“Die My Love” Cerita Perempuan Yang Alami Depresi Pasca Melahirkan

Penulis Argentina, Ariana Harwicz, menjadi satu dari sedikit penulis yang dengan baik dan berani menggambarkan psikologi seorang ibu pengidap Postpartum depression atau gangguan mental yang menyerang perempuan pasca melahirkan.

Ariana Harwicz, tak hanya menorehkan pengalaman si ibu dalam bentuk tulisan non-fiksi yang pendek, Ariana justru mengemasnya dalam bentuk sebuah novel panjang, yakni Die, My Love, yang menjadi debut perdananya sebagai novelis.

Novel ini berjudul asli Matate, Amor In yang kali pertama terbit di Spanyol (2012), lalu diterbitkan ulang oleh penerbit Marduce di Argentina (2017). Setahun kemudian, penerbit independen yang berbasis di kota Edinburgh, Skotlandia, bernama Charco Press, menerbitkan edisi terjemahannya ke dalam bahasa Inggris, yang laris manis dan menyabet sejumlah penghargaan serta masih dicetak sampai sekarang. Sejak itu, novel Ariana pun seolah menemukan pembaca globalnya. Mereka tidak saja dihadapkan dengan sebuah novel pendek biasa, tapi lebih dari itu, novel ini memiliki keunikan dalam cerita dan penyajiannya

Ariana membuka novelnya dengan sebuah kalimat yang mengetuk perhatian pembaca. Coba kita baca:

Aku berbaring di rerumputan di antara pepohonan tumbang dan cahaya matahari di telapak tanganku terasa seperti pisau yang bisa kugunakan untuk mengeringkan darah dengan satu sayatan cepat ke bagian leher.”

Itu adalah monolog dari tokoh utama novel ini, seorang ibu muda (tak disebutkan namanya) dengan satu anak, yang tinggal bersama suaminya di sebuah kota kecil di pedalaman Perancis. Rumah mereka, sebuah rumah yang sedang, berdiri di pinggir jalan dan dikelilingi pepohonan lebat, khas suasana pedalaman yang masih asri.

Hampir setiap waktu, suara burung-burung di sekitar mereka terdengar dan, menjadi sesuatu yang berperan dalam kisah ini.

Peran itu kentara dalam adegan-adegan ketika si ibu menanggapinya dengan beragam penerimaan yang dipengaruhi oleh ketidakstabilan sisi psikologisnya. Sesekali, suara itu terdengar seperti mengejek penderitaannya, tapi di lain waktu, suara itu seolah turut mengasihi dan mengerti betul tentang perasaannya. Sementara di kesempatan lain, suara itu bisa menyedotnya dalam delusi aneh yang menggerayangi kepalanya. Dari situ, pikiran-pikiran seperti pergi dari rumah dan meninggalkan keluarganya, sampai pikiran untuk mengakhiri hidup anaknya, kerap bertandang dan menguasai dirinya. Ia menderita kesepian, perasaan lelah, marah, dan kesal. Akan tetapi, ia bisa apa?

“Aku kehilangan kendali atas pikiranku. Aku seorang ibu, tanpa henti. Dan aku menyesalinya, tapi aku bahkan tidak bisa mengutarakannya,” katanya suatu hari, di saat  melihat anaknya rewel.

Penderitaannya itu hanya bisa ia simpan seorang diri. Di hadapan orang lain, bahkan suaminya, ia selalu mencoba tampak baik-baik saja. Sebisa mungkin ia menjadi sosok ibu yang kuat dan tegar. Namun, tidak dengan isi kepalanya yang secara “liar” digambarkan oleh Ariana. Keliaran itu menjelma dalam pikiran dan delusional yang dibenturkan satu sama lain, sehingga apa yang ada di novel ini kerap tampil samar: sebenarnya yang sedang terjadi, itu benar-benar terjadi atau hanya hidup di pikirannya saja?    

Akar dari itu semua jelas bahwa ia sedang menderita Postpartum depression dan sedang berusaha menyembuhkan dirinya sendiri sembari ia tampil sebagai seorang ibu dan istri. Oleh sebab itu, kesehariannya selain menjalani peran ibu dan istri, ia juga harus bergelut dengan dirinya sendiri. Dan di tengah-tengah usahanya itu, tak jarang keraguan menyergapnya,

“Bagaimana mungkin seorang perempuan lemah dan jahat sepertiku, seseorang yang memimpikan pisau di tangannya, menjadi ibu dan istri dari dua individu itu?”

Buat saya, ini sebuah novel yang menantang untuk diikuti. Dari konten atau isi, sudah jelas, apa yang Ariana kisahkan “mengganggu” pikiran sebab tokoh si ibu kerap melakukan sesuatu yang tak disangka.

Sementara itu, dari cara penuturan bahasa, walaupun novel ini cenderung pendek, tapi Ariana menuturkannya tanpa menggunakan dialog langsung, alias percakapannya melebur di dalam kalimatnya. Dan, ketika hal itu belum cukup, ia pun memadatkan ceritanya ke dalam bab-bab pendek yang hanya terdiri dari satu paragraf panjang (bisa sampai tiga halaman). Itu cara berkisah yang tak biasa, tentu saja, tapi karena itu pula sensasi yang dihadirkan sejalan dengan isi novel ini

Kendati begitu, novel ini memberikan hal penting. Mengakhiri kisah si ibu dengan akhir terbuka, Ariana agaknya mengajak pembaca untuk membebaskan beragam tafsir yang bakal terjadi. Tapi satu hal yang pasti, perjuangan si ibu belum berakhir.

Di tengah sergapan rasa sakitnya, ia tetap berjuang, dan perjuangannya bukanlah tampak seperti usaha untuk menjadi ibu yang “buruk”. Pengisahan mendalam dari sisi ini lantas menerbitkan sejumlah hal yang patut direnungkan, bahwa kita terkadang absen mengenali suara hati seorang ibu yang terpaksa ia pendam, sesuatu yang kerap tertutupi definisi “Ibu yang baik” dan bagaimana orang-orang mengharapkan semua ibu harus menjadi seperti itu, tanpa memikirkan kalau masing-masing dari mereka punya kapasitas dan rintangan yang mesti dihadapi.  

Buku ini membuka percakapan tentang isi hati ibu pasca melahirkan yang selama ini dianggap tak pernah penting, padahal apa yang terjadi pada ibu pasca melahirkan, selalu penuh kedalaman, emosi dan perjuangan yang harus kita dukung dan menjadi perhatian kita semua

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay dan goodreads.com)

Wahid Kurniawan

Penikmat buku, mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email