Multitasking Perempuan Itu Cuma Mitos Karena Langgengkan Beban Ganda Perempuan

Jika ada yang percaya bahwa perempuan itu multitasking atau bisa mengerjakan apa saja, sedangkan laki-laki tidak, itu cuma mitos. Karena label multitasking pada perempuan itu hanya akan membuat perempuan tereksploitase dan punya beban ganda

Ada seorang perempuan yang bekerja di salah satu stasiun televisi. Saat pewawancara menanyakan apakah dia punya pekerja rumah tangga atau tidak? dia tersenyum lalu mengatakan “tidak.”

Dia memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, merawat anak, memenuhi kebutuhan suami dengan seorang diri tanpa bantuan orang lain. Kemudian media membingkainya sebagai karakter perempuan luar biasa, mandiri, bertanggung jawab, dan tetap menjalankan perannya sebagai perempuan. 

“Anda luar biasa, mandiri, wanita karir dan tetap menjalankan peran Anda sebagai perempuan.”

Sudah lama, standar kesempurnaan perempuan yang serba multitasking seperti itu selalu mengokohkan perempuan sebagai perempuan hebat. Padahal pernyataan multitasking perempuan itu justru sedang mengeksploitase perempuan, karena perempuan harus melakukan apa saja, lalu baru disebut sebagai perempuan hebat

Namun jika ia sukses di pekerjaannya dan ia tak mengerjakan pekerjaan domestik juga, maka ia tak dianggap sebagai pekerja yang berhasil dan luar biasa

Cerita lainnya mirip dengan kisah di atas. Tanggal 03 Maret 2021, TED di channel youtube-nya juga mengunggah pengalaman seorang perempuan ibu rumah tangga yang bekerja sebagai CEO di sebuah perusahaan. Hamil adalah pilihannya, bekerja pun demikian, dan dia menjalani kedua fungsi itu secara bersamaan.

Ketika jadwal di mana dia dan tim meluncurkan produk baru, kehamilannya sedang berada di ujung persalinan. Dia menyembunyikan kesakitannya di atas panggung demi bekerja secara profesional. Bukan hanya sekali itu saja, dulu dia juga pernah alami keguguran, mengalami pendarahan di toilet perusahaan dan kembali ke meja kerja seolah tidak terjadi apa-apa.

Belakangan dia menyadari bahwa profesionalisme yang dia definisikan sendiri itu telah mengakibatkan kerugian pada keperempuanannya. Menyembunyikan kesakitan akibat keguguran di toilet perusahaan atau menjelang persalinan saat peluncuran produk baru bukanlah profesionalisme.

Dari pengalaman yang dia jalani sebagai perempuan bekerja, dia harus mengakui bahwa ada momen di mana dia harus menerima kelemahan fisiknya. Sebagai ganti, dia meminta bantuan orang lain dan mempercayainya jika momen itu tiba. Dia menyatakan bahwa kepemimpinannya semakin baik setelah proses penerimaan itu.  

Tentu ini diakibatkan karena mitos yang selalu disematkan pada perempuan, bahwa perempuan harus bisa apa saja, harus multitasking. Padahal kesempurnaan seperti ini cuma mitos dan membuat perempuan jadi tereksploitase hidupnya

Konstruksi sosial memberinya peran wajib tanpa mempertimbangkan pilihannya sebagai individu merdeka. Sayangnya, media yang seharusnya berperan membuka kerangka berpikir yang jauh lebih luas mengenai ‘peran perempuan’ malah ikut mengawetkan definisi multitasking yang melenceng.

Padahal multitasking ini  bukan kodrat. Kodrat lagi-lagi selalu dikaitkan dengan urusan memasak, mencuci, membersihkan rumah, padahal ayah rumah tangga pun bisa melakukannya. Memiliki penis itu kodrat, tapi melakukan pekerjaan domestik itu pilihan berbasis kesadaran tanpa perlu melihat fungsi dan sistem dari penis. Artinya peran yang bisa ditukar, bukan disebut kodrat.

Selain itu, berita tentang hebatnya publik figur yang multitasking yang menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga di tengah kesibukannya yang bisa dijadwal itu kemudian ikut menormalisasi beban ganda perempuan.

Sebagaimana laki-laki, perempuan juga tidak bisa melakukan kegiatan secara bersamaan. Multitasking yang konon lahir sebagai bakat alami perempuan hanyalah sebuah mitos yang muncul lantaran perempuan dituntut untuk mengerjakan peran domestik seorang diri atau menjadi pahlawan untuk suami dan anaknya. Baik pada perempuan atau laki-laki, kerja otak tidak bisa mengatur dua hal secara bersamaan, otak hanya bisa mengalihkan dari pekerjaan satu ke pekerjaan lain.

Berbagai penelitian telah menyatakan bahwa pengalihan pekerjaan yang terlalu cepat itu berdampak negatif pada kesehatan mental perempuan, terutama ibu. Perempuan bisa saja merasa gagal lalu membenci dirinya sendiri. Padahal lingkungan sosial dan media yang mengawetkan standar kuno atau menciptakan standar baru itu. Setiap perempuan sebagai individu punya kepentingan dan kebutuhan yang berbeda-beda

Jadi, percaya ya bahwa multitasking itu hanya mitos dan tak boleh dipercaya!

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Mega Haruna

Pustakawan yang aktif menulis tentang isu perempuan, dan baru saja merampungkan pendidikan magister di peminatan Kesehatan Reproduksi Universitas Hasanuddin, Makassar

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email