Riset: Salah Satu Alasan Perempuan Menjadi Teroris Karena Pengaruh Suami

Dua serangan teroris yang baru terjadi di Jakarta dan Makassar, Sulawesi Selatan melibatkan aktor perempuan. Fakta ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan masyarakat: mengapa perempuan memilih menjadi teroris?

Keterlibatan perempuan dalam kelompok ekstremis kekerasan bukanlah hal baru. Sejumlah kelompok ekstremis kekerasan seperti Macan Tamil di Sri Lanka dan Hamas di Palestina telah melibatkan kaum perempuan sebagai martir dalam aksi serangan bom bunuh diri.

Penelitian menjelaskan para teroris melakukan aksinya untuk menunjukkan betapa pentingnya keberadaan mereka dalam perjuangan yang dilakukan oleh kelompoknya. Mereka menganggap bahwa mereka menjadi penting dan berarti setelah mengorbankan diri mereka dalam aksi radikal.

Namun, pada teroris perempuan, motif mereka bersifat sangat personal.

Penelitian yang saya lakukan sejak 2017 menunjukkan bahwa pengaruh relasi dengan orang-orang terdekat yang signifikan, lebih khusus lagi suami, bisa mendorong seorang perempuan untuk menjadi teroris.

Hubungan relasi

Pada 2017, saya mewawancarai Dian Yulia Novita, perempuan yang ditangkap polisi karena dituduh terlibat dalam rencana pengeboman Istana Negara di Jakarta, Ika Puspitasari, calon pelaku bom bunuh diri yang disiapkan beraksi di luar Jawa pada 2016, dan Anggi Indah Kusuma yang pernah merencanakan pengeboman di Jakarta dan Bandung, Jawa Barat, pada 2017.

Ketiga perempuan ini adalah tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri yang harus berpisah dengan orang-orang terdekat mereka termasuk orang tua.

Sejak lulus SMP, Dian telah pergi meninggalkan kampung halamannya di Cirebon, Jawa Barat, dan bekerja di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Sejak saat itu Dian menjadi tulang punggung keluarga.

Selama menjadi TKW, Dian mengalami berbagai pembatasan sosial, dan lebih banyak menghabiskan waktunya pada masa muda untuk bekerja.

Hingga pada usia 28 tahun, Dian ingin memperdalam ilmu agamanya dengan tujuan untuk memperbaiki diri, yang akhirnya membawa dirinya berkenalan dengan ideologi ISIS.

Dian berasal dari keluarga yang minim pemahaman agamanya. Menurut dia, orang tuanya masih percaya pada hal-hal yang berbau syirik. Dian bercerita kalau orang tuanya masih percaya dukun. Hal ini sempat membuatnya gundah, hingga ia menghindari keluarganya yang semula hubungan mereka sangat dekat. Ia khawatir goyah jika masih terus berhubungan dekat dengan orang tuanya. Ia ingin mempertahankan keyakinan agamanya sampai akhir hidupnya.

Pengalaman yang mirip juga dialami oleh Ika dan Anggi, mantan TKW dari Hong Kong.

Peran suami yang juga merupakan anggota jaringan, sangat kuat dalam mempengaruhi keputusan mereka untuk mendukung ideologi terorisme.

Suami Dian, M Nur Solihin, adalah pendukung ISIS. Dian dan suaminya berkomunikasi dan menerima uang untuk pendanaan aksi bom bunuh diri dari Bahrun Naim, salah seorang pimpinan ISIS Indonesia yang diketahui berada di Suriah.

Kisah seperti Dian terjadi juga pada Ika. Ika juga menikah dengan anggota kelompok pendukung ISIS secara online. Hingga ia ditahan oleh Densus, Ika belum pernah sekalipun bertemu dengan suaminya secara langsung.

Sementara Anggi yang selama menjadi TKW aktif menyebarkan propaganda ISIS di media sosial yang menyebabkan ia dideportasi pada akhir 2016. Pada 2017, Anggi ditangkap kembali oleh Densus karena merencanakan aksi bom di Jakarta dan Bandung bersama suaminya Adilatul Rahman.

Pengaruh orang terdekat

Mengapa hubungan dengan orang terdekat bisa mendorong seorang perempuan masuk ke lorong radikalisasi?

Dibandingkan dengan laki-laki, perempuan lebih memandang penting relasi. Bagi perempuan, penghargaan terhadap dirinya seringkali bersumber dari orang-orang di sekitarnya, salah satunya suami.

Dalam perkembangan identitas dirinya, peran pasangan bagi perempuan sangat penting. Ahli Psikologi dari New York University, Amerika Serikat, Carol Gilligan menjelaskan bahwa bahwa pembentukan identitas diri perempuan tidak dapat dipisahkan dengan laki-laki. Menurut dia, seorang perempuan cenderung terus mengalami krisis identitas sampai ia menemukan pasangan.

Hal ini menjelaskan mengapa kelompok perempuan banyak direkrut melalui jalur perkawinan. Karena pasangan adalah figur signifikan yang berperan tidak hanya memenuhi identitas diri dan kebermaknaannya sekaligus, pasangan laki-laki juga dapat berperan sebagai figur otoritas yang memberikan justifikasi ideologi untuk memenuhi kebutuhan kepastian.

Konteks Indonesia sebagai bangsa yang menganut budaya kolektif juga turut berpengaruh. Studi yang dilakukan penulis pada sel teroris di Indonesia menunjukkan bahwa relasi atas dasar kepercayaan, baik pertemanan maupun persaudaraan, memainkan peranan penting dalam jejaring sel teroris.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Mirra Noor Milla

Associate professor at Faculty of Psychology, Universitas Indonesia

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email