4 Pemikiran Penting Katrin Bandel Tentang Keberagaman Perempuan

Keputusanku untuk mempelajari buku Katrin Bandel adalah karena ketertarikanku terhadap beragam pemikirannya tentang perempuan. Yang paling menarik adalah bagaimana Katrin Bandel merinci dan meneliti wacana kolonial, kemudian mengaitkan itu pada pemikiran perempuan dan feminisme

Pertemuanku dengan Katrin Bandel berawal dari diskusi bedah buku Hendra Yulius yang berjudul Cabul. Di situ Katrin Bandel diposisikan sebagai penanggap buku.

Katrin Bandel menyampaikan pendapatnya dengan wibawa dan tegas. Ia mengulas buku itu dengan teliti bab per bab dari buku Cabul yang ia telaah. Seperti misal, ia keberatan jika perempuan disimbolkan sebagai hantu, penyihir.  Ia menyorot peran hantu dalam serial televisi Si Manis Jembatan Ancol, film-film Suzana membuat  stereotype gender tersendiri membuat perempuan yang tertawa dianggap sebagai hantu atau “mirip hantu”.

Katrin Bandel sendiri adalah dosen di Universitas Sanata Dharma di Jogja, apa yang menjadi kritik Katrin terhadap tulisan Hendra Yulius semakin menarik perhatianku. Jauh sebelum aku merefleksikan bukunya, tentunya aku melihat perubahannya ketika ia memakai jilbab dan aku hormat padanya atas putusan itu

Ketertarikanku pada pemikiran Katrin Bandel lainnya adalah ketika Katrin menulis buku yang berjudul “Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial” (Sanata Dharma University Press, 2016). Buku ini menceritakan beberapa pengalamannya sebagai perempuan berketurunan Jerman  yang berdialog dengan temannya, seorang wartawan perempuan dari Jerman mengenai jilbab.

Ia merasa tertarik dengan jilbab karena pada kurun waktu kehidupannya mendatang ia kemudian memakainya. Ia sadar akan posisi jilbab tetapi ia masih kebingungan menjelaskan apa hubungan jilbab dengan emansipasi perempuan kepada wartawan itu. Aku menduga jilbab seolah menjadi tanda semakin kuatnya Islam yang mengakar pada dirinya.

Ia bersama perempuan wartawan Jerman kala itu bercakap-cakap untuk mengetahui bersama duduk persoalan tentang jilbab. Namun yang terjadi perlu waktu, perlu tenaga bersama untuk berpikir mendapatkan produksi pengetahuan baru.

Tentu saja, Katrin Bandel mengulas berbagai topik di bukunya, topik yang menarik untuk diangkatnya adalah bagaimana kekuasaan global tidak boleh diabaikan berkaitan dengan perspektif perempuan.

Sebagai perempuan transgender, aku begitu kagum dengan Katrin Bandel, karena ia merinci beberapa pertanyaan mendetail apa itu perempuan, juga soal perempuan dan feminisme.

Wacana Kolonial Katrin Bandel

Di dalam buku yang aku baca sekarang ini, yang paling menarik adalah bagaimana Katrin merinci dan meneliti wacana kolonial, kemudian mengaitkan itu kepada pemikiran perempuan dan  feminisme.

Wacana kolonial yang dimaksud di sini dijelaskan oleh Katrin bahwa ini dipopulerkan oleh Edward Said, dengan merujuk pada wacana (discourse) pemikir Perancis Michel Foucault, dimana wacana ini dipahami sebagai sistem yang mengatur dan meregulasi bagaimana dunia ini serta kehidupan manusia di dalamnya dapat dipahami dan dibicarakan.

Katrin berpendapat bahwa pengetahuan itu tidak bisa diproduksi oleh siapa saja, dan cara apa saja, namun ada batas-batas yang bisa diterima secara wajar. Cara memproduksi pengalaman sebagai pengetahuan yang dihayati menurut Katrin dalam uraian refleksinya cenderung tidak disadari oleh masyarakat. 

Aku membuat kerangka baca tulisan pada bagian bab 1. Ia menuliskan beberapa bagian yang perlu dirinci lagi lebih luas. Di sini aku hendak membaginya dalam empat bagian:

1.Wacana kolonial

Kolonialisme diartikan Katrin Bandel di bukunya sebagai pencaplokan tanah tempat tinggal orang lain, serta penindasan, dan pengerukan keuntungan sebesar besarnya.

