Ma Kyal Sin, Kematiannya Jadi Simbol Perempuan Muda Asia

Kematian Ma Kyal Sin, perempuan berumur 19 tahun yang melakukan demonstrasi di Myanmar, menjadi simbol perjuangan dan kebangkitan para perempuan muda di Asia

Kematian Ma Kyal Sin ramai menjadi perbicangan di media. Ucapan duka dari berbagai negara disampaikan di wall media sosial Ma Kyal Sin dari para jurnalis dan aktivis pro-demokrasi. Ia ditembak dalam aksi kudeta militer di Myanmar. Kudeta militer sudah terjadi pada Februari 2021 setelah ditahannya tokoh demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi

Dalam Laman Facebooknya Ma Kyal Sin/ Deng Xia Ji mengupload sejumlah aksi yang ia ikuti untuk melawan otoritarisme militer di Myanmar, beberapa video para mahasiswa yang bergabung dengan para aktivis dengan melakukan demonstrasi

Pada tanggal 8 Februari 2021, Ma Kyal Sin juga membawa poster “selamatkan Myanmar” dengan Hastag “JusticeforMyanmar” dan tulisan “Save Democracy, we need democracy justice for Myanmar, respect our votes” bersama teman-temannya yang lain.

Dilansir dari cnbcindonesia.com, Ma Kyal Sin, yang juga dikenal dengan nama Deng Jia Xi dan Angel, merupakan salah satu pengunjuk rasa yang bergabung bersama ratusan orang dalam unjuk rasa hari Rabu (3/3/2021).

Setelah berjuang dalam unjuk rasa di jalan Mandalay, Kyal Sin tewas setelah sebuah peluru menyasar ke kepalanya. Penari dan juara taekwondo tersebut meninggal bersama sekitar 18 pengunjuk rasa lainnya. Sebelum tewas, Kyal Sin sudah mempersiapkan segalanya. Dengan turun ke jalan untuk merebut kembali demokrasi Myanmar, artinya ia tahu bahwa aksi yang diikutinya ini akan mempertaruhkan nyawanya.

Ratusan ucapan duka membanjiri facebooknya. Jurnalis perempuan, Rinjani (Rhen Janie) menuliskan di laman Facebooknya:

KEBANGKITAN ASIA. Dekade ini memang tahun-tahun kebangkitan anak-anak muda di Asia. Di Myanmar ada Kyal ‘Angel’ Sin, di Hongkong ada Joshua Wong dan Agnes Chow, di Thailand ada Parit Chiwarak, di Malaysia ada barisan anak muda yang tergabung dalam gerakan Bersih. Dan, di Indonesia ada Randy dan Yusuf Kardawi, dua mahasiswa Kendari yang tewas saat bersama kawan-kawannya di seluruh Indonesia berunjuk rasa menuntut pembatalan UU KPK, RKUHP, dan undang-undang bermasalah lainnya, termasuk (belakangan) omnibus law. Persamaannya, mereka – anak2 muda usia belasan dan duapuluhan ini sama-sama turun ke jalan menentang apa yang mereka anggap keliru: korupsi, kudeta militer, oligarki, otoritarianisme. Ongkos mahal yang harus ditebus untuk hidup bernegara dengan sehat, adil dan transparan.

Beberapa tulisan lain di Facebooknya juga mengucapkan ucapan duka: .

Namamu tak akan terlupakan & ceritamu akan diceritakan. ′′ Pahlawan untuk Myanmar. Beristirahatlah dalam Damai Malaikat. Malaikat, juga dikenal sebagai Kyal Sin, tertembak di kepala dan terbunuh di kota Mandalay pada hari Rabu saat mengenakan kemeja dengan pesan ′′ Semuanya akan baik-baik saja.” Kyal Sin meninggalkan surat bertuliskan ′′ Golongan darah saya B & Jika saya mati saya mendonorkan organ tubuh saya ′′

Ada juga ucapan dari BJ Fermaran Philippnina “rest in peace Angel, stay safe and strong Myanmar citizenz. Sending Love and Prayers From Phillipine.”

