Masyarakat Indonesia dan Amerika Sambut Optimisme Ramadan di Tengah Pandemi

Umat Islam di banyak bagian dunia, termasuk di Amerika dan Indonesia, memasuki Ramadan. Walaupun masih pandemi, yang memaksa semua masjid ditutup pada Ramadan tahun lalu, warga Muslim di Amerika bersyukur masjid-masjid kini sudah bisa beroperasi kembali dan siap menggelar salat tarawih.

Nur Siswo Rahardjo adalah Muslim Indonesia yang aktif dalam kegiatan Ramadan di Islamic Society of Greater Chattanooga (ISGC), Tennessee. Ia mengatakan, “Dengan tetap mengikuti petunjuk CDC (Pusat Pengendalian Penyakit), social distancing, dan lain-lain. Kita buka masjid. Jadi, operasi seperti biasa dengan limited capacity (kapasitas terbatas). Highly reduced capacity.”

Sekitar 60 persen masjid dan organisasi Muslim di Amerika merujuk pada keputusan Fiqh Council of North America (FCNA) atau Dewan Fikih Amerika Utara, yang mendasarkan keputusan, menetapkan awal dan akhir Ramadan, pada metode hisab atau kalkulasi. Sebagian lainnya mengikuti keputusan Arab Saudi, yang membuat ketetapan berlandaskan hasil pengamatan posisi bulan.

ISGC mengikuti keputusan Arab Saudi dalam menentukan awal Ramadan. Sedangkan Komunitas Muslim Indonesia di kawasan Washington, DC, yang tergabung dalam IMAAM (Indonesian Muslim Association in America) adalah salah satu yang mengikuti keputusan FCNA.

Ramadan tahun ini datang sementara dunia masih bergulat dengan pandemi virus corona. Namun, dengan semakin banyak orang yang sudah divaksinasi dan mengerti cara meminimalisir penularan, masjid-masjid tahun ini percaya diri untuk membuka pintunya.

Masjid Imaam Center bahkan membuka tempat berwudu yang selama ini ditutup. Sedangkan ISGC tidak merasa perlu memeriksa suhu tubuh jemaah. Namun, keduanya sama-sama membatasi jumlah jemaah untuk tarawih maksimal 200, kurang dari 50 persen kapasitas normal.

Selain mematuhi petunjuk CDC, Imaam Center dan ISGC meminta jemaah mematuhi prokol kesehatan dan membawa sajadah sendiri demi mencegah bersentuhan langsung dengan karpet masjid. Imaam Center menyediakan kertas sebagai pengganti sajadah bagi yang tidak membawa. Sedangkan ISGC menutupi karpet dengan plastik, seperti disampaikan Nur, yang tahun ini kembali menjadi panitia kegiatan program Ramadan.

“Ditutup plastik yang tebal. Jadi, secara periodik ada volunteer, brother yang mengepelnya dengan disinfektan. Setiap hari itu. Mungkin sebelum Subuh. Jadi, mudah-mudahan tetap amanlah,” tambah Nur.

Tetapi, baik Imaam Center maupun ISGC tahun ini sama-sama belum siap mengadakan acara berbuka puasa bersama. Mereka hanya menyediakan kurma dan minum. Itupun tidak untuk dikonsumsi di dalam, melainkan di luar masjid.

Iftar tidak ada. Potluck juga tidak ada. Buka puasa di masjid tidak ada. Masih kita agak strict di situ. Walaupun masjid dibuka, kita tidak mengadakan buka puasa bersama.”

Nur mengaku merasa kehilangan dengan tidak adanya buka puasa bersama karena di situ ada kemeriahan dan kebersamaan. Namun, ia mengajak Muslim tetap memakmurkan masjid dengan salat lima waktu, tarawih, berpartisipasi dalam berbagai kegiatan dan, yang penting, katanya, bersyukur karena masjid kini dibuka kembali.