Wacana kolonial bercirikan superioritas orang-orang dengan ciri kulit putih dan percaya bahwa mereka memiliki kedudukan lebih tinggi dan dilanggengkan oleh perilaku manusia untuk menerima kekuasaan mereka sebagai makhluk dengan ras tertinggi. Di dalam wacana kolonial, pendapat yang menyatakan bahwa manusia harus menjadi modern dan meninggalkan keprimitifan dianggap baik. Seolah-olah sesuatu yang modern dianggap tolak ukur keberhasilan seseorang.

Katrin bertutur seolah ia merasakan apa yang dialami oleh masyarakat yang dianggap terbelakang, dengan dasar atas dominasi pemikiran barat. Orang-orang kulit putih itu pun seolah-olah berhak untuk membawa kemajuan gagasan, ide, dan inisiasi-inisiasi penting yang mencirikan imperialisme barat, yaitu misi tentang peradaban. Misi ini bertujuan untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya harta kekayaan dan keuntungan.

Merefleksikan Katrin, aku berfikir bahwa  teks tentang peradaban oleh orang yang terlahir putih dianggap memproduksi pengetahuan baru dan memberi nilai “positif” dan gagasan tentang kemajuan peradaban dari barat seolah-olah menjadi ciri modernitas yang digadang-gadang sebagai kebaikan seluruh umat.

2.Perspektif feminisme sebagai bagian dari wacana kolonial

Membaca Katrin, aku bersepakat bahwa feminisme yang diartikan sebagai perjuangan hak-hak perempuan tentu berkelindan dengan wacana kolonial.

Katrin Bandel sendiri menuliskan beberapa pemikir feminis. Salah satunya berasal dari India, Gayatri Chakravorty Spivak, dimana dalam pemikiran itu Spivak berefleksi sebagai perempuan India dan memposisikan dirinya sebagai orang non barat. Ia berkata bahwa perempuan yang hidup pada dunia ketiga masih diobyekkan. Mereka diobyekkan, seolah-olah bisa dipastikan suara mereka sendiri tidak dihiraukan, kalaupun dihiraukan, masih tidak diyakini mengandung kebenaran.

3. Akar permasalahan definisi perempuan

Katrin juga menuliskan pemikiran perempuan yang dituliskan oleh Chandra Talpade Mohanty. Tulisan Mohanty sering dijadikan rujukan utama arus pengutamaan gender.

Mohanty mengatakan ada kecenderungan yang mengkhawatirkan tentang penulis-penulis perempuan barat yang menuliskan perempuan dunia ketiga. Di samping itu penulis perempuan kelas menengah yang menuliskan perempuan kelas bawah pun cenderung juga mengkhawatirkan dan menimbulkan problematik tersendiri.

Mohanty juga mengkritisi sikap perempuan barat terhadap perempuan dunia ketiga lewat tanda penulisan “Perempuan” dengan huruf besar dengan “perempuan” dengan huruf kecil.

“Perempuan” dengan huruf besar diimajinasikan sebagai perempuan yang dominan, sedangkan “perempuan” dengan huruf kecil adalah perempuan sebagai individu.

Mohanty mengutarakan bahwa kaum perempuan barat mengimajinasi diri mereka sebagai kaum perempuan yang mandiri, tangguh, dan kuat, sedangkan perempuan dunia ketiga adalah “the other” atau diliyankan, yang bernasib malang dan sering harus ditolong. 

Lalu, dari dua temuan ini terdapat dua pemikiran feminis dengan diskursus tersendiri dan ada pertanyaan kerugian apa yang terjadi pada perempuan dunia ketiga yang diliyankan? Ini adalah pertanyaan mendasar.

Dalam tulisan Spivak dijelaskan, ada budaya Sati di kalangan agama hindu di India, ada tradisi dimana ketika seorang suami meninggal dunia, maka janda dari suami itu harus rela lompat membakar dirinya bersama kematian suaminya. Hal ini tentu saja ditentang oleh pemerintah kolonial, wacana negara penjajahan menganggap tindakan Sati ini sebagai tindakan tidak berperikemanusiaan.

