Pakaian Terbuka Rawan Cat Calling? Yang Salah Matamu, Bukan Tubuhku

Banyak ujaran yang menyatakan bahwa perempuan itu dilecehkan karena memakai baju terbuka atau berdandan seronok. Padahal yang benar adalah: pelecehan itu terjadi karena yang salah matamu, bukan tubuhku!

Mungkin kamu sudah sering dengar kalimat ini:

”Kamu digoda di jalanan, itu karena kamu pakai baju terbuka.”

“Kamu digoda di jalanan, itu karena make-up mu seronok.”

Ini adalah cat calling. Cat calling tentu saja bukan panggilan kucing, tapi cat calling itu merupakan salah satu perbuatan negatif seseorang yang biasanya dilakukan dalam penggunaan kata-kata (verbal) tidak senonoh yang diujarkan pada orang lain.

Bukan hanya secara verbal saja, non verbal juga sering dilakukan. Yang verbal dan non verbal itu bisa berupa siulan dan lirikan mata juga bisa di sebut cat calling. Sasaran yang paling sering terkena dampaknya yaitu para perempuan.

Loh kenapa perempuan? Biasanya oknumnya adalah laki-laki jahil yang mengutarakan kata-kata negatif kepada perempuan, ada perempuan yang mungkin menggunakan pakaian terbuka, perempuan berdandan, atau apa saja yang dikenakan perempuan. Sebagai contoh, perempuan memakai rok mini lewat lalu ada segerombolan laki-laki bersiul piwit:

“Aduh neng cantik mau kemana mau abang anterin gak?”

“Wih mulus, tuh.”

Ujaran seperti itulah yang disebut cat calling. Seiring berjalannya waktu, desain pakaian semakin lama terus berubah dan bergerak cepat. Dulu, celana jeans dibuat selayaknya orang kenakan tertutup, panjang. Namun, saat ini trend fashion mulai bergerak cepat dengan mengubah desain, ada robeknya disebut ripped jeans, lalu ukuran awalnya panjang berkembang ada ukuran pendek seatas dengkul disebut hot pants.

Lantas apakah pakaian terbuka itu mencirikan orang itu harus dilecehkan, “hai cewek seksi banget.”

“Semalam berapa?.”

Bahkan dengan siulan saja bisa membuat hati perempuan merasakan jengkel. Selain itu, celotehan atau cat calling seperti itulah yang bisa menimbulkan adanya insecure pada diri seorang perempuan

Jaringan Muda Setara pernah mendata soal pelecehan yang terjadi pada Mahasiswi Baru/ Maba. Biasanya cat calling ini banyak terjadi pada perempuan ketika di jalan atau bahkan di komunitas yang kita kenal, salah satunya di kelompok-kelompok mahasiswi. Jadi bukan karena baju yang dikenakan perempuan, namun pelakulah yang selalu mencari-cari obyek untuk dilecehkan

Ketika kita pertama kuliah misalnya, para senior mahasiswa menandai Mahasiswi Baru (Maba) yang dianggap cantik. Mereka lalu mendata atau mencari kontak personal mereka, menghubungi dengan khusus dan intens dan melakukan chat personal dan sering memberikan ungkapan seperti ini:

“Penampilan kamu cakep banget, kamu harus jadi maskot angkatan.”

“Mau dibantuin? cium pipi kakak dulu dong.”

“Jangan melawan sama senior, nanti kamu saya buat sulit kuliah disini.”

Selain melecehkan, ini juga menandakan adanya ancaman dari senior dan permintaan-permintaan pada perempuan mahasiswa baru yang diluar kesepakatan. Pelecehan lain juga dilakukan seperti ini untuk motif mencari pacar dan Maba perempuan dijadikan sebagai ajang taruhan: 

“Wah, Maba yang ini liat deh, bagus banget bodynya, ayo kita buktikan siapa yang bisa dapetin dia?.”

Jaringan Muda Setara mengidentifikasi, ini menunjukkan pentingnya pendidikan pengetahuan tentang pelecehan seksual agar perempuan tidak terjebak dalam situasi pelecehan. Pendidikan ini sangat penting karena banyak perempuan yang pernah mengalami pelecehan seksual dan tidak berani mengatakannya atau melaporkan apa yang dialaminya. Beberapa yang lain ada juga yang tidak mengetahui atau tidak mengerti kalau dia sudah mengalami pelecehan seksual.

Pelecehan seksual itu merupakan perilaku seksual yang diinginkan laki-laki terhadap perempuan, ini yang harus kamu tahu. Feminis, Katherine MacKinnon mendeskripsikan masalah ini dalam bentuk relasi kuasa dan menyimbolkan bagaimana laki-laki menyimbolkan perempuan sebagai obyek. Feminisme kontemporer memperkenalkan pelecehan seksual sebagai tindakan nyata yang banyak mengorbankan perempuan, perempuan bisa dilecehkan di lingkungan rumah, di sekolah, di kampus dengan segala persepsi tentang perempuan yang memaksa dan terus-menerus diyakini.

Seperti ujaran yang menyatakan bahwa perempuan dilecehkan karena memakai baju terbuka. Padahal yang benar adalah: yang salah itu matamu, bukan tubuhku!

Dengan begitu, coba yuk buat cowok-cowok, untuk mengubah pola pikir seperti itu dan stop ucapan-ucapan negatif  yang melecehkan.

Dan Untuk para ladies, inilah saatnya bicara dan melawan pelecehan seksual. Ini saatnya bagi perempuan untuk berani mengatakan tidak pada segala bentuk pelecehan seksual seperti cat calling, siulan, godaan yang mengarah seksual, serta berani melawannya dengan melaporkan pelecehan seksual. Jangan biarkan diri kita dan orang lain menjadi korban

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Nindi Anggita Febriani

Mahasiswi Universitas Pembangunan Jaya, Tangerang Selatan

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email