Menikah Membuat Produktivitas Perempuan Seniman Jadi Rendah

Pasca menikah, produktivitas perempuan seniman menjadi kurang optimal, bahkan terhenti. Ini karena keluarga memerlukan alokasi waktu yang lebih banyak. Belum lagi infrastruktur seni atau komunitasnya yang tak mendukung

Persoalan apa saja yang sering dialami para perempuan seniman yang sudah menikah? Apakah ini akan mempengaruhi praktik mereka dalam berkesenian?

Raisa Kamila, Cerpenis perempuan menceritakan pengalamannya. Selama ini perempuan penulis seperti dirinya diposisikan rentan, dianggap bebas karena dirinya seorang seniman perempuan. Apalagi ia hidup di Banda Aceh yang banyak perempuannya menggunakan kerudung, sedangkan ia tidak.

“Pengalamanku sih, waktu sebelum menikah bukan mengalami diskriminasi, tapi lebih rentan saja gitu. Soalnya dianggap kalau berkegiatan seni gitu, pasti bebas orangnya. Apalagi saya kan dari Banda Aceh yang orang-orangnya pakai kerudung, sementara saya kan gak pakai kerudung,” ujar Raisa Kamila.

Tantangan yang dihadapi banyak perempuan seniman setelah menikah adalah persoalan domestik. Misalnya, bagaimana membagi waktu untuk urusan rumah tangga dan urusan pekerjaan. Ini adalah persoalan klasik yang dialami banyak perempuan Indonesia

Raisa Kamila menyampaikan ini dalam diskusi yang diadakan Jaringan Seni Perempuan pada Kamis, 18 Februari 2021 secara daring yang menghadirkan para seniman perempuan yang telah menikah seperti Restu Ratnaningtyas, perempuan perupa, dan Ria Papermoon, artistic director, produser di kelompok teater boneka “Papermoon”.

Dengan kerja-kerja domestik yang dikerjakan banyak perempuan ini, maka peluang dalam bidang kesenian bagi perempuan yang sudah menikah pasti akan lebih terbatas.

Jika dibandingkan dengan perempuan yang masih lajang misalnya, untuk mengikuti residensi, perempuan yang masih lajang akan memiliki banyak peluang karena pilihan untuk melakukan residensi bagi perempuan yang sudah menikah sambil membawa keluarga sangat terbatas.

“Kalau untuk residensi atau ngasih workshop gitu, memang kalau yang masih lajang gitu lebih mudah, gak perlu mikirin, nanti anak makan apa ya saat saya lagi jadi pembicara gitu. Atau kalau saya lagi berkarya gak mikir anak lagi ngapain ya. Jadi untuk perempuan lajang, peluangnya jadi lebih banyak,” tutur Raisa.

Ria, director dan produser teater Boneka “Papermoon” menyatakan, bagi perempuan yang sudah punya anak, jika mau membawa keluarga ke tempat pertunjukan, maka mereka harus berpikir apakah tempatnya aman ataukah tidak, jadi harus berpikir panjang jika ingin pergi

“Kalau aku sih liatnya, dari beberapa teman-teman seniman perempuan ya gitu. Keluhan-keluhan setelah mereka berkeluarga biasanya ya karena ruangan tidak cukup aman, jadi mereka gak bisa membawa anak-anak mereka,” ujar Ria

Padahal Ria melihat bahwa saat ini seni sudah mulai mengalami pergeseran, dari yang awalnya hanya dianggap sebagai proses berkomunitas saja dan belum dianggap sebagai pekerjaan yang dapat menghasilkan nilai ekonomi tertentu, sampai kemudian ada perubahan, perempuan ternyata bisa memenuhi kebutuhan hidup dari seni itu sendiri.

Soal perlakuan dan problem diskriminasi juga dialami Restu Ratnaningtyas. Diskriminasi ini dari keluarga dan lingkungan. Maka, Restu kemudian memilih seni sebagai hobi, bukan sebagai pekerjaan

“Kalau buat saya sih ya, saya mengalami banyak perlakuan diskriminasi. Dari keluarga sendiri dan dari lingkungan sekitar. Jadi bagi lingkungan sekitar, kalau perempuan menjadi seniman ya hanya sebatas hobi saja. Yang utama ya tetap anak dan urusan dapur,” ucap Restu Ratnaningtyas.