Namun pendapat itu ditentang oleh masyarakat India sendiri. Masyarakat India menganggap ini sebagai pelestarian leluhur dan tradisi yang sering disimbolkan sebagai ketaatan dan kepatuhan perempuan sebagai istri.

Adanya diskursus ini membuat Spivak menggambarkan perempuan pribumi sebagai objek, maka seolah-olah mereka perlu pembelaan. Dan mengganggap pemikiran barat lebih adil gender ketimbang pemikiran timur.

Katrin  juga menulis pendapatnya tentang salah satu aksi Femen sebagai kasus yang lebih kontemporer. Kelompok Femen adalah kelompok aktivis feminis yang didirikan di Ukraina. Mereka sering tampil bertelanjang dada dan provokatif dalam aksinya disebabkan karena di dalam aksinya agama kerap kali dijadikan sebagai fokus. Menurut mereka agama adalah sebagai sumber penindasan utama dalam patriarki.

Salah satu dari aktivis Femen bernama Aminah Tyler melakukan protes dengan bertelanjang dada dan ia mempostingnya di sosial media, ia mendapat banyak kecaman.

Salah satu narasi tandingan adalah tagar #muslimahpride, yang dibuat oleh seorang perempuan muda bernama Zarah Sultana. Sultana berkata dalam postingannya, ia bangga menjadi seorang muslimah taat, ia tidak menginginkan liberalisasi dan tidak memberi tanggapan apresiasi terhadap pemikiran imperialisme barat. Artinya, apa yang dilakukan Aminah mendapat narasi atau perlakuan perlawanan dari Sultana dan terang-terangan ia menentang perbuatan vulgar Aminah yang dilakukan atas nama pemikiran perempuan.

Dari ketiga pendapat ini disimpulkan oleh Katrin Bandel bahwa dalam pemikiran feminisme sendiri ada pertentangan, bahkan pembelaan terhadap perempuan menimbulkan kemarahan terhadap perempuan sendiri. Mereka yang dibela kemudian juga mulai bersuara dengan lantang sendiri.

Diteruskan oleh definisi perempuan yang menjadi akar permasalahan. Tentu ini menjadi temuan yang menarik karena kata “perempuan” sering dikonstruksi secara performatif. Gender selalu bergerak dinamis, dan didukung oleh perkembangan budaya yang bergerak maju tentu merubah corak sosialnya. Hal yang sama juga berhubungan dengan hubungan laki-laki dengan sesama laki-laki dan perempuan dengan sesama perempuan.

Oleh karena itu, gerakan perempuan sendiri dipandang Katrin Bandel harus plural dan meninggalkan konsep lama yang ingin dilawan oleh persaudaraan perempuan sedunia saja. 

4.Dilema

Aku berpendapat, salah satu konsep yang digunakan terhadap patriarki adalah konsep gender order. Gender order bukan langsung ada begitu saja, namun terbentuk oleh histori budaya lokal dan global tertentu. Artinya budaya gender order melihat dimana posisi laki-laki dan perempuan itu berasal dari mana , termasuk dari etnisitas apa, apa sistem kepercayaannya dan hal ini dapat dipertukar perankan.

Berkaca dari hal hal yang sudah dituliskan Katrin Bandel, corak kehidupan perempuan sudah dibentuk oleh pemikiran pemikiran dari barat. Secara kebudayaan pun perempuan di seluruh  dunia mengaanggap budaya barat adalah acuan bagaimana mereka harus menjalani hidupnya sebagai perempuan.

Dalam ulasan ini juga disebut Katrin Bandel bagaimana cara menghadapi dilema-dilema pemikiran perempuan yang saling bertentangan tadi. Tentu saja dengan mengoreksi konsep gender.

Bagiku, jika mengoreksi konsep gender secara holistik dan universal diambil dari salah satu contoh kasus bagaimana mengoreksi pemikiran feminis barat dan non barat. .Kajian ini harus memakai pendekatan alternatif dan membuat kita berpikir ulang tentang konsep gender.

Artinya ini menyimpulkan bahwa konsep ketidakadilan gender bukan hanya disebabkan oleh budaya dan agama, melainkan ada faktor wacana kolonial di dalamnya.

(Foto: goodreads.com dan nusantaranews.co)

Jessica Ayudya Lesmana

Penulis Waria Autodidak dan Anggota Tim Cemeti

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email