Militer Myanmar telah melakukan kudeta kekuasaan terhadap pemerintahan Myanmar sejak 1 Februari 2021. Di bawah kekuasaan militer, kepolisian Myanmar terus melakukan kekerasan terhadap masyarakat sipil.

Kematian Ma Kyal Sin menandakan perjuangan yang berat melawan otoritarianisme di Myanmar. Ma Kyal Sin adalah simbol perjuangan perempuan muda di Asia yang sudah berpikir tentang masa depan Myanmar. Kematiannya adalah simbol kebangkitan perempuan muda di Asia

Penahanan Suu Kyi akan berakibat buruk pada upaya membawa Myanmar melewati masa-masa genting.

Kudeta ini bisa jadi menjadi akhir yang buruk dari mengendurnya ketegangan antara sipil dan militer yang selama ini telah membawa keuntungan.

AJI dan GERAMM desak otoritas Myanmar Bebaskan Jurnalis yang Ditahan

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan Gerakan Media Merdeka Malaysia (GERAMM) juga membuat pernyataan sikap tentang kekerasan yang terjadi di Myanmar terhadap masyarakat dan jurnalis.

AJI dan GERAMM mencatat, sedikitnya 22 jurnalis, termasuk 6 jurnalis yang masing-masing bekerja di Associated Press, Myanmar Now, Myanmar Photo Agency, 7Day News, Zee Kwet Online News, dan jurnalis lepas ditahan.

Militer juga sempat membatasi dan menghentikan akses internet dan komunikasi di beberapa daerah Myanmar tanpa aturan yang jelas.

Menurut kelompok pemantau Asosiasi Bantuan Tahanan Politik (AAPP) hingga 4 Maret 2021, tercatat ada 1.507 orang ditangkap, sekitar 1.200 orang masih di balik jeruji besi dan 50 orang meninggal dunia diterjang peluru tajam. Korban diperkirakan akan terus bertambah, mengingat sikap militer yang tidak peduli dengan ancaman sanksi dari masyarakat internasional.

Para jurnalis juga dituduh melanggar undang-undang ketertiban umum karena menyebabkan ketakutan dan menyebarkan berita palsu  dengan ancaman tiga tahun penjara.

Kekerasan yang dilakukan oleh junta militer Myanmar ini jelas merupakan bentuk pelanggaran hak asasi manusia dan menodai demokrasi yang menjadi landasan dalam bernegara. Penahanan terhadap jurnalis dapat memperburuk situasi kebebasan pers di negara itu. Selain itu pengekangan pers dapat mengurangi hak masyarakat di tingkat regional dan global mendapatkan informasi tentang situasi Myanmar.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia melalui ketua AJI, Sasmito Madrim, mendorong otoritas Myanmar untuk membebaskan dan menghentikan kekerasan terhadap jurnalis yang sedang menjalankan tugasnya. Setiap jurnalis memiliki hak untuk meliput peristiwa publik yang penting di Myanmar, tanpa takut ditangkap atau dianiaya.

“Mendorong otoritas Myanmar untuk menghentikan kekerasan yang telah menimbulkan korban jiwa di sisi warga sipil Myanmar yang sedang berjuang mempertahankan demokrasi. Selain mengancam warga Myanmar, kudeta militer dan rangkaian kekerasan ini dapat berpotensi mengancam stabilitas kawasan Asia Tenggara,” kata Sasmito Madrim

Sekjend AJI Indonesia, Ika Ningtyas juga menyatakan bahwa AJI mendorong pemerintah Indonesia untuk merangkul negara-negara anggota ASEAN untuk mendukung Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengirimkan tim investigasi ke Myanmar.

“Tim ini penting untuk melaporkan kondisi dan menghentikan kekerasan yang terjadi di Myanmar,” kata Ika Ningtyas

(Foto: Facebook)

Luviana

Setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar paruh waktu di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email