkosaan Dalam “Neraka”

Sudah mengalami kekerasan seksual, perempuan yang diperkosa sering mendapat stigma buruk sebagai perempuan yang genit, suka menggoda. Buku puisi “Neraka” mengangkat kisah perempuan yang diperkosa oleh seorang laki-laki yang punya istri. Ini menjadi semacam validasi 2 perempuan yang dikalahkan oleh nafsu laki-laki

Meski sudah diingatkan sedari halaman pertama untuk tidak geram setelah membaca buku ini, namun bagaimana tidak geram, daging buku “Neraka” terbitan Boenga Ketjil ini justru mampu membuat siapapun bergidik dan emosi membaca cerita perempuan yang menjadi korban perkosaan

Mengangkat isu pemerkosaan, buku berjudul “Neraka” ini hadir mewakili suara lirih dari korban yang sulit untuk bersuara

Kumpulan puisi “Neraka” membuat kita berdiri pada sisi korban. Buku tulisan jurnalis, Andreas Wicaksono ini, berhasil mengemas hal yang paling sering terlupakan oleh kita sebagai manusia, yakni kemanusiaan yang hilang, ketika dihadapkan dengan kekuasaan. Perempuan yang diperkosa oleh laki-laki

Lasmi, perempuan yang menjadi tokoh utama pada buku berisi 18 halaman itu, terus mengantarkan mata dan hati pembaca pada ketidak berdayaan. Ia diperkosa oleh laki-laki yang punya istri. Kekejaman yang berlipat ganda.

Konflik yang dihadirkan bukan lagi persoalan sakit hati. “Neraka” menarik kita untuk melihat fakta bahwa ketidakadilan ini selalu banyak terjadi, ada dimana-mana, dan perlindungan pada korban pemerkosaan sangat semu. Sempitnya akses keadilan pada banyak kasus adalah cerminan yang bisa kita jumpai pada setiap bait buku berukuran 14×21 cm ini.

Ada bagian menarik yang tak pernah saya dapatkan saat membaca sajak Andreas, pemilihan diksi yang sederhana tapi menusuk tersebut layaknya dua belah mata pisau. Menyadarkan, kemudian memilukan. Salah satu bagian yang menjadi highlight saya adalah puisi dengan judul ‘Perempuan Neraka’.

Perempuan selalu dianggap sebagai objek, posisi tidak menguntungkan itu kerap mengantarkan perempuan pada dehumanisme. Banyak orang yang masih menganggap perempuan bukan bagian dari masyarakat dan bukan manusia seutuhnya. Karenanya jika perempuan mengalami hal di luar ekspektasi masyarakat, sudah dapat dipastikan ia akan dapat stigma sebagai orang yang jelek, buruk.

Pada bagian ‘Perempuan Neraka’ Andreas berhasil membawa kenyataan pahit ini. Dalam tragedi pemerkosaan, perempuan sering dilimpahi dosa, dianggap sebagai sumber godaan dan pantas untuk ‘disalahkan’, jelas tergambar pada tiap sajak liarnya. Kita tak bisa mengelak jika sistem patriarkis juga kerap meletakkan perempuan untuk bersaing satu sama lain.

Perempuan seakan memiliki urgensitas untuk divalidasi keberadaannya oleh lelaki. Itulah yang dialami Bu Dim, karakter antagonis istri muda Pak RW si laki-laki pemerkosa. Bu Dim  tersayat hebat ketika mengetahui suaminya telah memperkosa Lasmi. Ia kehilangan percaya diri karena suaminya memperkosa

Walau Bu Dim terjebak dalam pernikahan yang memilukan, namun dirinya juga tak bisa melihat Lasmi sebagai korban. 

Kenyataan bahwa perempuan diceburkan dalam kacamata patriarki harus kita akui. Andreas berhasil melihat kenyataan itu.

Akan tetapi ia gagal menghadirkan harapan baru. Ia terpaku dengan api yang membakar, padahal api juga bisa jadi cahaya.

Kegusarannya terhadap kenyataan bagaimana masyarakat memperlakukan korban bisa dengan mudah kita tangkap. Namun ia lupa jika tiap perempuan yang tertindas adalah perempuan yang bisa melawan dengan caranya. Perlawanan Lasmi kurang begitu ditonjolkan, hingga pembaca sampai pada bab terakhir.

Pada bab ‘Lasmi Surga’ Lasmi lebih digambarkan pada manusia yang tak bisa berbuat apapun. Cenderung pasrah pada keadaan, padahal di bab sebelumnya Lasmi adalah perempuan yang melawan. Ia marah dan kecewa, sambil terus berjuang untuk dapat menghidupi dirinya dan anak-anaknya.

Karakter itu seperti menguap di akhir bab. Memasrahkan diri pada keadaan dan Tuhan. Saya pribadi menyesali api perjuangan Lasmi yang tiba-tiba dimatikan oleh penulis.

Padahal saya berharap ending kisah Lasmi bisa membawa semangat baru untuk melawan ketidakadilan.

Mungkin saja, penulis memang sengaja menggunakan anti klimaks sebagai penutup. Walaupun begitu, buku ini harus masuk dalam list belanja bulanan, agar kita tahu bagaimana memperlakukan korban dengan baik

“Neraka” seperti judulnya, ia adalah api kemarahan. Ia mampu mengusik jiwa-jiwa patriarkis yang kebetulan membaca buku ini. Saya menyarankan pembaca untuk mempersiapkan mental sebelum membuka lembar demi lembar percikan apinya.

(Foto: Buku “Neraka”/ Reka Kajaksana)

Reka Kajaksana

Penulis

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email