Mengurus Seorang Nenek Sampai Meninggal di Pangkuan, Itu Pekerjaan Pertama Saya Sebagai PRT

Mengurus seorang nenek sampai meninggal di pangkuan saya. Itu adalah pekerjaan pertama saya ketika menjadi Pekerja Rumah Tangga (PRT).

Saat itu tahun 1992. Saya bertugas mengurus seorang nenek. Pekerjaan saya, setiap minggu saya mengantarkan nenek ke dokter langganannya untuk diperiksa. Majikan saya orang Tionghoa. Ia baik dan sering  tertawa jika mendengar saya berbicara. Maklum, waktu itu saya belum begitu fasih berbicara bahasa Indonesia. Cara saya ngomong seperti baca koran, katanya. 

Kalau diingat-ingat, saya juga jadi sering tertawa sendiri. Pernah suatu ketika, saya diminta belanja ke pasar. Majikan saya hanya memberitahu arah pasar itu. Saat selesai belanja, saya jadi tersasar dan harus bertanya alamat yang saya tuju ke orang yang lewat. Untung saja, saya sampai juga di rumah majikan. 

Itu adalah cerita-cerita menggelikan ketika saya pertamakali bekerja. Saya belajar mengurus seorang nenek, menghapal tempat, belajar menggunakan bahasa Indonesia

Hari-hari terus berlalu. Tak terasa setahun saya bekerja di tempat majikan saya tersebut. Waktu mendekati lebaran, saya pulang ke kampung. Hampir 2 minggu saya menikmati suasana kampung. Setelah itu, saya kembali lagi ke Jakarta dan bekerja dengan majikan yang sama.

Seperti biasa, satu kali setiap minggunya, saya mengantar nenek majikan ke dokter untuk memeriksakan kesehatannya. Suatu hari, saat jadwalnya ke dokter, saya membangunkan nenek untuk bersiap-siap pergi. Namun, dia tidak mau. Saya sudah mencoba merayunya tapi dia tetap menolak, malah berkata kalau ia ingin pergi ke rumah anaknya di Kelapa Gading saja.

Saya pun segera pergi ke tempat telpon umum dan bilang ke anaknya untuk dijemput. Ia pun segera dijemput oleh anaknya tersebut.

Keesokan paginya, badan nenek panas. Semua anaknya mengusulkan agar segera membawa nenek ke rumah sakit, tapi nenek bersikeras tidak mau. Ia bilang kalau ia ingin tidur.

Pada hari ketiga, pagi-pagi nenek minta digendong ke toilet karena katanya ia sangat lemas. Begitu selesai dari toilet, dia minta digendong ke sofa. Setelah duduk di sofa, tiba-tiba napasnya tidak terkendali. Ia ngos-ngosan. Sambil memangku kepala nenek, saya pun berteriak memanggil anaknya. Sepuluh menit kemudian, ia meninggal di pangkuan saya. Pecahlah tangis seluruh keluarga. Saya menangis, terlebih saat mengingat kebaikan nenek pada saya. Ia tidak pernah marah. Ia selalu membagi makanan yang dibelikan anaknya pada saya. 

Setelah nenek meninggal, majikan bilang ke saya untuk tetap bekerja padanya. Namun, saya hanya bertahan selama 1 tahun karena anaknya yang paling kecil suka memukul saat bermain bersama saya. 

Setelah menganggur, saudara saya yang saat itu bekerja dengan orang Jepang, memberi info kalau ada orang Korea yang mencari PRT. Saya pun bekerja dengan orang Korea tersebut, bertugas momong anak dan membantu masak. Darinya saya mendapat banyak teman, belajar masak masakan Korea. Setelah 2 tahun, saya pun keluar. 

Selanjutnya, saya bekerja di mess sebuah pabrik di Cileungsi. Saya bekerja untuk bersih-bersih dan membantu koki memasak di dapur. Di mess tersebut, ada 9 orang Korea yang tinggal. Di sana, saya bertahan selama 2 tahun.

Tahun 2001, saya sempat bekerja dengan orang Jawa tetapi hanya selama 1 tahun. Saya selanjutnya kembali bekerja dengan orang Korea di Bekasi selama 2 tahun. Kemudian, ada tawaran bekerja dengan orang Jepang di sebuah apartemen di Jakarta. Setelah kontrak saya habis, saya melanjutkan ke keluarga Jepang lainnya. Namun, saya tidak betah. Saya suka dimarah-marahi dan dituduh yang bukan-bukan. Akhirnya, saya pun memutuskan keluar.

Saya sempat bekerja dengan orang Indonesia yang memiliki suami orang asing. Ia punya rumah di Karawaci, Tangerang. Saya diminta untuk menunggu rumah yang mau dijual. Saat itu, saya juga disuruh menghapal segala jenis batu bahan bangunan keramik, marmer, luas tanah, luas bangunan, dan lainnya. Pokoknya, saya jadi marketing dadakan. Setiap ada tamu, saya dengan fasih mempromosikan rumah tersebut. Setelah 6 bulan, saya dipindahkan ke keluarga adiknya di Jakarta. Tiga bulan kemudian, saya keluar karena majikan kembali ke Amerika.

Pengalaman yang sulit saya lupakan yaitu ketika bekerja dengan orang Amerika yang beristrikan orang Indonesia. Mereka tinggal di Kemang, Jakarta. Hanya selama 6 bulan di Kemang, saya diajak ikut ke Kalimantan Timur, tepatnya di Balikpapan. Namun, saya disuruh kembali ke kampung dulu. Di situlah pertama kali saya naik pesawat sendiri. 

Setelah tinggal di Balikpapan, majikan saya tersebut ternyata berbeda sekali dengan ketika tinggal di Jakarta. Keluarganya sering bertengkar, dan saya pun selalu jadi kambing hitam. Namun, jika mereka baikan, saya diajak jalan-jalan, makan, belanja pakaian sampai satu troli penuh milik saya. Ketika kontrak habis, saya memilih keluar. 

Saya pun bekerja lagi dengan orang Jepang. Kata teman-teman lain, ia orangnya cerewet sekali, tetapi sama saya ia justru sangat baik. Jika orangtuanya datang ke Indonesia, saya diajak ke Puncak, Sukabumi, dan diminta membantu merawat orangtuanya yang sudah jompo.

Saya selalu menyelesaikan kontrak dengan majikan-majikan saya. Saya pun terus menambah pengalaman dengan berpindah-pindah tempat pekerjaan.

Sampai saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia di tahun 2020, saya kemudian kehilangan pekerjaan karena pandemi ini. Sudah 9 bulan saya menganggur dan tidak tahu sampai kapan saya bisa kembali mendapat pekerjaan.

Saat ini saya di rumah saja sambil membuat kue-kue yang kemudian saya jual, ini lumayan untuk membuat saya agar tetap melanjutkan hidup di Jakarta. Kue-kue itu saya sebarkan ke media sosial dan lewat handphone ke teman-teman.

Saya hanya bisa berharap untuk kembali bekerja.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

“KEDIP atau Konde Literasi Digital Perempuan”, merupakan program untuk mengajak perempuan dan kelompok minoritas menuangkan gagasan melalui pendidikan literasi digital dan tulisan. Tulisan para Pekerja Rumah Tangga (PRT) merupakan kerjasama www.Konde.co dengan Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT)

Poni Tiara

Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang single parent, aktif di Sekolah Pekerja Rumah Tangga (SPRT) Sapulidi di Jakarta

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email