Tahun ini sebagian masjid di Amerika memang sudah mulai menggelar beberapa kegiatan dengan protokol kesehatan yang sangat ketat, termasuk di masjid komunitas Indonesia, IMAAM Center di negara bagian Maryland, Amerika

Berbeda dari tahun lalu di mana hampir seluruh kegiatan terkait Ramadan di masjid-masjid Amerika dihentikan, tahun ini sebagian kegiatan tersebut sudah bisa dilakukan kembali dengan menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat.

Sempat tutup total untuk mencegah penyebaran virus corona, masjid komunitas Muslim Indonesia, IMAAM (Indonesian Muslim Association in America) Center yang terletak di kota Silver Spring, Maryland, tahun ini kembali dibuka bagi jemaah yang ingin melaksanakan salat 5 waktu dan tarawih.

“Tahun kemarin karena kita full di rumah, jadi habis Subuh itu kita habiskan (mengaji) satu juz ramai-ramai (bersama keluarga). Ada yang ngantuk-ngantuk, bercanda, biasalah anak-anak,” ujar Ustadz Fahmi Zubir Zakaria, Imam dari masjid IMAAM Center kepada VOA belum lama ini.

Walau kegiatan di masjid yang berdiri sejak tahun 2014 ini belum berlangsung penuh, Ustadz Fahmi kini lebih banyak meluangkan waktunya di masjid. Tradisi mengaji bersama anak-anaknya ia lakukan menjelang Magrib.

“Karena kalau itu tidak kita buat, nanti anak-anak kehilangan kebiasaan, ya. Kita ingin membiasakan meskipun anak-anak setiap Ramadan (maksudnya di luar Ramadan ya) juga baca quran,” ujar Ustadz Fahmi.

Tahun ini Hasanudin, yang tinggal di kota Rockville, Maryland, ditunjuk menjadi koordinator panitia salat tarawih di masjid IMAAM Center.

Salah satu persiapan yang dilakukannya adalah merekrut sukarelawan, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari negara lain. Mereka diharapkan dapat membantu kelancaran berbagai kegiatan di masjid komunitas muslim Indonesia ini. Jumlah sukarelawan yang mendaftar bisa mencapai sekitar 20 orang.

“Kebetulan tadi saya dapat volunteer baru. Kalau enggak salah dari Ethiopia. Dia (mau) ikut berpartisipasi. Jadi, kita terima,” kata Hasanudin yang tahun ini menjalankan puasa tahun keduanya di AS.

Dalam Ramadan kali ini IMAAM Center akan menggelar berbagai kegiatan, antara lain tadarus Alquran, lomba menghafal Juz Amma, dan sesi bercerita kisah nabi untuk anak-anak dan remaja.

Sama seperti umat Islam lainnya, tahun ini adalah tahun ke-2 berpuasa pada masa pandemi COVID-19 bagi Asma, mahasiswi di Montgomerry College, Maryland. Menurutnya, menjalankan puasa sebelum pandemi di Amerika “justru lebih banyak tantangan.”

“Karena kita kan lebih banyak sama teman-teman. Tapi pas ada pandemi, justru kayak lebih enggak kerasa gitu,” kata Asma kepada VOA.

Bagi Asma, persiapan puasa tahun ini tidak akan jauh berbeda jika dibandingkan tahun lalu, mengingat berbagai kegiatan kuliah masih bisa dilakukan secara virtual dari rumah.

Menurut Islamic Society of North America, payung organisasi Muslim di AS, Ramadan di AS dimulai pada 12 April. Itu artinya warga Muslim di sini mulai menjalankan puasa pada 13 April 2021. 

 “We need to get the best out of it. Dari segala keterbatasan ini, kita nikmati sajalah. Kita syukuri,” pungkasnya. [ka/uh/ii]

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

(Sumber: Voice of America/ VOA)

Karlina Amkas

Jurnalis Voice of America (VOA)

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email