Memang anak adalah prioritas utama, tapi menurut Restu, ia juga perlu melakukan kegiatan lain selain mengerjakan urusan dapur. Dan karena ia tidak pernah sejalan dengan pasangannya, akhirnya ia memilih bercerai dan pindah ke lingkungan baru. Akan tetapi, setelah pindah ke lingkungan barupun, ia tetap mengalami diskriminasi.

“Jadi ya ketika lingkungan saya tahu kalau saya bekerja sebagai seniman dan tidak kelihatan bekerja di rumah, saya mendapatkan stigma negatif dari lingkungan saya dan akhirnya memutuskan untuk pindah lagi,” tambah Restu.

Menurut Ria Papermoon, walaupun banyak perempuan mengalami ini, namun menurutnya, keberhasilan seorang perempuan tidak hanya dilihat dari beruntung atau tidaknya seseorang, melainkan juga dari perjuangan yang dilakukan. Dan kejadian yang dialami oleh setiap manusia, maupun kejadian mengenai tindakan diskriminasi menurut Ria, dapat diubah menjadi sebuah karya seni. Dan peristiwa-peristiwa inilah yang sebenarnya merupakan harta karun bagi para seniman.

“Ketika seorang seniman memiliki anak, mereka akan menjadikan anak-anak sebagai alasan untuk tidak melakukan sesuatu atau sebaliknya. Padahal, anak-anak sesungguhnya termasuk kedalam bagian kekayaan proses kesenian para seniman.”

“Sebenernya waktu melihat istilah diskriminasi dengan lebih luas, kita juga secara tidak sadar melakukan diskriminasi terhadap anak-anak. Karena, tidak ada karya seni yang ditujukan untuk anak-anak, padahal mereka seharusnya memiliki hak untuk menikmati karya seni. Jadi, untuk teman-teman yang punya anak, mungkin bisa dipikirkan, gimana ya caranya agar dapat menghasilkan karya yang bisa melibatkan anak atau gimana ya biar anakku bisa ikut nonton,” tambah Ria.

Menambahi soal keberuntungan, Raisa menambahkan bahwa faktor keberuntungan mungkin benar dapat mempengaruhi keberhasilan dalam bidang seni, tetapi, ia harus memperjuangkan hal ini selama bertahun-tahun.  Ida Karwayu, moderator yang juga seorang seniman punya pendapat yang mirip.

“Jadi kalau sebelum menikah dan medan kita tidak suportif, yang pertama kita lakukan adalah meretas dan mencari atau memperjuangkan medan yang suportif yang akhirnya dalam jangka panjang dapat membantu kita ya. Dan selanjutnya, mencari pasangan yang suportif,” simpul Ilda Karwayu

Menemukan lingkungan yang tepat akan membuat perempuan bisa merasa didukung

“Kalau soal beruntung gak beruntung ya, saya masih menganggap itu adalah sebuah keberuntungan. Karena ketika seluruh lingkungan berbalik menyerang saya dengan berbagai realita yang ada, saya dapat bertemu dengan orang-orang yang netral dan suportif. Dan menurut saya, bagi perempuan seniman, bertemu dengan lingkungan yang seperti itu sangatlah penting. Jadi ya, menurut saya itu masih termasuk kedalam keberuntungan,” ujar Restu.

Restu menambahkan, jika dengan menemukan lingkungan yang tepat atau pasangan yang tepat, maka ini termasuk keberuntungan bagi perempuan

“Apakah yang saya lakukan benar atau salah. Dan gak cuma dari sisi pribadi saya, tetapi sisi pasangan juga gitu. Jadi ya, bertemu dengan orang yang dapat membantu saya saat saya merasa down itu bisa dikatakan beruntung,” tambah Restu.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Brigitta Audrey

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara, Jakarta

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email