Kita Mestinya Menghormati Pilihan Seksualitas Aprilia Manganang

Kasus yang dialami atlet bola voli Indonesia, Aprilia Manganang menunjukkan bahwa pada akhirnya keputusan memilih jenis kelamin dan seksualitas adalah hak sepenuhnya individu yang harus didukung semua pihak

Setelah sempat ramai menjadi pembicaraan di media sosial, akhrinya dukungan datang dari berbagai elemen masyarakat pada atlet bola voli Indonesia dan staf Tentara Nasional Indonesia (TNI), Aprilia Manganang

Tak hanya pimpinan korps TNI tempat dia bekerja yang mendukungnya, dukungan juga  mengalir dari Kementerian Pemuda dan Olah Raga, lembaga yang menaungi aktivitas Aprilia Manganang saat masih menjadi anggota tim  nasional bola voli Indonesia.

Sebagai seorang bayi yang dilahirkan dengan kondisi bentuk alat genital yang berbeda, yang dikenal dengan istilah kedokteran hipospadia, maka oleh orangtuanya Aprilia Manganang di catatkan sebagai anak perempuan. Pelabelan status jenis kelamin ini dilakukan karena ketidaktahuan orang tua atas genetik Aprilia

Kondisi hipospadia sendiri tercatat di Indonesia dialami oleh kurang dari 15 ribu bayi setiap tahunnya.  Perbedaan yang menyebabkan letak lubang kencing (uretra) pada bayi laki-laki menjadi tidak normal. Dalam beberapa kasus bahkan si bayi dianggap memiliki lubang vagina, ataupun testis yang tidak ada satu atau keduanya dalam kantong skrotum, atau juga krotum yang kosong dengan penampakan seperti ada labia dengan atau tanpa penis yang kecil.

Maka kondisi yang berat pada akhirnya harus ditanggung oleh anak-anak dan remaja yang mengalami ambigu jenis kelamin ini. Salah satu yang paling nyata adalah diperlakukan sebagai perempuan secara konstruksi sosial,  padahal dirinya adalah laki-laki. Sebuah situasi yang berdampak pada psikologis yang cukup berat pada seseorang

Dalam kasus Aprilia Manganang, dulu ia pernah menjadi atlet bola voli putri, sangat sering pihak lawan mempertanyakan identitas jenis kelamin dirinya, baik dalam pertandingan tingkat nasional maupun internasional.

Pada waktu SEA Games 2015 di Singapura misalnya, Timnas voli putri diprotes tim Filipina sehingga diputuskan bahwa dari komite medis SEA Games memeriksa keabsahan soal jenis kelamin Aprilia Manganang. Hasil pemeriksaan tim dokter SEA Games saat itu, Aprilia Manganang tetap dinyatakan sebagai perempuan.

Banyaknya keraguan dan seringnya dipertanyakan jenis kelaminnya, membuat Aprilia Manganang merasakan banyak tersinggung harga dirinya. Secara terbuka ia mengatakan itu pada sebuah acara talk show di salah satu stasiun televisi Indonesia.

Dalam berbagai kasus bahkan secara orientasi seksualitasnya pun dipertanyakan, bahkan tak jarang menjadi bahan olokan.  Ini juga rata-rata dialami para penderita hipospadia lainnya.

Dikutip dari beberapa  media tentang pengakuan Aprilia Manganang pada sahabatnya sesama pemain bola voli beberapa tahun lalu, bahwa pertanyaan apakah akan menikah dengan laki-laki pun dijawab dengan penuh kebimbangan oleh Aprilia saat itu. Tekanan sosial atas seks dan seksualitasnya terbayang pastilah sangat berat bagi Aprilia

Ketika pada akhirnya Aprilia Manganang mengambil keputusan untuk memilih menjadi laki-laki, dan mendapatkan bantuan dari korpsnya untuk melakukan correction surgery (operasi perbaikan) pada alat kelaminnya, maka dukungan penuh haruslah kita semua berikan. 

Tentu saja prosesnya tidak akan berhenti di sini, Aprilia juga harus melakukan proses perubahan identitas jenis kelaminnya secara hukum, melalui persidangan untuk pergantian seluruh data yang secara hukum harus ia miliki, mulai dari akte kelahiran, hingga identitas kependudukannya. Benar-benar jalan panjang dan proses hukum dan kita harus dukung sepenuhnya. Seperti juga nantinya kita harus mendukung pilihan orientasi seksual dirinya. Apapun juga pilihannya.

Dalam sebuah studi Sexuality after hypospadias repair (Bracka, 1999) didapatkan data bahwa 6 dari 213 pasien hipospadia yang setelah menjalani  operasi perbaikan genital di Inggris, memilih orientasinya seksualnya dengan laki-laki lainnya (homosexual). Sebuah fakta yang secara medis maupun kejiwaan dianggap bukan persoalan. Bagaimanapun sejak  1973 College of Psychiatry Federal Council Australia dan Selandia Baru menyatakan bahwa homoseksualitas bukan sebuah penyakit, dan didukung oleh  oleh American Psychiatric Association (APA) secara penuh.

Dalam acuan diagnostik para ahli psikiatri di seluruh dunia, yakni Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) III tahun 1973, homoseksual  tidak dikategorikan sebagai gangguan jiwa.

Demikian juga di Indonesia dalam buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa, Edisi II, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, tahun 1983 (PPDGJ II) dan (PPDGJ III) 1993, pada point F66 meyebutkan bahwa orientasi seksual (homoseksual, heteroseksual, biseksual) bukanlah gangguan kejiwaan.

Kasus hipospadia ini memang banyak ditemui di Indonesia, meski mungkin jarang yang terungkap secara terbuka di media massa. Serta tidak semua beruntung bisa segera diketahui dan mendapatkan bantuan untuk operasi perbaikan genitalnya.

Belajar dari kasus Aprilia Manganang, kita harus sensitif ketika dalam keluarga kita atau pertemanan kita melihat situasi seks dan orientasi seksualitas seseorang yang berbeda. Pilihan dan keputusan atas jenis kelamin dan orientasi seksual seseorang tetaplah merupakan hak individu yang bersangkutan dan kita harus mendukung apapun pilihannya

(Foto: Voiball.com)

Lestari Nurhajati

Dosen dan Researcher Komunikasi London School of Public Relations (LSPR) Communication & Business Institute

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email